
Selamat membaca!
Alice dan Raymond tampak sudah bersiap untuk berangkat menuju Spanyol. Bulan madu yang akan menjadi awal baru dari perjalanan cinta mereka. Walau Alice sendiri belum dapat menyembuhkan luka di hatinya, atas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Raymond, namun hatinya percaya dengan perubahan Raymond, berjalannya waktu luka itu akan sembuh dan berganti menjadi kebahagiaan.
Alice menatap wajah Raymond dengan lekat, kini mereka duduk berdampingan di dalam mobil tanpa ada rasa canggung.
"Tuan Raymond, selamat ya," ucap Albert dengan mengulas senyum, melihat kebahagiaan di wajah Tuannya.
Raymond tersenyum teringat apa yang dikatakan oleh Albert sewaktu di London Eyes.
"Semua berkat nasihat Ibumu Albert, terima kasih banyak, kapan waktu aku ingin bertemu dengan Ibumu," ujar Raymond dengan menyunggingkan senyum di wajahnya.
Alice menjadi penasaran, dari raut wajahnya tergambar tanda tanya besar.
"Memang apa nasihat itu? Hingga dapat merubahmu jadi pria yang romantis seperti ini," tanya Alice dengan menautkan kedua alisnya.
Raymond menoleh mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alice.
"Yakin ingin tahu, jika kamu ingin tahu, coba beri aku ciuman, nanti pasti ku beritahu," goda Raymond dengan menyodorkan wajahnya.
"Dasar Tuan arogan, aku tidak mau," ucap Alice sambil berpaling dengan mengerucutkan bibirnya, lalu merenggangkan posisi duduknya.
Raymond tersenyum melihat wajah Alice kini semakin manja terhadapnya.
"Kamu tidak perlu tahu, ini urusan laki-laki dengan laki-laki," ucap Raymond terkekeh lucu.
Albert merasa begitu lega mendengar tawa tuannya, setelah semalam ia begitu cemas dan sedih, melihat kondisi Raymond yang begitu kacau dan sangat menyedihkan.
Akhirnya kini tuan Raymond sudah terlihat bahagia.
Albert tersenyum, ia ikut merasakan kebahagiaan yang kini dirasakan oleh Raymond.
Pandangan Raymond masih terus tertuju menatap Alice, yang masih cemberut masam.
Tak mau berlarut-larut diberi wajah masam oleh Alice, Raymond akhirnya mulai menceritakan semuanya.
Alice tersenyum kecil mendengarnya. Perasaannya sedikit banyak menjadi lega.
"Albert sampaikan terima kasihku untuk Ibumu, karena perkataannya begitu di dengar oleh tuan arogan ini," tutur Alice.
Albert langsung menjawabnya dengan wajah tegas.
"Baik, Nona Alice. Nanti akan ku sampaikan."
__ADS_1
"Aku sudah menceritakan semua yang terjadi padaku semalam, aku ingin tahu ceritamu juga?" tanya Raymond penasaran.
Alice mulai menceritakan pada Raymond semua kejadian saat di bandara.
πππ
Flashback ON
Ketika waktu sudah tiba di jam penerbangan, Alice dan Elliot mulai melangkah untuk masuk ke dalam kabin pesawat. Namun langkahnya terhenti saat pandangannya melihat Raymond dan Albert datang.
"Tuan Raymond," ucap Alice terus menatap Raymond dari kejauhan.
Kerumunan orang membuat pandangan Raymond dan Albert tertutup untuk melihat Alice, terlebih saat itu Raymond sudah fokus melihat seorang wanita yang dikiranya adalah Alice.
Alice mulai melangkah mendekati Raymond, namun Elliot memegang tangannya erat, ia menahan langkah Alice.
"Jangan Alice, tinggalkan pria itu yang sudah menyakitimu," tegas Elliot berucap.
Alice terus menatap ke arah Raymond, pandangannya tak pernah berpaling sedetikpun, ia terus melihat kondisi Raymond yang saat ini terlihat payah.
Alice terhenyak melihat Raymond yang sedang berdiri tiba-tiba terjatuh hingga kepalanya terbentur dasar lantai. Ia menangis melihat semua yang telah terjadi kepada Raymond, seolah membuktikan apa yang telah Raymond tulis di dalam pesannya.
Pesan yang membuat hati Alice tergugah untuk memaafkan Raymond, walau rasa ragu masih terus membelenggu hatinya.
"Alice, aku tahu kamu pasti marah sekali padaku, terlebih kamu melihatku sedang berdua dengan Brisca, tapi ketahuilah aku telah dijebak oleh Greta, sekujur tubuhku sekarang terasa lemas, sangat payah untuk digerakkan. Greta telah memberikanku obat yang membuatku selalu berhalusinasi melihatmu, aku memang salah aku akui itu saat bercinta dengan Greta aku melupakanmu, aku minta maaf padamu, berikanlah aku kesempatan, setidaknya satu kali saja itu sudah cukup untukku. Saat ini aku sedang menuju bandara untuk membawamu pulang, tolong jangan pergi! Aku yang bodoh telah menyia-nyiakanmu, aku mohon jangan biarkan kesalahan ini menghantuiku seumur hidupku, tunggu aku kita pulang sama-sama, kita mulai semua dari awal."
"Jika kamu ingin tetap bersamanya aku akan menemanimu, karena aku tidak akan membiarkan kamu disakiti untuk kesekian kalinya oleh Raymond," ikrar janji Elliot membuat Alice menghamburkan kesedihannya dipelukkan Elliot.
"Terima kasih, Kak," lirih Alice sambil menyeka air matanya.
Pesawat tujuan Australia pun akhirnya berangkat tanpa Elliot dan Alice.
Flashback OFF
"Setelah itu aku lebih dulu sampai rumahmu, namun saat aku sampai kamu belum tiba," ucap Alice kepada Raymond mengakhiri ceritanya.
Raymond menggenggam tangan Alice yang sedang bertaut dipangkuannya.
"Aku janji, itu yang terakhir aku menyakitimu," kata Raymond sambil mendekatkan wajahnya dengan memiringkan kepalanya lalu memberikan sebuah ciuman pada bibir Alice yang sudah tampak memerah wajahnya.
Raymond mulai mencumbu lembut bibir Alice, namun Alice tak membalas pagutannya, ia hanya diam mematung merasakan bibirnya mendapatkan sentuhan bertubi-tubi dari bibir Raymond, tapi tiba-tiba bayangan pengkhianatan yang dilakukan oleh Raymond terlintas di pelupuk matanya, dengan cepat Alice menjauh dan melepas ciuman Raymond.
"Maaf Tuan Raymond, aku belum bisa melakukannya," ucap Alice lirih, perkataan Alice membuat raut wajah Raymond menjadi sedih.
__ADS_1
Raymond mendesah pelan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku tidak akan memaksakan apa yang tidak ingin kamu lakukan."
Raymond merangkul tubuh Alice hingga wajah Istrinya terbenam di atas dada kekarnya. Alice terlihat sendu merasa tak enak dengan sikapnya.
Maafkan aku Tuan Raymond.
πππ
Ruang tamu rumah Will di London.
Greta terlihat duduk santai di sofa sambil menikmati segelas capuccino, menemani Will yang sedang menonton sebuah rekaman CCTV yang didapatnya dari atap sebuah gedung pencakar langit di pusat kota London.
"Coba kamu lihat ini, Greta!" titah Will sambil memutar rekaman video pada layar LED dengan remote yang dipegangnya.
Rekaman video berlangsung beberapa menit, wajah Greta terlihat tegang menyaksikannya, tiba-tiba Greta tercekat kaget, saat seorang pria dijatuhkan dari atas gedung dengan sengaja, hingga membuat pria itu meninggal.
Wajah Will mengeras, ia tampak begitu murka sampai melempar remote yang dipegangnya hingga hancur berantakan karena terbentur dinding, entah sudah berapa remote yang telah dihancurkannya.
"Memang kedua pria itu siapa Tuan?" tanya Greta dengan menautkan kedua alisnya.
"Pria yang meninggal itu adalah Adik kandung Ayahku, karena berita kematian itu Ayahku sampai meninggal terkena serangan jantung," geram Will sampai menggertakkan kedua giginya.
Akhirnya Will menceritakan semua kepada Greta tentang pembunuhan yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Greta semakin terhenyak kaget, ketika nama si pelaku pembunuhan disebut dengan penuh kebencian oleh Will, amarahnya semakin memuncak mengingat semua kejadian yang telah merenggut Paman juga Ayahnya.
Will mengambil rekaman CCTV itu dan memberikan kepada Greta.
"Antarkan rekaman CCTV ini, untuk alamatnya sudah ku kirim ke handphonemu!" titah Will sambil menyodorkan rekaman itu.
Will memicingkan senyumnya dengan tatapan mata yang penuh dendam.
"Setelah ini kalian akan menerima kehancuran kalian satu persatu. Nikmatilah hidup kalian saat ini, sebelum kalian aku buat menderita, karena ini bukan lagi soal bisnis tapi dendam."
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Ikuti terus kisah selanjutnya, tunggu up berikutnya ya. Terima kasih. ππ€π
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komentar dan jika berkenan vote kalian ya.
Sehat selalu ya.