
Selamat membaca!
"Albert ayo kita kembali ke kantor!" titah Raymond dengan mata memerah dan basah.
Albert yang mendengar, langsung bergegas membukakan pintu mobil untuk Raymond dan segera duduk di kursi kemudinya.
Selama 10 tahun aku baru melihat Tuan Raymond menangis.
Mobil melaju dengan cepat, membelah lalu lintas yang lumayan padat.
Raymond duduk tak nyaman, rasa hancur yang begitu sakit menaungi dirinya, membuat air mata yang tak sanggup ia tahan, lolos jatuh dari mata arogannya.
Bayangan Alice yang begitu dekat dengan Richard terus terlintas dalam pikirannya, hatinya sakit melihat semua itu, ia tak ingin marah atau sampai menghajar Richard karena telah menyentuh Alice. Raymond menyadari ini adalah hasil dari perbuatannya, menyakiti hati seseorang berarti kita harus siap untuk disakiti juga, itulah kehidupan, baik buruknya selalu mendapat balasan yang setimpal.
Raymond kini hanya tertunduk meratapi rasa sakit yang menusuk dalam, menembus kisi-kisi hatinya yang terluka.
Apa ini balasan untukku Alice, karena telah mengkhianatimu?
Tapi kenapa begitu cepat kamu melupakan pernikahan kita?
Apakah tidak ada maaf lagi untukku?
Raymond mendelik kesal terhadap dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa cinta saat ini telah melemahkannya, hingga membuatnya menangis, air mata yang tak pernah berhasil lolos dari sudut matanya, kini telah mempecundanginya.
30 menit kemudian.
Mobil memasuki pelataran MANGO Corporate. Sebelum keluar dari mobil, Raymond menyegarkan matanya yang sedari tadi selalu basah dan sembab sepanjang perjalanan, ia melangkah memasuki lobi dengan cepat untuk menuju lift pribadi.
Raymond sampai di depan ruangan, ia masuk dengan langkah tergontai, wajah masamnya terlihat oleh Greta yang sudah sejak lama menunggu kedatangan Raymond.
Akhirnya kamu datang Tuan arogan.
Raymond langsung melemparkan tubuhnya ke kursi kebesarannya, menyandarkan keluhnya dengan kesedihan yang membata di hati.
Raymond mengesah kasar. Lagi-lagi rasa sakit begitu menyesakkan dada. Raymond mengambil sebotol martini, menuangkan ke dalam gelas beling kecil dan meminumnya berulang-ulang, menumpahkan kekecewaan pada rasa martini yang memabukkannya.
Raymond kini terduduk lemas, merebahkan lelahnya pada sandaran kursi tinggi, yang menopang tubuhnya sampai ke atas kepala.
Pintu ruangan berbunyi dengan ketukan seirima.
"Masuk!" titah Raymond dengan suara parau.
Greta terlihat melangkah masuk, gemulai langkahnya terus dipandang oleh sorot mata Raymond tanpa berkedip. Greta mendekatkan dirinya, hingga kini berada di belakang kursi yang Raymond duduki, tangannya mulai melingkar di dada kekar Raymond, ia mulai memberi sentuhan pada tengkuk Raymond hingga membuatnya menggeliat kecil.
Greta berlanjut dengan mengecup leher jenjang Raymond, membasahinya dengan bertubi-tubi membuat birahi Raymond terus meroket naik. Kini posisi mereka seperti tadi pagi sewaktu mereka bercinta, dengan Greta di atas pangkuan Raymond.
"Ternyata kamu datang, aku mencintaimu Alice," ucap Raymond parau.
Greta tersenyum tipis mendengar ucapan Raymond.
Obat yang aku masukan sudah bereaksi terhadapnya.
__ADS_1
Raymond yang setengah sadar, karena terpengaruh obat yang dicampurkan oleh Greta ke dalam martininya, menuntun Greta yang dilihatnya adalah Alice, menuju ruang pribadinya, tempat yang lebih leluasa untuk mereka berbagi kenikmatan.
Sambil terus memagut, memburu nafsunya mereka melangkah masuk ke dalam ruang pribadi Raymond, sambil melepaskan seluruh pakaian mereka hingga berceceran di dasar lantai.
Tubuh Greta terhempas oleh dorongan lembut Raymond, kini mereka tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya. Mereka saling bercinta lagi dan lagi, berbagi kenikmatan hingga membuat Greta mendesah nikmat, membuat Raymond semakin semangat memburu nafsunya.
"Alice aku sungguh mencintaimu. Maafkan aku."
Greta mencoba tegar tak menghiraukan ucapan Raymond, walau sebenarnya hatinya terasa sakit, karena sebenarnya Greta mempunyai rasa cinta untuk Raymond.
"Berarti Tuan Raymond sangat mencintai Alice, jadi sudah tidak ada kesempatan untukku memilikinya, jika aku tidak bisa, Alice juga tidak, mereka tidak boleh bahagia," gumam Greta yang masih mendesah merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Raymond, yang saat ini sedang menjajaki tubuhnya.
๐๐๐
3 Jam sebelum keberangkatan ke Australia.
Elliot kembali bersama Kelly ke apartemen Richard. Saat Kelly hendak menuju ruang tengah, kakinya menginjak sebuah cincin yang membuatnya mengaduh sakit.
"Au."
Kelly membungkuk, mengambil sebuah cincin yang tergeletak di dasar lantai.
"Milik siapa cincin ini?" tanya Kelly dalam hatinya.
Kelly bergegas menyusul Elliot untuk menanyakan hal ini.
Elliot kini sudah berada di kamar tempat Alice berada. Ia melihat Alice sedang merebahkan tubuhnya, dengan wajah yang terlihat sangat muram.
Elliot menjadi cemas, ia terus melangkah mendekati Alice dan langsung duduk di tepi ranjang.
"Tidak usah kamu tutupi lagi, aku sudah tahu air matamu," ucap Elliot menautkan kedua alisnya.
Alice kembali membalikkan tubuhnya, memperlihatkan kesedihan di wajahnya, ia lalu bangkit terduduk dan menghamburkan air mata dipelukkan Elliot.
Air mata yang terus menghujam kedua pipinya dengan deras sampai membasahi pakaian Elliot.
"Sudah Alice untuk apa kamu tangisi pria seperti Raymond, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik darinya."
Alice mendesah pelan tak sependapat dengan ucapan Elliot, karena baginya seburuk apapun Raymond itu adalah pilihannya dan sudah tugasnya sebagai seorang istri untuk merubah keburukan Raymond.
"Tapi dia tetaplah suamiku," ucap Alice parau.
Elliot hanya diam tak mau menambahkan kesedihan Adiknya lagi.
Tak lama Kelly masuk dan melihat situasi yang tidak tepat, untuk dirinya bertanya pada Elliot.
Kelly melangkah mundur kembali keluar dari kamar, namun Elliot yang melihat kehadiran Kelly, langsung memanggilnya untuk bertanya maksud kedatangannya.
Alice menyeka air mata seiring Elliot melepas pelukannya.
Kelly tetap pada tempatnya, ia menyodorkan sebuah cincin yang dipegangnya dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Elliot apa ini cincinmu atau cincinmu Alice?" tanya Kelly pada keduanya yang langsung mengamati sebuah cincin, yang Kelly sodorkan.
Elliot menggeleng tanda dirinya tak mengetahui hal yang ditanyakan oleh Kelly, namun berbeda dengan Alice, ia tampak sudah bangkit dan mulai melangkah perlahan mendekati cincin tersebut.
Alice mengambilnya, Kelly hanya menatap dengan heran dan membiarkan cincin itu berpindah ke tangan Alice.
Alice terus melihat dengan seksama cincin itu, ia mulai teringat momen saat dirinya memakaikan cincin untuk Raymond.
"Cincin ini milik Tuan Raymond," ucapnya menoleh ke arah Elliot.
Elliot terperangah mendengar ucapan Alice.
Air mata mulai kembali bergelayut di kedua sudut matanya, Alice teringat kejadian saat dirinya begitu dekat dengan Richard di kolam renang.
"Kak, tolong temani aku menemui Tuan Raymond, aku harus menjelaskan padanya bahwa semua yang dilihatnya adalah kesalahpahaman."
Dengan langkah yang cepat Alice langsung menuju keluar apartemen, ia tak memberikan Elliot kesempatan untuk bertanya, apa yang sebenarnya terjadi selama dirinya pergi.
Elliot menyusul Alice meninggalkan Kelly, yang masih termangu bersama rasa penasarannya.
Di dalam mobil.
"Maaf aku tidak bisa ikut denganmu pergi ke Australia, aku tidak bisa meninggalkan suamiku."
Perkataan Alice membuat Elliot terhenyak. Ia akhirnya bertanya kepada Alice, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Alice mulai bercerita tentang kejadian yang dialaminya sewaktu di kolam renang. Elliot menajamkan matanya, wajahnya penuh selidik coba berpikir tentang apa yang telah Alice ceritakan.
"Apa mungkin, Raymond mau membuang egonya? Jika benar seperti itu, berarti Alice satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan seorang Raymond Weil yang arogan," gumam Elliot tersenyum kecil menoleh ke arah Alice yang sedang termangu dengan wajah cemasnya**.
1 jam kemudian.
Rasa lelah membuat tenaga Raymond terkuras, derai keringat begitu basah di sekujur tubuh mereka. Raymond dan Greta terbaring lemas di atas sofa dengan wajah Greta sudah berada di atas dada kekar Raymond yang berbulu.
Greta mulai bangkit, mengambil kertas yang sudah disiapkan dengan sebuah bolpoin di tangannya, ia menuntun Raymond yang kini dalam kondisi setengah sadar, karena efek obat yang Greta campurkan pada botol martininya, untuk menandatangani selembar kertas pengalihan kekuasaan MANGO Corporate.
Setelah Raymond menanda tanganinya tubuhnya langsung roboh lelah di atas sofa, sambil sesekali mengerang menyebut nama Alice.
Greta mulai mengambil pakaiannya yang teronggok di dasar lantai. Ia mulai mengenakan dan merapikannya.
"Ucapkan selamat tinggal pada MANGO Corporate, Tuan Raymond," ucap Greta sambil menatap Raymond dengan senyum tipisnya.
Greta berlalu keluar dari ruangan Raymond. Ia menuju lift untuk turun meninggalkan MANGO Corporate.
Saat Greta hendak keluar dari lobi, ia melihat dari kejauhan sosok Elliot dan Alice sedang melangkah, menuju lobi dari parkiran mobil.
Greta memutar langkahnya, terbesit dibenaknya sebuah ide untuk kembali menghancurkan hubungan Alice dan Raymond.
Greta bergegas masuk ke dalam lift.
๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Bersambungโ๏ธ
Terima kasih semua, sehat selalu ya. ๐๐