
Halo semua, boleh ya author mau mengingatkan kalian lagi, jika sebuah like dan komentar sangat penting untuk menambah semangat author dalam menulis. Jadi jangan bosan untuk like dan komentar di setiap part-nya ya. Terima kasih banyak semua.
💐💐💐
Selamat membaca!
2 Minggu kemudian.
Hari ini adalah hari dimana pernikahan Albert dan Risfa akan berlangsung, sebagai supir dari seorang pengusaha ternama di London, Raymond tidak ingin pernikahan Albert hanya terlaksana dengan alakadarnya saja. Raymond bahkan sampai menyewakan sebuah gedung mewah yang mempunyai kualitas sama baiknya, dengan tempatnya dulu menikah.
Raymond juga berencana akan menjadikan Albert sebagai asisten pribadinya, menggantikan Elliot yang harus pergi ke Australia untuk meyakinkan keluarga Kelly, agar memberikan restu pada hubungan mereka.
Albert sudah terlihat tampan dengan mengenakan stelan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu, yang membuatnya tampak begitu berwibawa dari biasanya. Tak kalah dengan Albert, sosok Risfa juga tampil begitu anggun dengan balutan dress putih, yang menjuntai hingga menyapu dasar lantai
Risfa mulai melangkah dari sisi kanan menuju satu titik dimana Albert juga datang dari arah yang berlawanan, jika Risfa didampingi oleh Alice dan ibunya, di sisi lain Albert pun diiringi oleh Raymond berserta kedua orangtuanya. Semua tamu undangan yang sudah hadir, tampak tersenyum bahagia menyaksikan pada hari ini, dua insan yang saling berbeda latar belakang, dengan kultur yang juga tak sama, kini akan bersatu oleh sebuah ikatan yang dinamakan pernikahan.
Semua pengiring pengantin menempati tempat yang sudah disediakan. Sementara Risfa dan Albert bertemu di satu titik dan keduanya saling menatap mesra dengan sebelah tangan Risfa memeluk lengan Albert. Mereka mulai melangkah menuju altar pernikahan tempat kedua mempelai saling berjanji, untuk sehidup semati menjalani bahtera rumah tangga dalam suka maupun duka.
Dari tempatnya Raymond yang kini sudah duduk tepat di samping Alice, menempelkan mulutnya di daun telinga Alice untuk sekedar berbisik.
"Sweety, apa kamu mau mengulangi di saat kita saling mengikrarkan janji di altar? Karena dulu aku tidak melakukan itu dengan sungguh-sungguh."
Perkataan Raymond pun, mengingatkan Alice akan kenangan masa lalunya yang memang terbilang pahit, karena bukan hanya Raymond tapi ternyata Alice juga melakukannya. Keduanya sama-sama tidak sungguh-sungguh dalam mengikrarkan janji setia mereka dihadapan Tuhan.
"Tidak perlu sweetu, walau sebenarnya aku ingin tapi inikan acaranya Albert, sudah lebih baik kita nikmati saja hari bahagia mereka!"
Alice masih terus menatap Albert dan Risfa yang baru saja selesai mengikrarkan janji pernikahan mereka, kata perkata yang keluar dari mulut Risfa membuat air mata tak bisa dibendung olehnya, Risfa menangis penuh haru, air mata kebahagiaan meleleh sedikit merusak rias di wajahnya.
Tiba saatnya kini pertukaran cincin akan dilakukan keduanya. Albert mengambil sebuah cincin dari kotaknya dan mulai memakaikan di jemari indah Risfa, demikian juga dengan Risfa, ia pun melakukannya dengan perlahan.
"Albert, I love you forever."
Albert tanpa ragu melabuhkan sebuah ciuman tepat di bibir Risfa yang saat itu sedang merah merekah. Ciuman yang menandakan bahwa saat ini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri dengan terikat sebuah janji untuk saling setia sampai akhir hayat mereka.
__ADS_1
Usai keduanya saling berciuman, Risfa langsung menghamburkan kebahagiaan dipelukkan Albert. Semua pasang mata yang menyaksikan momen sakral dan bahagia ini, membuat beberapa tamu undangan sampai tak kuasa menahan air mata pada wajah mereka masing-masing.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Albert dengan sebuah senyum yang terlukis di wajahnya.
Risfa mengangguk sambil menangis, ia tak kuasa menahan haru kebahagiaan, yang saat ini ingin terus diluapkannya dalam pelukan Albert.
Setelah menyelesaikan semua momen sakral di atas altar, kini acara akan berlanjut dengan resepsi pernikahan. Namun tiba-tiba sosok Raymond tampak berada di atas altar sambil memberikan ucapan selamat untuk kali pertama kepada Albert dan Risfa. Albert tidak heran dengan naiknya Raymond ke atas altar, karena ini sudah menjadi bagian dari rencana Raymond di hari pernikahannya.
"Albert apa yang akan dilakukan Tuan Raymond?" tanya Risfa sambil menautkan kedua alisnya.
"Kamu lihat saja, tahan air matamu ya sayang," ledek Albert menggoda Risfa yang ia tahu begitu cengeng.
"Kaya kamu gak cengeng aja," ucap Risfa mencebik manja.
Sementara itu Alice dari tempatnya berada, tidak menyadari kepergian suaminya yang kini sudah tak lagi ada di sampingnya.
"Apa yang akan dilakukan oleh sweetu? Kenapa aku tidak menyadari kepergiannya ya. Apa mungkin karena aku terlalu hanyut, saat menyaksikan momen bahagia Albert dan Risfa."
Alice menatap dengan penuh selidik ke arah suaminya yang kini sudah berada di atas altar.
Alice menoleh ke arah Nicholas, wajahnya kini terlihat begitu penasaran.
"Kenapa Daddy hanya tersenyum saja ya?" gumam Alice semakin bertanya-tanya dalam dirinya.
Melihat raut wajah Alice membuat Nicholas jadi tergerak untuk menenangkannya. Nicholas berpindah kursi tepat ke samping Alice, kursi yang kosong karena ditinggalkan oleh Raymond yang kini sedang berada di atas altar.
Raymond menarik napasnya dalam-dalam, bersiap untuk bicara.
"Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada Albert yang sudah memberikan waktunya untuk aku ambil sejenak, juga kepada Daddy yang mengizinkanku untuk melakukan hal ini."
Mendengar perkataan Raymond, membuat Alice langsung menoleh ke arah Nicholas. Tatapan matanya seolah menuntut, agar Nicholas mengatakan padanya, tentang apa yang akan dilakukan oleh suaminya, yang dirinya sama sekali tidak mengetahuinya.
"Istriku," panggil Raymond yang membuat pandangan Alice kembali menatap ke arah suaminya itu.
"Kamu adalah wanita yang luar biasa, kamu yang terbaik dari ribuan wanita sempurna yang ada di dunia ini. Aku memang tidak butuh kesempurnaan, aku cuma butuh kamu, hanya kamu. Bagiku memilikimu adalah hal yang terindah yang pernah aku dapatkan, suatu anugerah tak terkira yang Tuhan berikan untukku. Aku mencintaimu, detik ini, esok, atau bahkan sampai nanti di saat aku menutup mata, cintaku tidak akan pernah pudar dan lekang oleh waktu.
Aku mencintaimu Alice, terima kasih karena kamu sudah membuat hidupku jauh lebih berarti dari sebelumnya, bahkan kamu mengajarkan aku tentang satu arti, bahwa manusia itu punya hati untuk saling mengasihi. Naiklah ke atas altar, kita ulang kembali sesuatu yang kita awali dengan ketidakseriusan, aku ingin Tuhan tahu, bahwa cinta yang aku miliki saat ini benar-benar tulus dari hati yang paling dalam."
__ADS_1
Perkataan Raymond mampu menggetarkan hati semua pasang mata yang ada di dalam gedung ini, termasuk Risfa yang sudah menangis dengan derai air mata yang tak dapat lagi terbendung, namun Albert tampak sudah berdiri di sampingnya dengan sekotak tisu yang langsung ia berikan kepada Risfa untuk menyeka air matanya.
"Terima kasih sayang," ucap Risfa yang sudah terisak tak mampu menahan rasa harunya.
"Iya sama-sama, aku sudah tahu ini akan terjadi, maka itu aku ambilkan sekotak tisu ini, karena aku sudah menduga air matamu pasti akan tumpah."
Sama halnya dengan Risfa, hati wanita mana yang tak tersentuh saat suami yang dicintainya, mengucapkan deretan kalimat indah di depan banyak orang, Alice pun saat ini sudah tak mampu menahan air matanya, ia menangis terisak sambil menyentuh dadanya menahan rasa haru yang saat ini dirasakannya.
Nicholas bangkit dari posisi duduknya, ia terus menatap Alice yang wajahnya sudah penuh dengan derai air mata.
"Ayo anakku!" titah Nicholas dengan senyuman.
Alice meraih tangan Nicholas yang memang sudah terjulur ke arahnya. Kemudian dengan langkah yang perlahan Nicholas menuntun Alice untuk naik ke atas altar.
"Perlahan Alice, perhatikan langkahmu."
Kini Nicholas mulai melepas genggaman tangannya dan membiarkan Alice menaiki anak tangga menuju altar, dimana sudah ada Raymond yang menunggunya di ujung anak tangga. Tangan Raymond pun mengarah padanya, yang langsung disambut oleh Alice, untuk membantunya naik.
Kini keduanya sudah berada di atas altar dan saling berdampingan.
"Terima kasih ya sweetu."
Raymond tersenyum sambil terus menatap wajah Alice dengan lekat.
"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu sweety."
Saat itu keduanya kembali mengulang prosesi pernikahan yang dulu mereka pernah lakukan. Kali ini semua tampak berbeda, ada cinta di hati keduanya dan perasaan yang tulus untuk saling mengucap sebuah janji suci yang harus mereka jaga seumur hidup, bahkan Raymond sudah menyiapkan sekotak cincin untuk mereka kembali mengulang semua momen yang dulu mereka lakukan tanpa sebuah rasa.
Ini bukanlah akhir dari perjalanan cinta Raymond dan Alice, tapi ini adalah sebuah awal, awal dari kebahagiaan yang hampir sempurna, karena dalam dua minggu ke depan, kedua buah hati mereka akan segera lahir ke dunia dan melengkapi kesempurnaan cinta mereka.
💐💐💐
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1