
Alice sudah berada di kursi belakang mobil, ia duduk dengan nyaman bersama Raymond yang melingkarkan lengan kekarnya pada tubuh Alice. Hari ini perjalanan ke rumah sakit, mereka diantar oleh supir baru pengganti Albert yang bernama Kevin.
"Kevin kamu tahukan arah rumah sakitnya?" tanya Raymond dengan wajah datarnya.
Tak butuh waktu lama pertanyaan Raymond langsung dijawab sigap oleh Kevin.
"Saya tahu, Tuan," ucap Kevin dengan ramah.
Raymond kembali sibuk dengan tangan jahilnya yang kini sedang merambah ke arah perut Alice. Perut yang begitu besar, karena memang saat ini Alice sedang mengandung bayi kembar, jadi wajar saja jika perutnya lebih besar daripada wanita hamil dengan satu anak.
"Sweetu, lepaskan, tidak enak jika nanti dilihat Kevin," ucap Alice dengan berbisik.
Alice merasa kesel, bila Raymond menyamakan setiap orang itu sama, karena Kevin bukanlah Albert yang bisa cuek dan tak peduli dengan apa yang dilakukan majikannya di dalam mobil. Walau Alice belum tahu pasti bagaimana watak dari supir barunya, namun karena baru dikenalnya, ada perasaaan canggung yang kini Alice rasakan.
Raymond mengesah pelan atas penolakan yang Alice lakukan, dengan lembut Alice pun melepaskan tangan Raymond yang sedang mengusap perutnya.
"Sweetu, jangan buat aku malu dengan supir baru kita," bisik Alice kembali, dengan mendekatkan mulutnya pada daun telinga Raymond.
Raymond mengesah pelan. Ia melempar tubuhnya hingga terdapat jarak dengan Alice. Namun Alice dengan cepat meraih rahang Raymond, kemudian mendekatkan wajahnya, lalu mulai memberikan kecupan singkat tepat pada bibir Raymond.
"Tadi katanya malu, sekarang malah nyosor."
Alice terkesiap mendengar sindiran suaminya, ia tak menyangka Raymond masih ingat dengan perkataan yang sering dikatakan Bejo sewaktu mengurus beberapa ternak yang mereka pelihara, sewaktu mereka tinggal di Jakarta.
Tak berapa lama mobil tepat berhenti di lobi rumah sakit.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai."
Raymond mendengus kesal terhadap supirnya.
"Memang kita naik busway, sampai kamu harus memberikan informasi seperti itu, kami tidak buta. Kamu itu dengan Albert sama kecilnya, tapi sepertinya pikiranmu jauh lebih bodoh ya."
Kevin menelan saliva-nya dengan kasar. Wajah yang pucat dengan detak jantung yang berdegup sangat keras, menjadi pertanda bahwa saat ini Kevin dilanda kegugupan.
Rasa gugup yang kini menguasai dirinya, karena ini pertama kalinya Kevin bekerja dengan seorang CEO kaya raya, yang mungkin hartanya tidak akan habis sampai 7 turunan.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, saya hanya memberitahu," ucap Kevin dengan bibir bawah yang terlihat gemetar.
Mendengar ucapan Kevin yang terbata, Raymond tak bisa menahan rapat gelak tawanya, ia akhirnya terkekeh hingga membuat Alice akhirnya ikut angkat bicara.
"Tak usah kamu pikirkan Kevin, begitulah sikap Tuanmu, dia hanya bergurau sudah memarahimu tadi, jadi tak perlu cemas."
Darah Kevin yang berdesir hebat, seketika kembali normal, wajahnya yang pucat seperti tak dialiri darah sama sekali, kini kembali tampak sebuah senyuman di sana.
Alice pun turun dalam mobil tanpa menunggu Kevin membukakan pintu untuknya. Setelah Alice turun, Raymond mengikutinya, namun sebelum keluar ia menepuk pundak Kevin.
"Tenang Kevin, kerjamu sudah bagus, oke."
Napasnya Kevin yang tercekat kini kembali lega. Ia menatap kedua majikannya itu yang terus melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah sakit dengan saling berdampingan.
πππ
Alice dan Raymond kini sudah berada di ruang dokter.
"Selamat siang Tuan Raymond dan Nona Alice," sapa seorang Dokter yang sudah duduk di kursinya.
"Ya siang Dok," sahut Alice dengan sebuah senyuman sambil duduk bersama Raymond di kursi yang letaknya berseberangan dengan Dokter tersebut.
Tanpa banyak berpikir, Raymond langsung menjawab tawaran Dokter dengan sumringah.
"Oke Dok, saya akan urus administrasi semuanya hari ini, jika bisa dilakukan sekarang itu lebih baik, bukan begitu sweety."
Alice menoleh ke arah Raymond, ia pun sependapat dengan apa yang Raymond katakan, walau ada rasa sedikit gugup karena membayangkan proses persalinan akan seperti apa nantinya, namun semua itu dapat dikalahkan oleh rasa bahagianya.
"Baik Dok, lakukan hari ini saja," ucap Alice dengan yakin memutuskan.
"Baik kalau begitu saya akan siapkan operasinya."
Alice dan Raymond menyambut bahagia akan kelahiran kedua anaknya yang memang sudah lama mereka nantikan, kedua baby twins yang akan menjadi pelengkap dari kebahagiaan di rumah kediaman Weil.
πππ
__ADS_1
Patricia sudah berada di rumah sakit yang sama dengan tempat saat ini Alice berada. Sudah sejak pagi ia menunggu kepergian Alice dan Raymond di depan rumah kediaman Weil. Patricia tahu betul keadaan di sana, maka itu keberadaannya sampai tidak dapat diketahui oleh Raymond.
Sangat sulit bagi Alexa untuk membuat Patricia mau mengerti tentang apa yang dikatakannya. Patricia sudah dibutakan oleh dendam, hingga membuat hatinya menjadi kejam.
"Aku akan menukar bayi Alice, aku tidak ingin mereka bahagia. Kalian harus merasakan penderitaanku selama 9 bulan di dalam penjara," gumam Patricia sambil mengamati ruang operasi tempat Alice berada saat ini.
πππ
1 jam kemudian.
Raymond masih menunggu dengan sabar di depan ruang operasi, raut wajahnya mulai dilanda kecemasan. Namun tak berapa lama Nicholas datang menghampiri Raymond, yang dilihatnya sedang duduk sendiri di sebuah kursi panjang.
Nicholas duduk tepat di sebelah Raymond, ia meremas erat pundak anaknya itu untuk memberikan Raymond ketenangan.
"Tidak usah khawatir, tenang aja, Dokter di sini sudah sangat profesional, karena ini rumah sakit keluarga kita dari kamu lahir, Ray."
Perkataan Nicholas belum cukup untuk membuat Raymond menjadi tenang, ia masih tampak gelisah, walau Raymond sudah mengangguk menanggapi apa yang Nicholas katakan padanya.
"Tetap saja Dad, ini momen pertamaku, aku sangat gugup, karena aku takut Alice kenapa-kenapa," gumam Raymond tampak masih cemas.
"Kau sepertinya perlu kopi untuk menenangkan kecemasanmu, biar aku suruh Kevin untuk membawakannya ke atas."
Nicholas mengambil ponsel dari dalam sakunya, kemudian langsung mencari kontak Kevin, lalu mulai menghubunginya. Tak perlu waktu lama, Kevin dengan sigap menjawab sambungan telepon Nicholas.
"Kevin, bawakan dua buah gelas kopi, ke lantai 10."
Kevin dengan cekatan bergerak untuk membeli kopi di sebuah tempat yang memang tersedia di rumah sakit. Setelah selesai membeli dua buah kopi sesuai pesanan, ia langsung menuju lift untuk naik ke lantai 10 seperti yang dikatakan oleh Nicholas.
Pintu lift terbuka. Kevin keluar dari dalam lift dengan langkah panjangnya. Namun tanpa sengaja ia menabrak Patricia yang dilihatnya sedang mengintip dan terus mengamati ke arah Nicholas dan Raymond.
Patricia mengaduh kesakitan, karena bahu kanannya harus tertabrak oleh tubuh Kevin.
"Kamu ini jalan hati-hati dong, ngapain pakai nabrak, apa gak punya mata ya?" geram Patricia menatap tajam wajah Kevin.
Kevin menatap heran kemarahan Patricia, ia sebenarnya bingung atas apa yang Patricia ucapkan, karena sudah jelas Patricia yang kurang hati-hati dan berbalik dengan semaunya. Kevin menanggapi ocehan Patricia dengan wajah datarnya sambil terus berlalu menuju ke arah Raymond dan Nicholas, untuk mengantarkan pesanan yang telah dibelinya.
__ADS_1
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ