Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kemurkaan Raymond


__ADS_3

Selamat membaca!


Raymond sudah berada di dalam mobil. Ia terlihat memanipulasi penampilannya agar tidak dikenali sebagai Raymond. Ia mengenakan kumis palsu yang tebal, memakai kacamata dan sweater hoodie untuk menutupi rambutnya.


Walau awalnya mendapat penolakan keras dari Alice, akhirnya Raymond mampu meyakinkan Alice, untuk memberi izin kepada dirinya agar dapat pergi ke London.


Mobil melaju dengan cepat, Albert dengan setia menemani Raymond di depan kemudinya.


"Aku harus segera menemui Daddy, aku harus menanyakan padanya meeting apa sampai ia mengundang beberapa dewan dan notaris, aku juga harus mulai mencari Elliot," ujar Raymond dengan wajah cemas, penuh dengan beragam pikiran yang bergelayut di kepalanya.


Walau harapanku tipis, untuk dapat merebut kembali MANGO Corporate.


Raymond menghela napasnya kasar, melepas beban pikiran yang semakin menumpuk di kepalanya.


🍁🍁🍁


MANGO Corporate.


Greta sedang sibuk dengan pekerjaannya, di ruangan yang dulu menjadi ruangan Elliot.


"Ternyata MANGO Corporate lebih besar dibanding dengan perusahaan Tuan Will di Swedia, dari tadi pekerjaanku tidak ada habisnya," keluh Greta dengan wajah masamnya.


Brisca datang menghampiri Greta dengan mengetuk pintu ruangan.


"Masuk!" titah Greta mengizinkan.


Brisca membuka pintu ruangan dan masuk menghampiri Greta.


"Nona, hari ini akan ada meeting sekitar jam 19.00 malam, ini sebagian data klien yang akan datang di meeting tersebut," tutur Brisca dengan menyodorkan beberapa map kepada Greta.


Saat Greta ingin menjawab, tiba-tiba rasa mual begitu terasa di perutnya. Greta dengan terburu-buru beranjak dari kursinya untuk berlari menuju kamar mandi ruangannya, ia masuk dan memuntahkan segala isi perutnya.


Brisca melihat dengan wajah datarnya.


"Nona, apa perlu saya panggilkan Dokter?" ucap Brisca menawarkan, sebagai bentuk simpatik kepada Greta atasan barunya.


"Tidak perlu, aku hanya kelelahan, kepalaku juga agak pusing, pasti ini efek pekerjaan yang menumpuk," tutur Greta menebak-nebak kondisi yang saat ini sedang dialaminya.


"Ya sudah kalau begitu, Nona saya permisi dulu."


Brisca pamit lalu keluar dari ruangan Greta, meninggalkan Greta yang masih berada di kamar mandi, dalam kondisi mual yang belum juga menghilang.


"Sepertinya aku harus memanggil Dokter, pekerjaanku masih terlalu banyak, kalau kondisiku seperti ini terus bisa mengganggu aktivitasku," gumam Greta yang beranjak kembali ke meja kerjanya.


Greta mengambil handphone di atas meja kerja, ia mulai menghubungi Dokter pribadi untuk datang memeriksa keadaannya.


🍁🍁🍁


Raymond sudah sampai di kantor polisi. Ia bergegas turun dari mobil untuk menemui Nicholas. Namun Raymond harus kembali membawa rasa kecewanya, karena saat ini Nicholas berstatus sebagai tersangka utama kasus pembunuhan, yang beritanya sedang marak dan menyebar luas sampai ke seluruh kota London, ini mengakibatkan Nicholas tidak dapat menerima kunjungan dari siapapun.

__ADS_1


"Sial sekarang bagaimana ini?" kesal Raymond yang beberapa kali menendang udara tanda dirinya kecewa.


Raymond melangkah kembali ke dalam mobil, namun di saat ia baru saja keluar dari kantor polisi smartphonenya tiba-tiba berdering. Ia langsung mengambil ponsel pintarnya dari saku celana, tertera di layar ponsel Will sahabatku.


Ada apa baj*ngan itu menelepon?


Raymond mengangkat telepon dengan kesal.


"Halo ada apa kau meneleponku?" ketus Raymond dengan nada membentak.


"Tenang Ray, tenang!" jawab Will dengan santai.


"Cih.. Cara licik yang kau lakukan tidak akan pernah aku maafkan."


"Ini bisnis Ray, segala cara dihalalkan Ray, kau saja yang terlalu lemah menghadapi godaan wanita," tukas Will terkekeh.


Raymond mati kutu tak dapat membalas ucapan Will, ia menyadari memang itu kebodohannya.


"Sial kau Will, kau memang sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang sampai aku tidak dapat membacanya." gumam Raymond mendelik kesal.


"Aku hanya ingin memberitahumu, lebih baik kau tidak perlu repot mencari keberadaan Elliot, Ray!"


Raymond terhenyak mendengar perkataan Will tentang Elliot.


"Apa maksudmu Will?" tanya Raymond dengan geram.


Amarah Raymond mendidih mendengar perkataan Will tentang Elliot. Mata Raymond memerah menunjukkan kemurkaan dari raut wajahnya.


"Kurang ajar kau Will, aku akan membalas apa yang kau perbuat, aku akan membunuhmu, tunggu saja Will!" Raymond menderu kesal, sampai menggertakkan giginya.


Raymond masuk ke dalam mobil dengan pintu yang sudah dibukakan oleh Albert, dengan raut wajah penuh kebencian.


Di dalam mobil ia duduk dengan tak nyaman, mobil sudah melaju tanpa menunggu perintah dari Raymond.


Beberapa kali Raymond menghentakan tangannya ke arah pintu mobil dengan keras, membuat Albert penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Raymond.


Albert memberanikan diri untuk bertanya pada Raymond.


Aku jadi gugup ingin bertanya.


Albert menelan salivanya sendiri dengan kasar. Bibirnya gemetar, seperti susah meloloskan sebuah pertanyaan dari mulutnya.


Albert menghela napasnya dalam.


"Tuan sebenarnya apa yang terjadi?"


Pertanyaan Albert memecahkan kegamangan Raymond, yang kini sudah tidak mampu lagi menahan air mata, yang menggenang di kelopak mata.


"Elliot sudah meninggal Albert."

__ADS_1


Albert sontak kaget, ia sampai mengerem mobilnya secara mendadak, untunglah mobil sedang berada di jalur lambat, membuatnya jadi aman dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.


Albert tak kuasa menahan air matanya, ia menangis terisak sangat pedih akan kehilangan Elliot yang sudah dianggapnya seperti kerabat sendiri.


"Bagaimana aku harus menyampaikan berita ini kepada Alice, Albert?" tanya Raymond penuh kebimbangan.


"Saya sendiri bingung, Tuan, tapi Nona Alice harus tahu, semoga dia bisa menerima kenyataan pahit ini," tutur Albert yang masih menangis meratapi kematian Elliot.


Raymond menghempaskan tubuhnya yang lemas ke sandaran kursi sambil memijat keningnya, untuk mengurangi rasa pusing di kepala yang semakin menusuk.


"Elliot, maafkan aku, semua ini karena kebodohanku.. Awas kau Will, hutang nyawa ini harus dibalas dengan nyawamu juga."


Raymond mengambil ponsel pintarnya, ia mulai menghubungi seseorang yang berada jauh dari London. Namun ia berpikir kembali dan meletakkan ponselnya kembali.


"Sial, jika aku membayar pembunuh bayaran itu, uang simpananku untuk bertahan hidup pasti akan langsung terkuras banyak," gumam Raymond mengurungkan niatnya.


Wajah Raymond semakin digelayuti rasa bimbang.


Apa yang harus aku lakukan?


🍁🍁🍁


MANGO Corporate.


Dokter sudah tiba di ruangan Greta, Dokter sedang melakukan pemeriksaan terhadapnya untuk mendiagnosa keluhan yang Greta rasakan belakangan ini.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, senyum merekah terlihat dari wajah Dokter.


"Selamat ya Nona Greta, saat ini Anda sedang mengandung," tutur Dokter dengan tersenyum mengucapkan selamat kepada Greta.


Wajah Greta menjadi pucat pasi, ia terhenyak mendengar hasil pemeriksaan yang Dokter sampaikan.


"Ini resep untuk Anda tebus di apotik, kandungan Anda lemah, jadi saya sarankan jaga pola istirahat Anda, kurangi segala rutinitas yang padat dan makan yang teratur, perbanyak buah juga sayur, jika perlu konsumsi susu untuk menghilangkan mual yang Anda rasakan dalam trimester pertama ini," tutur Dokter menjabarkan hal yang harus Greta lakukan untuk menjaga kandungannya, sambil menyodorkan secarik kertas resep kepada Greta.


Greta menerimanya dengan kebimbangan di raut wajahnya. Ia menanggapi perkataan Dokter dengan menarik senyum kecil di wajahnya.


Aku hamil, ini tidak mungkin terjadi.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan dukungan kalian terus ya, dengan like dan vote kalian ya.


Sempatkan berkomentar ya karena itu menjadi semangat untukku dalam menulis.


Sehat selalu ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2