
Selamat membaca!
Raymond sudah kembali ke kamar dengan tergesa-gesa. Napasnya mulai berhembus dengan tidak beraturan. Sebelum masuk ke dalam kamar ia menyempatkan diri mengintip ke lantai dasar, untuk melihat pergerakan Thomas dan anak buahnya.
"Untung saja mereka masih berjaga di lantai bawah," tutur Raymond sambil mengatur ritme napasnya.
Setelah melihat situasi masih aman, ia langsung menuju ke arah kamar, Raymond membuka handle pintu dengan perlahan untuk masuk, pandangannya langsung tertuju pada Alice yang saat ini, sedang meringkuk di sudut kamar.
"Kamu gak apa-apa sweety, aku sudah berhasil menyuruh Greta, untuk membawa Richard ke rumah sakit."
Alice menatap lekat wajah Raymond sambil menautkan kedua alisnya.
"Apa kamu akan menikahi Greta?"
Raymond terkekeh pelan, ia menahan gelak tawanya rapat-rapat, agar tidak terdengar oleh Thomas dan anak buahnya. Raymond menatap wajah Alice dengan tatapan penuh cinta, sambil menangkup kedua sisi wajah Alice.
"Aku tidak akan mengkhianatimu, sweety."
Raymond melepaskan tangannya dari wajah Alice dan membiarkannya hanyut bersama rasa penasarannya, yang belum terjawab oleh Raymond.
"Lantas yang tadi aku dengar, apa jangan-jangan kau menipu Greta, sweetu?"
Raymond tersenyum lebar.
"Lihat saja nanti, kalau aku terpaksa, mungkin aku akan menikahinya," gurau Raymond menggoda Alice sambil mengedikkan bahunya.
Alice langsung mencubit perut Raymond, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Sakit sweety, pedas sekali cubitanmu."
Raymond masih meringis, memegangi bekas cubitan dari Alice.
"Suruh siapa menggodaku, lihat saja, jika sampai berani kau menikahi Greta, aku akan mengusirmu dari rumahmu sendiri!"
Raymond menautkan kedua alisnya, mempertegas tatapan matanya ke wajah Alice.
"Apa kau tega melakukan itu padaku sweety, sekalipun aku mengkhianatimu?"
Pertanyaan yang membuat suasana menjadi begitu canggung, namun baru saja Alice ingin menjawab, suara teriakan terdengar keras dari arah depan kamar.
"Kemana kau Richard, kurang ajar, berani sekali kalian menipuku!" geram Thomas terdengar murka.
Raymond dan Alice tersadar jika keadaan mulai kembali mencekam saat ini. Kemurkaan Thomas bisa menjadi akhir hidup bagi mereka, jika sampai tertangkap. Terlebih saat ini Raymond telah membawa Richard keluar dari rumah, yang pastinya akan membuat Thomas gagal untuk membalaskan dendamnya kepada Richard.
Thomas menembaki handle pintu yang terkunci. Pintu kini sudah rusak dan mulai dibuka dengan lebar.
"Kemana kau Raymond? Keluarlah?"
__ADS_1
Thomas mengedarkan pandangannya melihat sekeliling kamar. Namun ia tidak menemukan sosok Raymond dan Alice di dalam kamar.
"Sembunyi dimana kau, aku pasti akan menemukanmu!" geram Thomas mulai menembaki setiap dinding kamar, membuat beberapa lukisan yang terpajang di dinding berjatuhan, bahkan bingkai foto pernikahan Raymond dan Alice yang terbuat dari kaca, ikut pecah terkena sasaran tembakan yang ditembaki oleh Thomas secara membabi buta.
"Cepat kalian cari mereka, periksa setiap inci dinding yang ada di kamar ini, pasti ada ruang rahasia dibalik dinding-dinding ini."
Thomas menajamkan tatapan matanya, meneliti setiap jengkal dinding yang ada di kamar, namun semua berakhir sia-sia, hanya kekesalan yang semakin Thomas rasakan.
"Brengs*k, kalian sebenarnya bersembunyi dimana?"
Thomas kembali menembaki secara sembarang, sampai akhirnya tanpa sengaja tembakannya mengenai lampu tidur yang terletak di sebuah nakas di samping ranjang besar, lampu itu terjatuh ke dasar lantai. Thomas melihatnya, sambil terbesit sesuatu di dalam pikirannya.
"Jika di semua dinding tidak ada, pasti di bawah ranjang itu."
"Cepat bongkar ranjang itu periksa di bawah ranjang aku yakin ada pintu rahasia di sana!" titah Thomas pada kelima anak buahnya.
Dari tempat persembunyiannya, Raymond semakin panik, ia mengkhawatirkan Alice dan kedua anak dalam kandungannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Raymond bimbang.
Alice menyentuh pundak Raymond untuk memberi kekuatan pada suaminya yang terlihat goyah.
"Kita hadapi bersama sweetu, kalaupun kita mati, kita akan selalu bersama bukan, di surga sana," ucap Alice sambil menunjuk ke arah langit-langit.
Raymond tersenyum kecil sambil meraih tangan Alice dan menggenggamnya dengan erat. Kondisi di luar saat ini, kelima anak buah Thomas sudah berhasil memindahkan posisi ranjang yang menutupi akses menuju sebuah ruang rahasia.
Thomas meneliti dasar lantai hingga ia menemukan suatu kejanggalan.
"Ketahuan kau Raymond."
Thomas menekan sebuah lantai yang terlihat sedikit menonjol dengan pijakannya. Simsalabim, sebuah tangga yang terletak di samping almari tersusun dengan rapi menuju suatu ruangan yang terletak di bawah ranjang besar.
Saat Thomas ingin menuruni anak tangga rahasia itu, tiba-tiba Raymond dan Alice muncul dengan menaiki anak tangga, keduanya sama-sama mengangkat kedua tangannya ke atas tanda mereka menyerahkan dirinya.
Thomas terkekeh, ia merasa puas dengan keberhasilannya. Thomas langsung menyodorkan pistol yang dipegangnya ke arah kening Raymond.
"Katakan dimana Richard?" bentak Thomas dengan keras.
Raymond hanya diam tak menjawab pertanyaan yang telah Thomas lontarkan padanya, hal ini membuat Thomas naik pitam, ia menghantam wajah Raymond dengan ujung pistolnya, membuat Raymond terjatuh ke dasar lantai, belum cukup sampai di situ, Thomas menambahkan dengan sebuah tendangan keras ke arah perut Raymond berkali-kali sambil berteriak-teriak menanyakan keberadaan Richard, Alice yang melihatnya hanya bisa menangis dan tak mampu menghampiri tubuh Raymond, karena kedua anak buah Thomas saat ini sudah memeganginya dengan erat.
"Katakan Raymond atau aku akan membunuhmu!"
Pistol kembali di arahkan Thomas ke wajah Raymond. Ancamannya kali ini benar-benar serius, ia sampai menarik pelatuk pada pistolnya tanda ia akan mulai menembak.
"Cepat katakan, jangan sampai kesabaranku habis, Ray!"
Alice terus menangis terisak.
__ADS_1
"Jangan bunuh suamiku, aku mohon! Tolong jangan bunuh suamiku!"
Tangisan dan suara Alice membuat Thomas mengalihkan arah pistolnya.
"Baik aku tidak akan membunuhnya Nona, tapi sebaiknya biar dia melihat istri dan kedua anaknya mati terlebih dahulu."
Thomas sudah mengarahkan pistolnya ke arah bagian perut Alice, ia kembali menarik pelatuk pada pistolnya.
"Aku hitung sampai 100 ya."
Mendengar perkataan dari Tuannya, seorang anak buah yang bernama Freid, mendekati Thomas untuk berbisik.
"Tuan 100 kelamaan, lebih baik 10," ucap Freid mengoreksi apa yang dikatakan oleh Thomas.
"Oke aku hitung sampai 10 ya."
Thomas mulai menghitung dengan suara lantangnya.
Raymond semakin bingung, ia beberapa kali sampai sulit untuk menelan salivanya sendiri.
Lebih baik aku membohonginya untuk mengulur waktu.
Richard ada diruang rahasia di ruang perpustakaan, di sanalah aku mengamankannya.
"Kau pikir bisa membohongiku, anak buahku sudah memeriksa ke sana berkali-kali tapi di ruang perpustakaan itu tidak ada siapapun di sana," geram Thomas tak ingin dikelabui oleh Raymond.
Raymond terkekeh keras.
"Bodoh, sama seperti kau menemukan ruang rahasia di bawah ranjang besarku, di sana juga terdapat ruang rahasia yang terletak di balik tak buku."
Thomas berdecih kesal, ia merasa bodoh karena di permainakan oleh semua ruangan ciptaan Raymond.
"Brengs*k."
Dor
Tanpa aba-aba sebuah tembakan menembus paha kiri Raymond, membuatnya berteriak kesakitan. Alice begitu cemas melihat keadaan suaminya yang saat ini telah tertembak. Alice menangis sambil terus berontak meminta kedua anak buah Thomas untuk melepaskannya, namun semua usahanya sia-sia.
Tiba-tiba Thomas menoleh ke arah luar ruangan, ia mulai mempertajam pendengarannya, karena dari kejauhan tepatnya di pelataran rumah, saat ini sedang terjadi baku tembak yang sangat hebat.
"Kali ini benar, kita sudah kedatangan tamu, Freid periksa ruangan yang dikatakan oleh Raymond, sisanya ikuti aku, kita harus memberi mereka sambutan dengan istimewa!" titah Thomas meninggalkan Alice dan Raymond begitu saja.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya dan juga jangan lupa like juga vote, oke!
__ADS_1