
Selamat membaca!
Amita sudah memanggil kembali seorang room boy yang tadi mengantar Raymond. Room boy itu langsung memapah tubuh Raymond dan memindahkannya ke atas ranjang. Setelah selesai dengan tugasnya, Amita mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyodorkannya kepada room boy tersebut.
"Makasih ya Nona, kalau begitu saya permisi."
Setelah room boy itu pergi keluar dari kamar, Amita mulai menjalankan semua rencananya. Ia dengan cepat membuka satu persatu kancing kemeja Raymond, hingga kini tubuh Raymond bertelanjang dada.
"Wow, dada yang bidang dengan bulu yang seksi, tapi sayang kamu sudah beristri, jika belum bisa saja aku pertimbangkan kau untuk jadi suamiku," seloroh Amita berandai-andai.
Amita kemudian menutupi tubuh Raymond dengan selimut, setelah semuanya selesai ia pun ikut masuk ke dalam selimut dan mulai mengambil beberapa foto dengan ponsel yang sudah digenggamnya.
"Sudah cukup, setelah ini aku kirim kepada Alice."
Amita tanpa ragu mengirimkan foto yang telah diambilnya kepada Alice, dengan tersenyum licik ia mulai merayakan kemenangan telaknya terhadap Raymond.
"Kau salah Ray, jika kau menganggap aku bisa dengan mudah kau kalahkan begitu saja, sekarang lihat dan hadapi kehancuran rumah tanggamu."
Amita terlihat mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup, setelah rapi ia kemudian melangkah pergi dan meninggalkan tubuh Raymond yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang.
πππ
Alice sudah berada di dalam mobil kecil, mobil yang sama seperti yang dinaiki oleh Greta sewaktu menyelamatkan Richard.
"Sekarang aku sudah siap untuk pergi dari rumah ini, Mommy akan membawamu jauh dari kota London ya Nak," ucap Alice sambil mengusap perutnya, mencoba berkomunikasi dengan kedua anak dalam kandungannya.
Saat Alice akan menginjak gas mobilnya, tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi. Alice akhirnya menunda kepergiannya dan lebih memilih untuk mengambil ponselnya terlebih dahulu dari dalam tasnya. Alice membuka sebuah pesan WhatsApp yang masuk.
"Foto apa ini?" tanya Alice heran.
Alice menekan foto tersebut, lalu proses unduh berjalan, hingga foto mulai terlihat jelas di layar ponselnya, foto yang menunjukkan suaminya sedang bermesraan dengan Amita. Seketika air mata tak mampu terbendung lagi, hingga jatuh berlinangan tanpa dapat tertahan, Alice menangis dengan terisak meratapi semua yang dilihatnya. Ia semakin yakin dengan semua keputusannya untuk pergi dan memilih perceraian sebagai jalan terbaik dari pernikahannya dengan Raymond.
"Sudah cukup aku melihat hal-hal seperti ini, aku tidak mau terluka lagi, aku ingin bahagia bersama anak-anakku," tutur Alice sambil menyeka air mata di kedua pipinya.
__ADS_1
Alice kemudian melempar ponselnya ke arah sembarang, ia lalu mulai menjalankan mobil dengan perlahan, menyusuri jalan rahasia yang kini menjadi jalan pelariannya untuk pergi dari rumah kediaman keluarga Weil.
πππ
2 jam kemudian.
Masih di apartemen Amita, Raymond terlihat mulai bergeming dan mengerjapkan mata dengan perlahan.
"Sial, kepalaku sakit," ucap Raymond sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
Raymond bangkit dengan perlahan dari posisi tidurnya. Ia kini sudah duduk di tepi ranjang memegangi tubuhnya yang kini sudah tidak dilengkapi dengan kemejanya.
"Kenapa aku tidak berpakaian?"
Otak besar Raymond kembali mengingat kejadian dulu saat dirinya dijebak oleh Greta, sampai akhirnya Greta mengambil alih kekuasaan MANGO Corporate dari tangannya.
Wajah Raymond kini mengeras, ia teringat sebelum tak sadarkan diri, telah meminum sesuatu dari botol minuman yang tersedia di atas meja. Setelah mengingat semua itu, Raymond menjadi sadar bahwa ini memang rencana Amita.
"Sial kau Amita, ini semua pasti ulahmu."
"Brengs*k kau Amita, kau menjebakku, lantas untuk apa semua foto-foto itu?" gumam Raymond semakin memutar otaknya untuk berpikir maksud tujuan Amita melakukan semua ini.
Saat Raymond hendak keluar dari apartemen, ia menemukan secarik kertas yang berada di atas sebuah nakas. Raymond mendekati nakas tersebut, lalu mengambil kertas tersebut.
"Jika kau mau rumah tanggamu kembali, 500M transfer ke rekeningku dan aku juga rela melepas restoranku untukmu."
Raymond mulai mencerna setiap kata perkata yang terdapat dari tulisan yang ada di kertas yang saat ini masih berada dalam genggamannya. Seketika Raymond teringat sikap Alice yang turun dengan cepat dari mobil, hal yang tidak biasa dilakukan oleh Alice sekalipun dia sedang marah terhadap Raymond.
"Sial, pasti sudah sejak di kantor polisi, Amita berkomunikasi dengan Alice," ucap Raymond menyadari, terlihat raut yang gusar benar-benar nyata terlukis di wajahnya.
Raymond langsung mengambil ponsel pada saku celananya, ia kemudian mulai menghubungi Alice. Namun berkali-kali ia sudah coba untuk menghubungi, hasilnya tetap sama, Alice menolak sambungan teleponnya.
"Sial, pasti sweety sudah sangat marah kepadaku," geram Raymond sambil memukulkan tangannya dengan keras ke arah dinding berkali-kali.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Raymond keluar dari apartemen dan menutup kembali pintu apartemen dengan keras.
Raymond mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam lift yang kebetulan memang sudah terbuka. Setelah tiba di lantai dasar, tanpa membuang waktu ia melangkah menuju lobi untuk menuju mobilnya. Albert sudah terlihat stand by di dekat mobil, begitu melihat Raymond mendekat, ia langsung membukakan pintu mobil untuk Raymond masuk, setelah itu Albert bergegas kembali ke kursi kemudinya.
"Cepat Albert, kita pulang ke rumah."
Albert tanpa banyak bertanya langsung menginjak gas mobilnya dalam-dalam, mobil dengan silinder besar pada mesin mobilnya itu pun melaju dengan cepat, meninggalkan parkiran apartemen. Albert melihat raut yang sangat kacau dari wajah Raymond dari kaca tengah mobilnya, hal yang mengingatkannya sewaktu Alice tidak ditemukan di Desa Bibury. Albert sebenarnya ingin bertanya namun ia menahan dirinya sampai Raymond sendirilah yang bercerita padanya, namun tak berapa lama, pucuk dicinta ulam pun tiba, Raymond akhirnya mulai membuka suaranya dan menceritakan apa yang menimpanya kepada Albert.
Albert tercengang bukan kepalang.
"Saya akan bantu Tuan, untuk menjelaskan kepada Nona Alice, Tuan tidak usah cemas, Nona Alice pasti percaya sama saya, apalagi kalau sama Tuan Elliot."
Perkataan Albert membuat Raymond langsung mengambil keputusan untuk merubah tujuannya menjadi ke MANGO Corporate terlebih dahulu.
"Baik Tuan, kita ke MANGO Corporate dulu," ucap Albert sambil memutar arah laju mobilnya.
πππ
Bandara Heathrow London.
Your attention please, passengers of British Airways on flight number BA328 to Swedia please boarding from door A12, Thank you.
Suara dari announcer mulai terdengar berulang kali memanggil penumpang yang akan terbang dengan tujuan Swedia. Alice terlihat mulai bangkit setelah cukup lama menunggu di Bandara.
"Selamat tinggal London," lirih Alice yang mulai melangkah untuk boarding di pintu A12 sesuai petunjuk yang disampaikan oleh announcer.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Berikan like dan komentar kalian ya, jangan bosan mendukung setiap karya aku ya, percayalah author sudah memikirkan ending yang terbaik dari cerita yang dibuatnya, jadi tetap ikuti terus ya.
Terima kasih.
__ADS_1
Sehat selalu ya.