Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Mati Kau


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menuju ke arah pintu kamar.


"Aku harus menyelamatkan Greta."


Alice menghela napasnya dalam, ia lalu menyentuh handle pintu kamarnya dan membuka dengan lebar, ia keluar dengan langkah yang penuh keyakinan tanpa ada sedikit pun keraguan.


Thomas dan beberapa anak buahnya mulai melihat kedatangan Alice.


"Berani sekali kau Nona," ucap Thomas terpukau dengan keberanian Alice, belum lagi paras cantik Alice menambah kekaguman Thomas terhadap sosok wanita yang kini ada dihadapannya.


"Setidaknya aku bukan seorang pengecut yang beraninya hanya kepada seorang wanita," tutur Alice dengan berkacak pinggang, sorot mata yang tajam menyiratkan amarah di raut wajahnya.


Thomas terkekeh sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan Greta.


Dasar bodoh kau Alice.


Greta memicingkan senyum tipisnya.


"Terima kasih Alice, kau sudah datang menyelamatkanku," ucap Greta sambil menyeka air matanya.


Greta berlari ke arah Alice dan langsung berlindung di balik tubuh Alice.


"Aku takut Alice, mereka akan kembali menyiksaku," ucap Greta dengan bibir gemetar penuh ketakutan.


Alice terkesiap melihat kondisi Greta yang saat ini sudah tidak lumpuh lagi, bahkan sudah dapat berlari.


"Greta kamu sudah sembuh? Syukurlah kalau begitu," tanya Alice sambil menautkan kedua alisnya.


Aduh, aku lupa, seharusnya kan aku lumpuh ya.


Greta kembali memasang wajah sendunya penuh dengan air mata.


"Iya Alice aku sendiri bingung, saat aku coba menyelamatkan diriku dari semua orang yang menyeramkan ini, tiba-tiba aku sudah bisa berlari," kilah Greta mencari alasan agar Alice bisa mempercayainya.


Alice mencerna perkataan Greta sejenak, tiba-tiba terlintas dipikirannya semua yang dikatakan oleh Elliot dan tentang peringatan dari Raymond sebelum dirinya keluar dari tempat persembunyian.


"Lebih baik aku pura-pura percaya dengan apa yang dikatakan oleh Greta, aku harus cari tahu sebenarnya dia sedang membodohiku atau tidak," gumam Alice berpikir memutar otaknya.


Thomas mulai melangkah mendekatinya, Alice dan Greta semakin terpukul mundur dengan perlahan. Sampai akhirnya semua anak buah Thomas mengelilingi Alice, membuatnya tak bisa melarikan diri.


"Bagaimana ini jumlah mereka terlalu banyak? Tidak ada celah untukku bisa kabur," batin Alice yang semakin terdesak.


Dari sebuah pilar di lantai bawah, Richard terus mengamati semua kejadian yang sedang berlangsung di lantai atas, dengan sangat mengesankan Richard berhasil membunuh 3 orang lagi tanpa meninggal suara atau jejak sedikit pun, saat ini total anak buah Thomas hanya tersisa 10 orang dia area dalam rumah, sementara 12 orang lainnya bersama George sedang berjaga di area luar rumah depan dan belakang.


"Sial, kenapa Alice harus tertangkap?" gerutu Richard mengesah pelan


Richard mulai menghitung jumlah anak buah Thomas yang saat ini dapat dilihatnya.


"10 orang, dua pistolku cukup untuk membunuh semua orang yang berada di atas," gumam Richard bersiap untuk beraksi.


Richard mulai mengendap-endap dengan perlahan, menaiki anak tangga. Tatapan matanya terus tertuju ke arah Alice yang saat ini sudah semakin terdesak.


"Sudahlah Nona, kau sudah tidak bisa lari lagi, cepat suruh orang yang bernama Richard itu keluar dari persembunyiannya, agar aku bisa menghabisinya dan membalaskan dendamku, karena dia telah membunuh Zack, Kakakku."


Richard menghentikan langkahnya sejenak, ia mulai paham dan yakin bahwa dalang dari semua ini adalah Greta.


"Jadi Pria itu sengaja mengirim Greta terlebih dahulu untuk menyelidiki keadaan rumah kediaman keluarga Weil beserta keamanannya," gumam Richard yang kini sudah paham apa yang saat ini sedang terjadi.

__ADS_1


Richard mengepal tangannya erat-erat, wajahnya semakin mengeras setelah mendengar perkataan dari Thomas.


"Licik sekali kau Greta," gumam Richard memendam amarahnya terhadap Greta.


Richard kembali melanjutkan langkahnya dengan sangat perlahan, sambil menggenggam kedua pistol di kedua tangannya.


Thomas meraih tangan Alice. Ia menghempaskannya dengan kasar hingga membuat Alice terjatuh kesakitan.


"Au..."


Alice kini terjerambab di dasar lantai. Greta terlihat melawan Thomas dengan sekuat tenaganya.


"Jangan sakiti Alice, jangan, dasar kau pria jahat."


Greta terus memukul tubuh Thomas dengan sembarang, setelah lama hanya diam menerima pukulan dari Greta, akhirnya Thomas meraih tangan Greta dan mencengkram dengan kuat hingga membuat Greta meringis kesakitan. Thomas menghempaskan tubuh Greta ke sisi yang sama dengan tempat Alice terjatuh, namun kepala Greta terlihat terbentur dasar lantai, membuatnya Greta seketika langsung tak sadarkan diri.


Alice yang melihatnya langsung menghampiri Greta dengan rasa cemasnya, dalam hatinya kembali yakin, bahwa memang Greta sudah berubah dan tidak ada alasan untuk Alice mencurigainya.


Richard memandang dengan penuh tanda tanya.


"Jika dalang semua ini adalah Greta, kenapa Pria itu menyakitinya," gumam Richard semakin penasaran.


Richard mengernyitkan dahinya, ia memutar otaknya untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya.


"Jangan-jangan dugaanku salah, berarti Greta memang sudah berubah," gumam Richard mulai mempercayai apa yang saat ini dilihatnya.


Richard sudah siap untuk memulai pertarungannya. Matanya tajam melihat ke sejumlah targetnya.


Tanpa sebuah aba-aba di saat Thomas semakin dekat menghampiri Alice, Richard melompat dan berguling tepat dihadapan Thomas, lalu menodongkan pistolnya pada pelipis Thomas sambil bangkit berdiri.


"Perintahkan anak buahmu untuk membuang senjatanya! Cepat!" titah Richard dengan membentak.


"Tunggu apalagi cepat buang, ikuti perintahnya!" titah Thomas berteriak memberikan perintah pada seluruh anak buahnya.


Raymond yang sudah memantau dari balik kamar, segera keluar dan mengambil sebuah pistol yang telah dibuang oleh anak buah Thomas.


Raymond mendekati Alice, ia memeriksa keadaan Alice dengan teliti.


"Kau tidak apa-apa sweety, aku sangat mencemaskanmu."


Alice yang pandangannya masih tertuju pada Richard terlihat mengabaikan pertanyaan dari Raymond.


Lagi dan lagi kau menyelamatkanku Tuan Richard.


"Ayo sweety bangun, kita menjauh dari tempat ini."


Raymond memapah tubuh Alice dengan susah payah, ia langsung membawa Alice kembali ke dalam kamar untuk melindunginya.


"Bagus Ray, lindungi Alice dan menjauhlah," gumam Richard masih menatap kepergian Alice dan Raymond.


"Kau ingin membalaskan dendam Kakakmu? Apa kau tidak sadar, Kakakmu mati karena membantu wanita yang salah!"


Thomas terhenyak mendengar ucapan Richard.


"Apa maksudmu?"


Richard terkekeh sampai suara tawanya memenuhi seisi ruangan.


"Wanita itu, telah memperalat Kakakmu untuk kepentingannya, agar bisa membalaskan dendamnya pada Alice, wanita itu adalah seorang pelakor!" tutur Richard dengan sangat kesal sambil menunjuk ke arah Greta.

__ADS_1


Richard dengan cepat langsung menghabiskan isi peluru di pistol yang saat ini digenggam di tangan kirinya. Ia membunuh 5 orang anak buah Thomas dalam hitungan 1 menit, tanpa merubah posisi berdirinya yang masih menodongkan pistolnya pada pelipis Thomas.


"Sisa 5 orang lagi, tanpa senjata aku bisa menghabisi mereka semua dengan tangan kosong."


Thomas tercengang sambil menelan salivanya dalam-dalam, ia tidak menyangka Richard sanggup melakukan semua itu tepat dihadapannya.


"Siapa kau sebenarnya?"


Richard kembali terkekeh.


"Sebelum berurusan denganku, sebaiknya kau selidiki dulu latar belakangku, aku mantan anggota FBI terlatih di Australia."


Thomas terperanjat kaget dengan apa yang didengarnya.


"Brengs*k orang ini ternyata bukan hanya seorang pengusaha biasa, pantas saja cara menembaknya begitu tepat sasaran," gumam Thomas berdecak kesal dalam hatinya.


Thomas melirik menatap ke arah Greta yang saat ini masih terjerambab di dasar lantai, tanpa Richard sadari Greta membuka sedikit matanya untuk melihat sebuah kode dari Thomas.


Thomas memutar tubuhnya dengan perlahan, agar posisi tubuh Richard membelakangi posisi Greta.


"Kau memang hebat Richard," ucap Thomas sambil bertepuk tangan dan memutar tubuhnya.


Richard yang tak menaruh rasa curiga sama sekali, mengikuti arah langkah Thomas tanpa melepaskan sejenak saja todongan pistolnya pada pelipis Thomas.


"Tembaklah!" teriak Thomas sambil melototi wajah Richard.


Dor


Richard terhenyak sampai membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


Dor


Richard tak percaya, karena dua buah tembakan melesat menembus bahu kiri dan lengan kanannya.


Richard dalam sekejap langsung terjatuh, genggaman pistolnya terlepas dari tangannya. Richard menoleh ke arah Greta, dilihatnya saat ini Greta sedang berdiri dengan menggenggam pistol di tangannya yang mengarah padanya. Greta tersenyum sinis merayakan kemenangannya.


"Sial, dasar kau wanita jal*ng."


Richard tersungkur di dasar lantai dengan darah yang sudah bercucuran, wajahnya kini begitu meringis kesakitan.


Thomas tertawa terbahak-bahak menyaksikan kemenangannya. Ia begitu puas melihat kondisi Richard saat ini, sudah tak berdaya.


Thomas menginjak kepala Richard dengan keras.


"Mati kau Richard!"


"Auuu," Richard meringis kesakitan.


Raymond begitu kesal melihat Richard yang saat ini sedang sekarat dan diperlukan dengan sangat rendah, dari celah pintu kamarnya. Rahangnya mengeras memendam amarahnya, karena ia tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Richard.


"Sial, apa yang harus aku lakukan?" gumam Raymond bertanya dalam hatinya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Bagaimana nasib Richard setelah ini?


Ikuti terus ya dan berikan komentar kalian, jangan lupa like di setiap episodenya ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2