Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Tertembakkah?


__ADS_3

Selamat membaca!



Kapal pesiar sudah bersandar di tepi sebuah pulau. Alice kini sudah terlihat pasrah dengan nasibnya, karena ia gagal membalas pesan Tara. Handphone yang ditemukannya mati karena low battery.


"Kapal ini sudah berhenti, berarti kapal ini sudah sampai di tujuannya."


Tak lama terdengar deru langkah yang semakin mendekat, pintu terbuka dengan keras, kedua pria itu langsung membawa Alice dengan paksa untuk mengikuti langkah mereka.


Alice melangkah dengan berat, ia tak bisa melawan, walau sebenarnya ingin sekali dirinya melawan. Setelah sampai di atas kapal, Alice melihat sebuah pulau dengan keindahan pantai yang sungguh menawan.


Andai aku ke pulau ini untuk berlibur pasti semua akan sangat indah.


Kedua pria itu terus menyeret langkah Alice yang seakan membatu, sampai akhirnya Alice kini sudah memijakkan kakinya di pulau itu. Alice dihempaskan dengan kasar, ia terjatuh sampai mengaduh sakit di atas pasir pantai.


Alice ditinggalkan begitu saja, tanpa makanan dan dengan tangan yang masih terborgol. Ia terus menatap nanar kedua pria itu yang semakin menjauh.


"Tidak mungkin dengan tangan yang terborgol seperti ini, aku harus meminta kepada mereka untuk melepaskan borgolku."


"Woi, kalian woi, lepaskan dulu borgolku, sebelum kalian pergi."


Keduanya tampak tak menggubris teriakan Alice. Mereka terus berlalu menuju kapal. Alice menangis terisak seorang diri di sebuah pulau yang mungkin tak berpenghuni.


"Aku tidak ingin mati di sini, kasihan anak-anakku," ucap Alice sambil terisak dan terus menangis.


Kapal pesiar sudah jauh meninggalkan pulau. Alice masih terus menangis tak bergeming sedikit pun dari posisinya yang masih bersimpuh.


Air mata terus berderai, wajah sendu yang semakin pucat, dengan rasa haus dan lapar yang begitu terasa di perutnya.


Apa aku akan mati di sini?


Bagaimana dengan kedua anakku?


Alice menyentuh perutnya dengan lembut, air mata tidak henti-hentinya terus membasahi seluruh wajahnya. Pakaiannya kini sudah basah oleh deburan ombak yang entah sudah berapa kali menerpa tubuhnya.


Setelah lama hanya berdiam diri dan pasrah, Alice kini mulai bangkit, ia melangkah untuk masuk lebih jauh ke dalam pulau.


Alice mengedarkan pandangannya melihat sekitar, pepohonan yang rimbun dengan semak belukar berada di kiri dan kanan jalan setapak yang Alice lalui.


"Bagaimana aku bisa berada di sini saat malam? Aku takut," batin Alice menangis.


Alice bergedik ngeri, sambil terus menyeka air mata pada wajahnya. Ia merasa putus asa, ingin rasanya Alice mengakhiri hidupnya saat ini, tapi jika ia mengingat kedua anaknya yang masih berada dikandungan, semangatnya kembali menyala untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Alice semakin jauh meninggalkan pesisir pantai, ia terus masuk ke dalam pulau. Tak mau tersesat ia meninggalkan sebuah goresan pada pijakan tanah yang dilaluinya.


"Di sana ada sebuah paviliun," ucap Alice sambil menunjuk ke arah bangunan yang dilihatnya.


Paviliun yang tampak tak terurus, aksen kuno begitu melekat pada ukiran dinding paviliun menambah keangkeran yang dilihatnya, tak pelak membuat bulu kuduk Alice langsung berdiri.


Alice masih mematung di depan paviliun, ia ingin melangkah namun rasa takut seolah mengikat kedua kakinya untuk terus masuk ke dalam paviliun.


Tapi aku tidak punya pilihan lain, aku harus masuk.


Alice menarik napas dengan dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia kembali melangkah, setelah mematung cukup lama di depan paviliun.


Dilihatnya sebuah pintu kayu tua dengan handel besi yang berdebu, di halaman rumah terdapat dua kursi dengan meja bundar di tengahnya, semua tampak tak terurus, sudah usang dan tertutup debu tebal.


Paviliun ini sepertinya lama ditinggalkan pemiliknya.


Alice menggenggam handle pintu dan mulai membuka perlahan. Suara pintu berdecit sampai menimbulkan sebuah gema yang cukup menyeramkan. Lagi dan lagi bulu kuduk Alice kembali merinding.


Dengan langkah perlahan Alice mulai masuk ke dalam paviliun, yang utama adalah ia mencari saklar lampu untuk penerangannya, keadaannya saat itu begitu gelap, hingga Alice tak dapat melihat sekeliling ruangan.


Matanya terus mencari sampai akhirnya menemukan jajaran saklar yang terletak di dinding tidak jauh dari tempatnya berdiri, ketika ia menekan saklar itu, semua lampu langsung menerangi setiap sudut ruangan yang memudahkan Alice dalam mencari sesuatu yang bisa membantu untuk bertahan hidup, terutama makanan dan minuman.


"Tapi aneh, jika paviliun besar ini sudah tidak di tempat lama, kenapa masih ada listrik yang menyala."


Alice menelan dalam-dalam pertanyaan dalam benaknya. Ia meneruskan langkahnya untuk mencari, di depan matanya kini terdapat ruang tamu, lengkap dengan sofa dan layar LED besar di sana, ada juga sebuah meja di antara keduanya.


"Dapur, aku harus ke dapur, perutku sudah sangat lapar."


Alice mulai mengeluh merasakan lapar yang saat ini merongrong minta dimanjakan dengan makanan dan kerongkongannya pun terasa begitu kering, entah sudah berapa lama Alice tidak minum setetes air pun. Kedua kakinya sudah semakin lemah melangkah, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk terus menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Alice membuka sebuah lemari pendingin yang saat ini masih dalam kondisi menyala, matanya membulat sempurna saat ia melihat beberapa makanan tersusun rapi di dalamnya.


Aneh, kenapa di dalam rumah tampak lumayan bersih, ketimbang di luar rumah.


Rasa takut kembali merasuki isi kepalanya. Namun rasa lapar yang semakin menggerogoti perutnya dapat membuat Alice melupakan semua itu.


Alice mulai mengambil beberapa makanan dan melahap semua yang diambilnya dari lemari pendingin, 3 buah roti, 2 buah apel, satu botol air mineral semua tandas dengan cepat ia makan.


Aku bersyukur, perutku lumayan terisi.


Tiba-tiba terdengar suara deru senapan sebanyak dua kali memecahkan keheningan di dalam hutan. Suara selongsong senapan seakan menggema membuat suara kicauan burung tak karuan saling bersahutan. Alice sangat terkejut dibuatnya.


Berarti benar dugaanku, rumah ini ada penghuninya.

__ADS_1


Alice segera berlari untuk mematikan saklar kembali, dengan membawa beberapa makanan dan sebotol minuman digenggamannya. Alice hendak keluar dari rumah, namun ia terlambat suara langkah kaki terdengar semakin mendekati paviliun.


Aku harus bersembunyi, tapi dimana.


Alice menajamkan pandangannya, karena kondisi penerangan sudah minim cahaya. Alice panik mencari ruang untuknya sembunyi. Hingga suara langkah kaki sudah semakin mendekat, kini terlihat handle pintu mulai bergerak, pintu paviliun akhirnya terbuka lebar, sesosok pria tampak masuk ke dalam paviliun dengan membawa selongsong senapan laras panjang untuknya berburu, terlihat jelas karena di pundak pria itu memegangi hasil buruannya berupa 2 ekor kelinci.


Pria itu menyalakan saklar dan seluruh cahaya menerangi seisi paviliun. Pria itu terlihat meletakkan senapan di tempatnya dan langsung menuju ke dapur untuk mengolah hasil buruannya.


Alice melihat dari balik lemari yang terdapat celah untuknya mengintip.


Aku masih saja lapar.


Pria itu terus melakukan aktivitasnya, sampai aroma masakan dengan rebusan daging kelinci mulai menyeruak memenuhi seisi paviliun, bahkan Alice sendiri mampu mengendus aroma masakan yang sedang dibuat oleh pria itu.


Ya ampun masakan ini begitu harum, nikmat sepertinya.


Tak terduga, suara perut Alice mulai merongrong, bahkan terdengar menggema hingga keluar dari tempat persembunyiannya, membuat pria itu mulai menyadari kehadiran Alice di dalam lemarinya. Alice panik, namun apalah daya, ia tak bisa menahan suara perutnya.


Aku ketahuan, sekarang bagaimana ini?


Wajah Alice pucat pasi dengan keringat yang terus mengucur dari keningnya. Kedua kakinya gemetar dan ia terhenyak saat pintu lemari terbuka lebar dengan selongsong senapan laras panjang menempel keras di dahinya.


"Siapa kamu?" bentak seorang pria itu.


Alice terperanjat kaget, darahnya ikut berdesir hebat membuat detak jantungnya berdebar tak karuan.


Ini mungkin akhir hidupku.


Alice keluar dari tempat persembunyiannya, dengan tangan terborgol membuat sosok pria yang melihatnya, mulai menarik pelatuk pada senapannya untuk bersiap menembak.


"Tuan, Tuan, aku mohon jangan tembak aku..." lirih Alice dengan parau memohon belas kasihan.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Apakah Alice akan tertembak?


Siapa sebenarnya pria itu?


Jika penasaran ikuti terus kisah Alice ya.


Jangan bosan beri dukungan kalian dengan like dan komentarnya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


Sehat selalu ya.


__ADS_2