
Selamat membaca!
Pagi yang indah dengan suasana yang begitu hangat di rumah kediaman keluarga Weil. Hari ini Risfa sudah kembali bekerja setelah usai masa cutinya. Kehadiran Risfa memang sangat dibutuhkan oleh Alice untuk menemaninya mengurus kedua anak kembarnya. Kebetulan hari ini mereka akan berangkat ke Australia untuk menghadiri acara pernikahan Richard dan Greta yang sudah tertunda selama 3 bulan lamanya.
Alice sudah tampil cantik dan sedang memakaikan pakaian kedua anak kembarnya. Namun belum juga selesai, tiba-tiba Raymond muncul dari dalam bathroom sambil memakai dasi.
"Sayang, ini dasiku sudah benar belum?"
Alice menghampiri Raymond dan dengan perlahan merapikan dasi yang Raymond kenakan.
"Suamiku sudah terlihat sangat tampan sekali."
Alice beranjak kembali menuju ke arah ranjang bayi kembarnya. Namun Raymond menahan langkahnya sesaat dengan meraih tangan Alice. Raymond kemudian menangkup kedua sisi lengan Alice. Ia menatap dalam kedua bola mata istrinya tersebut. Manik mata yang berwarna kebiruan, yang memantulkan wajahnya yang kini sudah semakin terpesona dengan kecantikan Alice.
"Kamu sangat cantik sayang, saat ini sudah tidak ada lagi masalah yang akan mengganggu hubungan kita. Kamu, aku dan kedua anak kita, kita akan selalu bahagia selamanya."
Raymond melabuhkan sebuah ciuman tepat di bibir Alice yang kini sudah merah dengan lipstik yang membalutnya. Keduanya sesaat saling mencumbu mesra. Hingga suara tangisan kedua anak mereka yang saling bersahutan memecahkan kemesraan mereka.
"Kalian ini pasti selalu iri melihat Mommy kalian dekat dengan Daddy." Raymond pun mengalah dan membiarkan Alice melangkah mendekati kedua anaknya yang saat ini sedang merengek.
Raymond tersenyum menatap kepergian Alice, aura kebahagiaan yang terpancar nyata dari wajahnya.
"Terima kasih Tuhan, kebahagiaan ini begitu indah."
🍀🍀🍀
30 menit kemudian.
Dua mobil mulai melaju meninggalkan pelataran rumah kediaman Weil, menuju Bandara Heathrow, tempat dimana jet pribadi Raymond berada.
"Sayang, aku bahagia dengan pernikahan Greta, akhirnya dia bisa merasakan cinta yang sesungguhnya dari Tuan Richard ya."
"Aku juga bahagia, karena Richard mau menerima Greta apa adanya, aku bangga memiliki seorang Kakak yang bijaksana seperti itu."
Mobil terus melaju membelah lalu lintas kota London. Setelah sampai di bandara, semua bergegas untuk menaiki jet pribadi yang pernah Raymond gunakan saat terbang ke Massachusetts. Pesawat jet pun mulai lepas landas menuju Australia.
"Sayang, ini pertama kalinya, aku terbang dengan menggunakan jet pribadimu, juga pengalaman pertama untuk kedua anak kita."
"Iya sayang, santai dan nikmati perjalananmu ya."
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya pesawat jet mulai mendarat di Bandara Internasional Sydney.
"Akhirnya kita sampai Jennifer, sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita," ucap Nicholas sembari menatap wajah Jennifer yang sudah terlihat tersenyum.
"Iya sayang, aku bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padaku. Aku masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama kalian."
__ADS_1
Alice dan Raymond menatap keduanya dengan penuh bahagia.
🍀🍀🍀
Di sebuah gedung pernikahan yang sudah dipenuhi oleh banyaknya tamu undangan. Pernikahan yang mewah dengan dekorasi elegan di setiap detailnya. Kini Alice dan Raymond sudah melangkahkan kedua kaki mereka untuk masuk ke gedung pernikahan sembari menggendong kedua anak mereka dalam dekapannya masing-masing.
Gedung pernikahan mewah yang terletak di pusat kota Sydney.
Saat itu resepsi pernikahan baru saja di mulai dengan kedua mempelai yang terlihat melangkah begitu serasi menuju pelaminan. Wajah keduanya tampak bahagia dengan seulas senyuman yang tak pernah memudar untuk menyapa para tamu yang hadir di hari bahagia mereka.
Setibanya di atas pelaminan, pandangan mata mereka langsung tertuju akan sosok yang mereka kenal hadir menaiki pelaminan.
"Tamu jauh datang, sayang," ucap Richard memberitahu Greta akan siapa yang datang.
Begitu berada di hadapan kedua mempelai, Raymond dan Alice langsung memberikan selamat dan ikut merasa bahagia atas pernikahan keduanya.
"Tentu aku tidak mungkin tidak datang Rich, lagipula ini hari yang bersejarah untuk kalian. Selamat ya brother."
"Terima kasih ya Ray, terima kasih karena kamu sudah mau datang jauh-jauh ke pernikahanku," jawab Richard masih menjabat tangan sang adik.
Setelah Raymond, kini giliran Alice memberi selamat kepada sang kakak ipar, sementara itu Raymond beralih kepada Greta. Di sinilah ikatan masa lalu yang pernah terjadi sudah terlihat pudar di antara keempatnya.
"Selamat berbahagia ya Richard, semoga kamu dan Greta selalu diberikan kebahagiaan seumur hidup," ucap Alice sambil menggendong Valicia dalam dekapannya.
Berbeda dengan Richard dan Alice, situasi canggung justru diperlihatkan ketika Raymond dan Greta saling berhadapan.
"Greta, akhirnya sekarang kamu sudah memperoleh kebahagiaanmu. Maafkan aku ya atas semua kesalahanku padamu di masa lalu. Hiduplah bahagia bersama Richard karena Kakakku itu pria yang baik."
"Aku sudah melupakan masa lalu kita, sekarang tidak perlu lagi bahas, lagipula bukan hanya kamu yang salah, tapi juga aku. Obsesiku yang berlebihan membuatku seperti orang gila mengejarmu, sampai akhirnya Richard menyadarkanku dan aku beruntung akan hal itu," jawab Greta penuh haru, saat mengingat semua yang dilakukannya sudah melampaui batas apalagi sampai mencelakai Raymond dan Alice.
"Pokoknya aku doakan, semoga kalian secepatnya mendapatkan momongan ya!" Raymond pun berlalu dan menunggu Alice di ujung pelaminan.
Setelah Raymond berlalu, giliran Alice yang kini memberi ucapan selamat kepada Greta dengan langsung memberi sebuah pelukan pada tubuh Greta, walau terhalang Valicia yang masih berada dalam gendongannya.
"Selamat ya Greta. Bahagia selalu ya dengan Richard."
"Terima kasih banyak ya Alice. Ponakan Tante ini lucu banget sih, Alice anakmu kenapa begitu menggemaskan, semoga aku juga punya anak kembar seperti kalian ya."
"Aku doakan Greta, semoga secepatnya kalian menyusul kami ya. Lagipula punya anak lucu itu sangat menyenangkan, selalu ada saja tingkah menggemaskan yang mereka berdua lakukan setiap harinya."
Greta terkekeh lucu sembari menggenggam tangan mungil Valicia.
"Valicia, sini gendong Tante mau gak?" tanya Greta dengan mendekatkan wajahnya ke arah Valicia yang menggemaskan.
__ADS_1
"No.." celoteh Valicia merengek, memberikan kode bahwa ia tak ingin jauh dari dekapan Alice.
"Wah dia gak mau Greta, maaf ya. Memang Valicia selalu manja denganku. Bahkan dengan Raymond pun selalu menangis dia."
"Dasar anak Mommy Alice ya."
Akhirnya Raymond dan Alice menyudahi canda tawa mereka di atas pelaminan untuk memberikan kesempatan pada tamu undangan yang lainnya. Mereka pun segera turun karena memang antrian sudah mulai mengular di belakang mereka.
"Sayang, kita berapa hari akan menetap di Australia?" tanya Alice menautkan kedua alisnya.
"Paling dua hari ya sayang."
Alice pun tersenyum karena baginya dua hari adalah waktu yang cukup untuk mengajak kedua anaknya berkeliling kota Sydney.
Saat langkah Alice sedang menuju sebuah buffet, ia melihat sosok Kelly hadir dengan stelan gaun berwarna merah yang elegan. Alice pun memutuskan untuk mendekat ke arah Kelly, diikuti oleh Raymond yang terus mengekor di belakangnya tanpa bertanya.
"Kelly," sapa Alice memanggil.
Kelly menoleh dan melihat kedatangan Alice yang semakin mendekatinya, hingga membuatnya terhenyak karena pertemuan ini adalah sesuatu yang tidak diinginkannya setelah gagal menikah dengan Elliot dan membuat Elliot sampai koma.
"Apa kabar Kelly? Aku sepertinya tidak perlu terlalu sopan kepadamu ya!" ucap Alice dengan tegas mengingat apa yang dilakukannya kepada Elliot, sungguh membuatnya sangat geram.
"Maafkan aku Alice, tapi semua itu bukan keinginanku untuk menyakiti Elliot."
Alice menautkan kedua alisnya. Sorot matanya tajam menatap wajah Kelly yang kini terlihat canggung. Hubungan baik di antara mereka harus berubah tegang, saat Alice mendapati kondisi sang kakak hampir tidak bisa diselamatkan. Namun, beruntung semenjak dipindahkan ke London keadaan Elliot berangsur membaik, walau masih dalam kondisi belum sadarkan diri.
Mendengar tanggapan Kelly yang seakan tak tahu apa-apa, Raymond pun menimpalinya.
"Selama dua hari di sini, aku akan menemui Ayahmu Nona Kelly, aku akan meminta pertanggung jawaban padanya atas apa yang dilakukannya kepada Elliot!"
Kelly menelan salivanya dengan kasar. Rahang Raymond yang sudah mengeras, menunjukkan bahwa dirinya juga sangat kecewa dengan perlakuan yang dilakukan oleh keluarga Kelly terhadap Elliot.
"Tapi apa kalian punya bukti? Karena semua itu hanya bersumber dari perkataan Alissa saja 'kan, aku sendiri menanyakan kepada Kakak dan Ayahku, tapi mereka selalu saja mengelak. Aku juga kesal Alice, aku ingin marah tapi aku tidak punya cukup bukti."
Raymond menaikkan kedua alisnya dengan sorot mata yang tajam. "Kau tenang saja Kelly, biar Benjamin yang akan mencari bukti itu. Kamu dan keluargamu hanya tinggal menunggu polisi datang menangkap kalian semua!" kecam Raymond dengan gurat amarah yang terlihat di wajah tampannya.
Kelly hanya diam dan tak menjawab apa yang Raymond katakan. Wanita itu memilih untuk pamit kepada keduanya dan berlalu begitu saja.
"Maaf jika pertemuan kita harus tegang seperti ini, tapi aku juga akan menyelidiki masalah ini dan setelah aku mendapatkan bukti yang kuat, aku pastikan akan pergi dari rumah untuk meninggalkan keluargaku. Aku permisi Alice."
Kepergian Kelly membuat Alice masih menyimpan amarah padanya karena sebagai wanita yang menjadi alasan Elliot datang ke Australia, Kelly tak bisa melindungi pria yang dicintainya dari keluarganya. Bahkan wanita itu saja masih belum mempercayai sepenuhnya kalau keluarganyalah yang melakukan semua itu kepada Elliot.
"Sayang, kamu harus tenang! Kita pasti akan menyeret keluarga mereka ke dalam penjara, atas apa yang mereka lakukan terhadap Elliot!"
Alice tersenyum menatap Raymond dengan lekat. Ia sangat mempercayai semua perkataan yang Raymond katakan padanya. Hatinya kini sudah lebih tenang dan ia pun kembali menikmati acara pernikahan ini dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Aku mengandalkanmu Tara, jaga Kakakku dengan baik ya," batin Alice sembari menghela napasnya untuk meredakan amarah yang membuncah dalam dirinya.
Bersambung ✍️