
Selamat Membaca!
Richard sudah bersiap untuk menembak Greta, namun tiba-tiba Alice berteriak meminta Richard menghentikannya.
"Jangan Tuan Richard, sebagai sesama wanita aku iba dengannya Tuan, tolong ampunilah dia, pasti ada cara lain untuk menghukum Greta."
Elliot menatap wajah Alice dengan heran.
"Kau sebaiknya pikirkan ucapanmu, sudah berapa banyak wanita iblis itu menyakitimu, bahkan sekarang suamimu masih koma."
Alice menghela napasnya kasar.
"Aku memang belum bisa memaafkannya tapi setidaknya aku masih memiliki hati tidak seperti dia, jika kita membunuhnya apa bedanya kita dengan dia, bukankah seharusnya sesama manusia itu harus saling tolong menolong," tutur Alice menunjuk ke arah Greta dengan tatapan tajam.
Richard mendesah pelan. Ia menatap wajah Alice dengan decak kagum, yang dapat terlihat dari kilat matanya yang berbinar.
Kamu memang istimewa Alice.
Richard menyembunyikan pistolnya kembali ke belakang tubuhnya dan mengampuni Greta, walau terkesan terpaksa.
Sementara Greta hanya bisa diam, sambil menahan gelak tawanya rapat-rapat.
Kau mengampuniku, aku akan buat kamu menyesalinya Alice.
Richard kembali menghampiri Elliot dan Alice. Ia kemudian mulai menghubungi keempat anak buahnya yang masih terbang di sekitar pulau.
"Benjamin, aku sekarang menuju pesisir pantai, segera merapat ke sana!" titah Richard meminta Benjamin bergerak cepat, karena khawatir dengan kondisi Elliot yang sudah terlihat pucat.
Elliot kini sudah semakin lemah, bahkan untuk bernapas saja terasa berat untuknya.
"Payah, karena tembakan dari seorang wanita bisa merobohkan aku seperti ini."
"Bicara apa kamu Kak? Bukan dari wanitanya tapi peluru itu yang membuatmu roboh," kilah Alice membenarkan perkataan Elliot yang salah.
"Ya tetap saja aku payah," ucap Elliot tertunduk lesu sambil terus melangkah, dengan dipapah oleh Richard.
"Walau payah kau tetaplah Kakakku, tak peduli semua itu," ujar Alice dengan mengulas senyum untuk Elliot.
Dalam hati, Richard semakin kagum dengan kepribadian Alice. Namun sangat disayangkan Alice yang dia kenal adalah istri dari Adik kandungnya yang berarti Alice adalah Adik Iparnya.
Richard terus memapah Elliot dibantu oleh Alice, ia mulai melewati paviliun dan menjauh dari tempat Greta berdiri.
Greta terus memerhatikan langkah mereka dengan tatapan penuh rencana, ia membagi pandangannya dengan sebuah pistol yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Itu pistol Zack, aku harus mengambilnya dan menembak Alice, maka semua dendamku akan terbayar dengan tuntas, terlebih saat ini Raymond belum mati," gumam Greta memicingkan senyum liciknya.
Setelah jauh meninggalkan paviliun, tibalah kini mereka di pesisir pantai, dimana helikopter sudah terbang rendah menunggu kedatangan mereka.
Elliot sudah berhasil diamankan dan kini sudah berada di dalam helikopter.
"Benjamin urus Elliot, segera bawa ke rumah sakit terdekat!" titah Richard meminta helikopter segera berangkat.
"Baik Tuan," jawab Benjamin sigap.
Richard kemudian memberi perintah kepada pilot helikopternya, untuk terbang merendah dan melemparkan tangga untuk Alice dan dirinya naik.
__ADS_1
Saat pilot di dalam helikopter sudah melemparkan tangganya, tiba-tiba Alice teringat seseorang yang sepertinya terlupakan olehnya.
"Tuan Richard, bolehkah aku kembali ke paviliun dan mengajak pria berbulu lebat itu untuk ikut bersama kita?" tanya Alice dengan menautkan kedua tangannya, seolah memohon kepada Richard.
Suara helikopter yang keras membuat Richard tak mendengar ucapan Alice. Richard mencoba untuk lebih dekat, agar suara Alice dapat terdengar jelas olehnya. Alice kembali mengulang perkataannya tepat berbisik di telinga Richard.
Keduanya kini sudah berada sangat dekat. Pandangan mereka sempat beradu, namun Alice segera membuangnya dengan mengalihkan tatapan matanya.
Tatapan mata Alice tadi, entah kenapa membuat hatiku sedikit bergetar.
Richard tersenyum masih menatap Alice, lalu keduanya kembali melangkah ke dalam pulau untuk menjemput pria seperti yang dikatakan oleh Alice.
"Colin berjagalah di sini, awasi keadaan udara, tunggu sampai aku kembali!" titah Richard melalui sambungan wireless.
Keduanya kini menyusuri jalan setapak menuju paviliun.
"Kamu yakin pria itu orang yang baik Alice?" tanya Richard dengan penuh keraguan.
"Aku yakin, beliau sudah terkurung di sini selama 17 tahun, jadi aku tidak mungkin meninggalkannya lagi," tutur Alice sambil terus melangkah sejajar dengan langkah Richard.
Sesaat sebelum tiba di paviliun, Richard meraih tangan Alice, hingga Alice menghentikan langkahnya.
Beberapa menit kemudian, Alice dan Richard kembali melanjutkan langkahnya, kini mereka sudah tiba di depan paviliun. Keduanya melihat sekeliling paviliun dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kemana Greta ya?" tanya Alice penuh selidik.
Richard menaruh rasa curiga, ketika ia tak dapat menemukan keberadaan Greta di sekitar paviliun. Ia kembali meneliti, melihatnya dengan seksama, namun sia-sia, matanya tetap tak bisa menemukan keberadaan Greta.
"*Aneh kemana wanita iblis itu. Aku yakin dia punya rencana jahat," gumam Richard penuh selidik di depan paviliun*.
Alice sudah masuk terlebih dulu ke dalam paviliun, ia mencari keberadaan pria itu dengan teliti, sampai akhirnya di sebuah sofa Alice melihat pria itu sedang duduk dengan santai sambil menikmati tontonan pada layar LED.
Pria itu menoleh ke arah Alice dengan wajah tak percaya.
"Kau sungguh-sungguh mengajakku?" tanya pria itu tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Alice mengulas senyum di wajahnya.
"Iya ayo ikutlah, helikopter masih tersisa 1 yang kosong, tapi sebaiknya kita bergegas sebelum malam tiba," tutur Richard yang tiba-tiba muncul dari arah luar paviliun.
"Anda dengar sendiri dari Tuan Richard, jadi cepat bersiaplah rapikan sesuatu yang ingin Anda bawa," tutur Alice terlihat sumringah.
Pria berumur itu langsung beranjak dari sofa, ia mulai melangkah dengan langkah yang riang untuk menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya.
Tak butuh waktu lama. Pria itu sudah kembali tiba dihadapan Richard dan Alice.
"Ayo kita berangkat," ucap pria itu dengan semangat.
Pria itu melangkah terlebih dulu, meninggalkan Alice dan Richard yang masih termangu melihat semangat yang ditunjukan oleh pria itu.
Keduanya saling bertatapan penuh keheranan, namun mereka mengerti dengan apa yang pria itu rasakan, 17 tahun hanya hidup di dalam pulau, pasti sangat membosankan. Membayangkannya saja sudah malas, apalagi pria itu yang dengan sabar menjalaninya dan masih hidup sampai saat ini.
Alice dan Richard menyusul langkah pria itu. Mereka keluar dari paviliun dan tanpa mereka duga, Greta saat ini sudah menodongkan pistolnya pada pelipis pria itu, membuatnya tak bisa berkutik dengan pistol yang sudah siap untuk memecahkan isi kepalanya.
Richard terbelalak kaget, matanya membulat sempurna, ia begitu kesal sampai menggertakkan giginya, menahan amarah yang saat ini sudah membara di tatapan matanya.
__ADS_1
Sementara Alice tak habis pikir, melihat Greta masih saja bersikap jahat, seolah tak ada rasa jera dalam dirinya.
"Greta, lepaskan dia!" titah Alice berteriak sambil terus melangkah maju mendekatinya.
Greta mundur perlahan dengan masih mencengkram leher pria itu kuat-kuat. Sementara Richard sudah mengarahkan pistolnya tepat di dahi Greta bersiap untuk menembak.
"Greta sebaiknya, kau pikirkan sebelum kematian datang padamu!" titah Richard terus fokus pada targetnya.
Greta terkekeh geli mendengar ucapan Richard.
"Kau pikir aku takut dengan kematian. Tidak Richard! Aku tidak takut, karena aku sudah lama mati, saat aku kehilangan anak dalam kandunganku."
Alice mengiba mendengar perkataan Greta, dengan gigih Alice terus meyakinkan Greta bahwa dendam, hanya akan menghancurkan hidupnya saja.
"Berubahlah Greta, mulai buka lembaran baru di hidupmu, aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan bila hidup tanpa dendam."
Kata-kata Alice seolah menampar pipi Greta dengan keras. Ia mulai merenungi kehidupan, yang semakin lama semakin membosankan untuk dijalaninya, karena yang ada di dalam isi kepalanya hanya memikirkan dendam, dendam dan dendam, tanpa memikirkan kebahagiaannya.
Apa benar yang dikatakan Alice ya?
Saat hati Greta hampir luluh, tiba-tiba ia tersadar dan dengan cepat langsung mengusir perasaannya, hingga dendam kembali menguasai dirinya.
"Banyak bicara kau Alice, aku sudah muak dengan semua perkataanmu, kamu itu sok bijak, kamu saja tidak pernah merasakan bagaimana kehilangan seorang anak yang masih ada di dalam kandunganmu!"
Alice sudah beberapa langkah lebih maju dari Richard.
"Alice hati-hati! Aku punya firasat tidak enak," tegur Richard khawatir pada Alice.
Benar saja tak berapa lama Greta menembak ke arah perut Alice, hingga membuat Alice langsung roboh dan terjatuh ke dasar tanah.
Setelah menembak Alice, Greta langsung mengalihkan bidikannya ke arah Richard, yang kini masih termangu menatap cemas ke arah Alice. Tanpa keraguan Greta melepaskan tembakannya, namun sayang ternyata pistol yang saat ini dipegang oleh Greta sudah kehabisan peluru.
"Ini kesempatanku," gumam pria berbulu lebat pada wajahnya, menyadari pistol Greta sudah kehabisan peluru.
Pria itu langsung mendorong tubuh Greta dengan kasar, untuk meloloskan dirinya. Richard yang melihat celah untuk menembak, langsung menghujamkan kedua pelurunya ke arah dada dan perut Greta, hingga membuat tubuh Greta jatuh ke dasar jurang yang di bawahnya terdapat aliran sungai.
Tubuh Greta terus jatuh terperosok dan terbawa hanyut oleh derasnya aliran sungai.
"Semoga kau tenang di alam baka, Greta."
Setelah melihat Greta hanyut dan tak terlihat lagi, Richard dan pria itu menghampiri Alice untuk melihat kondisinya.
Untung saja rencanaku berhasil, firasatku benar-benar terjadi.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Bagaimana kondisi Alice?
Berikan dukungan terus ya. Lewat like, komentar dan vote kalian pada karyaku ini. Jangan bosan ya.
Aku ucapkan terima kasih atas dukungan kalian selama ini.
__ADS_1
Kalian \= Semangatku
Jadi tanpa kalian aku tidak akan semangat untuk menulis.