Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Pernikahan Alex


__ADS_3

Selamat membaca!


2 Minggu kemudian.


Saat ini usia kandungan Alice hampir memasuki 8 bulan, perutnya sudah terlihat begitu besar, membuat langkahnya menjadi terbatas, geraknya tak selincah dahulu dan yang paling membuat Raymond kewalahan adalah permintaan Alice yang susah untuk dicarinya, sebut saja salah satunya adalah cilok, sebuah makanan dari Indonesia yang sempat Alice makan sewaktu mereka tinggal di sana.


Raymond sampai memerintahkan Risfa untuk menghubungi Siti, agar dapat menanyakan bagaimana cara membuatnya. Beruntung Risfa kini sudah mengerti cara membuat cilok, jadi sewaktu-waktu Alice menginginkannya, Risfa dapat dengan cepat membuatnya.


Alice tampak tengah memilah dan memilih gaun yang akan dikenakannya hari ini bersama Raymond untuk hadir di acara pernikahan Alex yang berlokasi di Maldives.


"Sweetu, sini deh! Aku pakai gaun ini cocok gak? Soalnya kan perut aku udah besar banget." Alice memanggil suaminya untuk bertanya dengan raut wajah yang muram.


Tidak lama Raymond segera menyusul Alice yang berada di walk in closet.


"Kamu pakai apapun pasti cantik kok sweety, gaun ini cocok banget sama warna kulit kamu," jawab Raymond sambil memegang bahu istrinya yang sedang kurang percaya diri.


Alice berjalan menuju cermin, ia membolak-balik tubuhnya saat di hadapan kaca besar, alisnya saling mengkerut dengan bibir pink yang mengerucut.


"Hei, kenapa cemberut?" tanya Raymond seraya menghampiri Alice dan memeluknya dari belakang sambil menyandarkan dagunya di bahu Alice.


"Aku gak percaya diri lagi dengan penampilan seperti ini, kenapa kehamilan ini membuatku gendut ya sweetu? Kalau kamu sampai berpaling bagaimana? Apalagi tamu-tamu Tuan Alex di Maldives nanti pasti dari kalangan orang atas dan semua wanita di sana pasti cantik-cantik dan langsing!"


"Sstthh, kamu tidak boleh bicara seperti itu sweety. Kamu juga dulunya langsing, sekarang kamu seperti ini karena sedang mengandung, bahkan langsung mengandung dua bayi kembar sekaligus, kamu tidak boleh menyesali kehamilan ini ya. Satu lagi, aku tidak akan pernah berpaling darimu lagi, bagiku kamu adalah wanita tercantik satu-satunya di dunia. Aku sudah berubah dan kamu harus percaya!"


Perkataan Raymond membuat Alice beberapa saat merenung. Ia merasa bersalah karena sempat berpikiran yang tidak-tidak lagi tentang suaminya, padahal Alice sudah berjanji akan mempercayai Raymond sepenuhnya, apapun yang terjadi.


Alice membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Raymond, lalu ia memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Sweetu, maaf kalau aku bicara seperti tadi, aku tidak sengaja mengucapkannya. Mungkin hormonku sedang naik hingga menjadi wanita pencemburu seperti ini. Tolong jangan pergi tinggalkan aku lagi sweetu yang pernah kamu lakukan," ucap Alice yang sudah terisak karena takut kehilangan suaminya lagi seperti dua Minggu yang lalu.


"Jangan takut, aku tidak akan pergi lagi. Sekarang hapus air matamu lalu kita segera berangkat, agar bisa datang tepat waktu untuk hadir di acara bahagia Alex dan Rianti hari ini."


Raymond membantu Alice untuk menghapus air matanya, lalu ia menggantikan pakaian rumahan Alice dengan gaun untuk datang ke acara pesta pernikahan.


Alice hanya diam mematung dan menuruti semua perintah suaminya tanpa membantah.


Sesekali Raymond mencium perut besar Alice saat menggantikannya pakaian. Setelah selesai memakaikan gaun, Raymond membawa Alice masuk ke dalam kamar untuk mulai merias wajahnya, tugas itu akan diserahkan pada pegawai salon yang sudah Raymond sewa satu hari untuk melayani Alice.


"Sekarang kamu duduk santai dulu disini, sebentar lagi ada perias yang akan merias wajahmu," ucap Raymond sambil memijat bahu Alice yang pasti terasa letih karena membawa beban dua bayi sekaligus dalam perutnya.


Raymond berubah jadi lebih perhatian pada Alice, memanjakan istrinya yang sudah mendekati persalinan. Selama Raymond pergi meninggalkan rumah, ia selalu belajar tentang merawat seorang wanita yang sedang hamil dari beberapa sumber terpercaya, karena Raymond sangat ingin melakukan yang terbaik untuk Alice, wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Kamu serius sewa pegawai salon cuma buat merias wajahku? Itukan pekerjaan mudah sweetu, aku juga bisa melakukannya sendiri."


Alice tertawa tiada henti saat tahu ternyata suaminya itu tidak ingin membuatnya repot dan kelelahan, hingga air mata menetes dari kedua sudut matanya.


"Sweety, jangan menangis. Aku bukannya tidak mempercayaimu soal merias wajah, tapi aku ingin membuatmu lebih mudah lagi selama kehamilan ini."


"Ini tuh air mata kebahagiaan sweetu, aku bahagia dengan sikapmu yang terlalu memanjakan aku," ucap Alice masih terus tertawa sambil memegangi perut besarnya dan menghapus air mata kebahagiaan yang mengalir di pipi.


Raymond kembali mendekap tubuh Alice dari belakang, ia mengalungkan tangannya di leher Alice dan bibirnya mengecup hangat puncak kepala istrinya itu.


Saat kemesraan itu terjalin, tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu kamar Raymond.


Raymond berdiri dan berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Risfa bersama seseorang yang akan merias istrinya.


"Ya masuk! Alice sudah duduk di depan meja riasnya," titah Raymond sedikit tersenyum ramah.


"Baik tuan," jawab Risfa.


Saat Risfa masuk ke dalam kamar, Raymond berjalan keluar, ia ingin mencari sebuah cemilan yang bisa dimakan oleh istrinya sambil menunggu wajahnya selesai dirias, agar Alice dan kedua bayinya terus merasa kenyang dan tidak kekurangan baik gizi ataupun nutrisi.


Pantas saja berat badan Alice naik drastis, itu karena Raymond sangat memanjakan Alice dan memperhatikan pola makan istrinya dengan teratur selama dua Minggu ini sejak kepulangannya.


🍂🍂🍂


Keduanya sudah menaiki mobil dengan Albert seperti biasa selalu setia menemani mereka di kursi kemudinya. Kali ini Raymond mengajak Benjamin dan Colin ikut serta sekaligus untuk mengawalnya. Sementara Christopher dan Arnold bertugas berjaga keamanan di rumah kediaman Weil.


Raymond sudah menyiapkan pesawat jetnya yang sama, sewaktu ia gunakan saat dulu terbang ke Massachusetts untuk memenuhi undangan Alexander Kemal Malik.


Perjalanan panjang yang ditempuh tak terasa ketika di dalam pesawat. Pesawat yang sangat nyaman bahkan seperti berada di dalam rumah sendiri. Raymond dan Alice sudah tiba di Bandara Internasional Maldives, bersama Benjamin dan Colin kemudian mereka menaiki sebuah mobil yang memang sudah ditugaskan oleh Alex untuk menjemput mereka di Bandara.



"Kita sudah sampai sweetu, itulah Maldives."


Sebuah helikopter mendarat sempurna di Pulau Maldives. Pulau nan indah dengan tata resort yang nyaris sempurna, walau memang kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan semata, namun keindahan yang ada di Pulau Maldives pasti akan membuat semua mata berdecak kagum melihatnya, seperti itulah yang kini dirasakan oleh Alice saat pertama kali dalam hidupnya, ia datang ke pulau ini.


Pernikahan Alex dan Rianti akan diadakan di sebuah resort mewah yang bernama Four Seasons Resort Maldives di Landa Giraavaru. Sebuah resort yang menyiapkan sebuah paviliun di tengah Samudra Hindia, khusus untuk sebuah pernikahan yang menawarkan keindahan alam laut Maldives. Paviliun yang memiliki lantai ruangan yang terbuat dari kaca tembus pandang, sangat memungkinkan tamu-tamu yang hadir untuk melihat biota laut seperti kura-kura dan ikan warna-warni berenang ke sana kemari di dasar laut.


🍂🍂🍂


Raymond dan Alice sudah memasuki ruangan resort diiringi oleh Benjamin dan Colin yang juga sudah tampan dengan sebuah jas hitam elegan yang mereka kenakan.

__ADS_1



Semua tamu sudah terlihat hadir dan duduk untuk menikmati berbagai makanan dan minuman yang tersaji di atas meja.


"Sweetu, pernikahan ini lebih mewah ya dari pernikahan kita."


Raymond memicingkan kedua matanya melirik ke arah Alice.


"Apa kau mau kita menikah ulang seperti yang Alex dan Rianti lakukan?" tawar Raymond tersenyum menatap wajah Alice dengan lekat.


"Tidak perlu sweetu, aku sudah bahagia melihatmu dengan segala perubahanmu saat ini, itu saja sudah cukup bagiku."


Alice menyandarkan dirinya pada dada Raymond dengan menggenggam erat tangan suaminya itu. Saat sepasang mata Raymond menangkap sosok Alex dan Rianti, ia pun menuntun Alice untuk menghampiri keduanya, sekedar memberikan selamat atas hari bahagia yang saat ini sedang berlangsung.


"Hai, Dude," sapa Raymond sembari masih memeluk Alice di sampingnya.


Alex menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya.


"Kau datang juga Ray, bagaimana keadaan di London?"


"Semua tampak baik Alex, terima kasih kau telah datang waktu itu untuk menyelamatkanku, aku berhutang budi padamu."


Alex terkekeh lucu mendengar perkataan Raymond, dengan memicingkan sorot matanya, Alex menatap tajam wajah Raymond sambil menautkan kedua alisnya.


"Setia saja pada istrimu dan jaga keluargamu, itu sudah cukup untuk membalas budiku, ingat jangan sampai kau merepotkanku lagi!" ucap Alex yang langsung disambut dengan sebuah senyuman oleh Alice yang mendengarnya.


Rianti pun ikut tersenyum melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya, ia begitu bangga mendapati suami begitu mempedulikan sahabatnya, sampai dia rela untuk membahayakan dirinya demi menyelamatkan Raymond dan Alice.


Rianti mengarahkan pandangan matanya ke perut Alice yang terlihat lebih besar dari kandungannya.


"Alice sepertinya kau sedang mengandung bayi kembar ya?" tanya Rianti sambil mengusap perut Alice dengan lembut.


"Iya begitulah Nyonya Alexander Kemal Malik, kami akan memiliki bayi kembar," jawab Raymond dengan senyuman bahagianya.


Alex tertawa," Congrats, Dude. Aku ikut bahagia."


Setelah tegur sapa dengan pasangan yang sedang berbahagia, Raymond dan Alice kembali berbaur dengan tamu-tamu undangan lainnya.


🏵️🏵️🏵️


Bersambung ✍️

__ADS_1


Berikan komentar kalian ya?


Terima Kasih.


__ADS_2