Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Hadiah


__ADS_3

Selamat membaca!


Sebuah mall mewah di pusat kota London. Raymond terlihat melangkah beriringan bersama Alice dan Greta. Pemandangan yang pasti tidak bisa ditebak, di saat ketiganya kini sudah menjadi satu keluarga.


"Alice aku juga sekalian ingin memberikan Richard sebuah hadiah, mungkin Raymond bisa membantuku untuk menentukan mana yang Richard sukai."


Raymond melirik singkat ke arah Greta, ia belum menjawab atau mengiyakan perkataan Greta.


"Perasaan canggung apa ini? Jalan bertiga dengan istri dan wanita yang pernah menjadi selingkuhanku. Ya ampun Ray, sungguh memalukan, kenapa dulu kau itu bodoh sekali dan tidak berpikir terlebih dulu sebelum melakukan apa-apa."


Alice menengadahkan sedikit wajahnya untuk menatap wajah Raymond, yang saat ini terlihat sedang melamun. Alice meraih tangan Raymond dan menggenggamnya dengan erat, ia seperti tahu apa yang saat ini ada di dalam pikiran suaminya itu. Raymond pun langsung menatap wajah istrinya yang kini sudah tersenyum ke arahnya.


"Sudah, tak usah pikirkan masa lalu," ucap Alice dengan suara yang pelan, karena ia tak mau Greta yang kini berada di depannya, sampai mendengar apa yang dikatakannya.


Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam outlet jam tangan, karena Alice ingin memberikan hadiah sebuah jam tangan couple untuk pasangan Risfa dan Albert.


Raymond terus mengekor di belakang Alice dan Greta, ia selalu menyilangkan kedua tangannya di atas dada sembari memperhatikan apa yang dilakukan oleh Alice.


"Sweetu, sini dong. Kamu ngapain sih di belakang kita, sini jalan di samping aku," ucap Alice sembari melambaikan tangannya, meminta Raymond agar mendekat ke arahnya.


Raymond menurut dan menghampiri Alice, kini ia berdiri di samping Alice yang sedang memilih dua box jam tangan couple di hadapannya.


"Sweetu, mana menurut kamu yang bagus dan cocok untuk Albert dan Risfa?" tanya Alice sembari memeluk lengan Raymond.


"Warna putih sepertinya menarik, seingatku Albert tidak punya jam warna putih," jawab Raymond dengan mengusap dagu runcingnya.


"Tapi kenapa tidak yang hitam metalik ini saja? Biar cocok kalau mau pakai baju warna apa saja."


"Ya sudah terserah kamu saja sweety, pokoknya apapun yang kamu pilihkan, pasti mereka senang dan bahagia."


Alice terlihat serius berpikir, kedua alisnya kini saling bertaut sambil membagi pandangannya ke arah dua buah jam tangan yang membuatnya bingung untuk memilih.


"Kalau gitu warna putih saja ya! Aku ikuti apa yang suamiku katakan saja."


Raymond tersenyum dengan pilihan Alice. Namun tiba-tiba dari seberang sana, di outlet yang sama yang ternyata juga menjual pakaian kerja, terlihat Greta berusaha terus memanggil mereka.


Sebelum Alice menghampiri Greta, ia tampak berbicara dengan salah satu petugas outlet untuk mengemas dua buah jam tangan, yang sudah dipilihnya. Setelah semuanya selesai, ia segera melangkah bersama Raymond untuk mendekat ke arah Greta yang terlihat sedang sibuk dengan beberapa kemeja dan dasi yang digenggamnya.

__ADS_1


"Ya Greta, yang merah marun itu juga bagus untuk Richard, aku rasa dia sangat tampan jika mengenakan itu."


Raymond berdehem keras, tanda ia tak menyukai apa yang baru dikatakan oleh Alice.


"Tapi tetap lebih tampan kamu sweetu. Oh ya apa kamu juga ingin aku belikan?" ucap Alice menawarkan sebuah kemeja yang saat ini sudah digenggamnya dan langsung ditunjukannya kepada Raymond, sebuah kemeja berwarna biru tua yang terlihat elegan dengan sebuah dasi berwarna hitam.


Greta akhirnya mengikuti apa yang disarankan oleh Alice. Ia pun memilih kemeja berwarna merah marun yang sudah digenggamnya sedari tadi, namun ia masih kebingungan menentukan warna dasi yang cocok untuk dipadupadankan dengan warna kemejanya.


"Apa lagi Greta yang kamu pikirkan?"


"Dasinya kira-kira warna apa Alice?" tanya Greta dengan menautkan kedua alisnya.



Di saat keduanya sedang mengamati beberapa dasi yang terpajang di beberapa kotak, tiba-tiba Raymond mendekat dan mengambil sebuah kotak yang di dalamnya terdapat dasi berwarna hitam dengan sebuah motif yang terlihat sangat elegan.



"Lebih baik yang ini, Richard pasti menyukainya."


Greta pun tersenyum bahagia, ia pun tanpa sadar meraih pundak Raymond dan langsung memberikan sebuah pelukan singkat padanya. Alice yang melihatnya hanya diam mematung tak bergeming, kedua bola mata sudah membulat dengan sempurna, menyaksikan apa yang saat ini berlangsung dihadapannya.


"Greta, are you crazy?"


Raymond tampak geram dengan tingkah Greta yang menurutnya sungguh kelewatan. Keadaan seketika berubah menjadi canggung, Greta yang merasa tidak enak langsung berusaha menjelaskan, apa yang baru saja dilakukannya.


"Aku tidak ada maksud apa-apa, kita ini kan sekarang keluarga, apa kau masalah dengan semua ini Alice? Saat ini Richard itu akan menjadi suamiku, yang berarti Raymond adalah adik iparku."


Alice menatap wajah Greta dengan penuh selidik, ia terus mengamati raut wajah Greta saat berucap sambil membagi pandangannya ke arah Raymond dan Alice.


"Iya tidak apa-apa sweetu, betul yang dikatakan oleh Greta, aku juga biasa saja kok, kamu tidak usah marah ya," ucap Alice dengan memberikan sebuah usapan pada lengan kekar suaminya itu.


Amarah Raymond seketika mereda, suasana yang sempat terasa tegang, kini langsung mencair seperti sedia kala. Greta kemudian mengambil sebuah box dasi yang sudah dipilihkan oleh Raymond dan menuju kasir untuk melakukan proses transaksi pembelian.


Greta melangkah meninggalkan Alice dan Raymond yang terdengar masih sedikit berdebat kecil atas apa yang baru saja terjadi.


"Aku tidak suka sweety, apa coba maksudnya peluk-peluk aku? Aku kan sekarang sudah sepenuhnya milik kamu, tidak ada yang bisa memeluk aku selain kamu seorang sweety."

__ADS_1


Perkataan Raymond sejenak menepikan hal yang tak enak yang tadi dilihat oleh Alice. Wajah Alice kini bersemu merah dengan untaian kata-kata romantis yang baru saja terlontar dari mulut suaminya itu. Alice langsung bergelayut pada lengan Raymond dengan manja, keduanya kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah yang kembali tersenyum.


"Dasar Greta, Kakak ipar sih Kakak ipar tapi jika pelukan itu mempunyai maksud membuat Alice cemburu, aku tidak akan memaafkannya, sebaiknya dia dan Richard segera kembali ke Australia saja, agar rumah tanggaku dengan Alice yang sudah tenang tidak lagi terusik oleh suatu masalah," gumam Raymond dengan mengernyitkan dahinya sambil menatap tajam ke arah Greta yang saat ini sedang melakukan transaksi pembayaran di kasir.


Setelah menghabiskan 3 jam lebih di dalam mall, akhirnya ketiganya langsung menuju parkiran mobil, untuk kembali pulang. Greta sudah membeli hadiah untuk Albert, sebuah hadiah yang pastinya sangat disukainya yaitu sebuah drone yang memang sangat digemari oleh Albert, karena Albert sering memainkan itu di rumah kediaman keluarga Weil.



🍀🍀🍀


Rumah kediaman keluarga Weil di ruang tamu, tampak Richard dan Nicholas sedang berkutat dengan MacBook-nya masing-masing. Mereka sedang berusaha menemukan keberadaan Jennifer yang ternyata sudah sembuh dari 6 bulan yang lalu.


"Sebaiknya aku minta tolong Benjamin, semoga dia tidak sibuk sekarang."


Richard mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Benjamin. Tak butuh waktu lama, Benjamin langsung menjawab panggilan telepon dari Richard.


"Iya halo, Tuan ada apa?"


"Bagaimana kabarmu Ben? Setelah misi penyelamatanmu berakhir, kapan kau dan team-mu akan kembali ke London?" tanya Richard dengan nada suara yang terdengar serius.


Benjamin dengan cermat mampu membaca perasaan resah, yang saat ini sedang dirasakan oleh Richard.


"Apa ada masalah Tuan?" Jika kau membutuhkan kami, kami akan secepatnya kembali ke London? Lagipula sepertinya tugasku di sini sudah selesai."


"Kalau begitu cepatlah datang, aku ingin kamu melacak keberadaan seorang wanita yang bernama Jennifer!"


"Jennifer, siapa wanita itu Tuan?"


"Dia adalah Ibuku, ternyata dia masih hidupku."


Benjamin terhenyak kaget, namun dirinya turut senang, karena itu tandanya ada harapan untuk Richard dapat bertemu kembali dengan sosok ibunya yang selama ini, dikiranya sudah tiada.


"Baik Tuan, tunggu dalam 2 hari ini, aku secepatnya akan sampai di London."


💐💐💐


Bersambung ✍️

__ADS_1


Berikan komentar kalian?


Terima kasih ya.


__ADS_2