
Mohon berikan like di setiap part-nya ya, makasih.
Selamat membaca!
Setelah acara ulang tahun yang meriah dengan keluarga beserta para sahabat yang hadir. Kini Alice dan Raymond terlihat duduk di kursi belakang kemudi.
"Tuan, sekarang kita akan menuju kemana?"
"Ikuti saja GPS yang aku kirim di ponselmu!" titah Raymond seolah penuh misteri.
Tanpa melanjutkan pertanyaan kedua, Albert langsung membuka ponselnya dan mulai menyalakan petunjuk GPS.
Alice menatap suaminya dengan wajah berbinar, dihiasi sebuah senyum merekah yang masih terlukis jelas di wajah cantiknya.
"Memang kita ingin pergi kemana sweetu?"
Raymond menatap lekat wajah istrinya yang hari itu terlihat cantik memukau.
"Aku bahagia melihat senyuman di wajahmu, tapi bagiku kejutan tadi belumlah cukup, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang spesial."
Alice terdiam dengan berbagai tanda tanya di kepalanya, lagi dan lagi Raymond menyembunyikan sebuah kejutan darinya, padahal kejutan yang sebelumnya saja masih membuat hatinya berbunga-bunga hingga saat ini.
Mobil terus melaju di bawah sinar bulan yang terlihat begitu gagah menyinari alam. Hingga setelah 30 menit, mobil tampak berhenti di sebuah hotel berbintang 5, tempat yang sering Raymond datangi.
Alice dan Raymond turun dengan perlahan dari mobil. Kedua mata Alice dibuat kagum dengan apa yang dilihatnya.
"Hotel ini indah sekali sweetu, apakah kau pernah ke sini sebelumnya?"
"Pernah ini memang hotel favoritku."
Keduanya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi hotel. Seorang Manager yang memang biasa menyambut kedatangan Raymond terus menatap ke arah Alice dengan tatapan yang tak biasa.
"Selamat malam Tuan, kamarmu sudah aku siapkan, seperti biasa Tuan," ucap sang Manager kepada Raymond dengan membungkuk hormat.
Raymond berdecih tak suka.
"Aku tidak ingin kamar yang biasanya, jangan buat aku tertawa karena lelucon konyolmu, hari ini aku membawa istriku ke sini!" Suara arogan dari Raymond yang sudah lama tak Alice dengar, mampu menggetarkan nyali sang Manager.
Sang Manager sungguh kasihan sekali, karena ia harus menerima amarah Raymond yang memang siapapun yang mendengarnya pasti akan bergedik ngeri dibuatnya. Sang Manager menelan salivanya dengan kasar, bahkan bulir keringat mulai melembabkan keningnya dengan wajah yang terlihat pucat.
"Maafkan saya Tuan, saya akan siapkan yang berbeda, sambil menunggu itu, apakah Anda bersedia menikmati makan malam spesial di lantai atas gedung ini, sesuai perintah Anda, kami sudah siapkan segalanya."
Raymond hanya tersenyum tipis, ia mulai mengikuti langkah sang Manager menuju ke sebuah lift. Sesampainya di lift, ketiga terlihat masuk secara bergantian.
Perasaan Alice saat ini begitu iba, melihat pria paruh baya yang beberapa kali sering terlihat mengusap keringatnya, dengan sebuah sapu tangan yang digenggam di sebelah tangannya.
Alice mendekati Raymond dan mendekatkan mulutnya di samping daun telinga suaminya, agar segala yang dikatakannya tak terdengar oleh sang Manager.
__ADS_1
"Sweetu, berhentilah bersikap kasar dengan Manager tua ini, aku kasihan, tolong! Apalagi ini hari ulang tahunku," bisik Alice dengan pelan, meminta kepada Raymond.
Raymond hanya memutar kedua bola matanya, ia terlihat menimang-nimang segala permintaan Alice padanya.
Ketika Alice dengan serius menunggu jawaban dari Raymond, tak lama pintu lift mulai terbuka, namun Raymond tak kunjung mengucapkan sepatah kata apapun, ia hanya tersenyum tipis sambil memipihkan sorot matanya ke arah sang Manager.
"Silahkan Nona dan Tuan."
Alice melangkahkan kakinya keluar dari lift, tiupan angin terasa mengibas surai rambutnya yang berwarna hitam. Alice seketika terpukau dengan apa yang dilihatnya, dari roof top hotel yang berada di lantai paling atas, dapat terlihat hamparan gedung-gedung tinggi, dengan kilau cahaya lampu yang menambah kemegahan kota London di kala malam. Semua yang terpampang di hadapannya membuat Alice terus dimanjakan, dengan keindahan yang membuatnya tak henti-hentinya berdecak kagum.
Raymond meraih tangan Alice dan menggenggamnya dengan erat. Ia mulai menuntun langkah Alice menuju sebuah meja dengan tatanan rapi di atasnya, dua buah kursi yang menghadap ke arah kemilau kota London, melengkapi dinner yang istimewa di malam yang sempurna untuk Alice.
Keduanya sudah duduk di kursinya masing-masing. Raymond menatap lekat wajah Alice yang terlihat begitu mempesona malam itu.
"Bagaimana sweety, apa kau menyukainya?"
"Pertanyaan macam apa itu sweetu, wanita mana yang tak menyukai suasana seperti ini, aku sangat bahagia." Alice meraih tangan suaminya, kemudian mengecup dengan lembut, hingga meninggalkan bias berwarna merah pada punggung tangan suaminya. Keduanya seakan mengabaikan sorot mata sang Manager dengan kedua pelayan yang sudah bersiap melayani apapun permintaan mereka.
"Terima kasih sweetu, kamu membuat kebahagiaan terus aku rasakan, bahkan sampai di penghujung malam ini."
"Sama-sama sweety, aku akan selalu memberikan ribuan kebahagiaan padamu setelah ini, aku berjanji!"
Melihat kemesraan yang dipamerkan oleh Raymond kepada Alice, sang Manager mulai membaca bahwa kini Raymond sudah terlihat berbeda dengan yang dulu.
"Tuan Raymond yang dulunya seorang bad boy, kini sudah benar-benar berubah karena sosok wanita ini, luar biasa Nona Alice dapat merubah Tuan Raymond yang arogan itu," gumam sang Manager menatap ke arah Alice, namun kali ini dengan tatapan kagumnya.
Dalam hitungan detik, makanan dan minuman sudah tersaji rapi di atas meja. Keduanya mulai menikmati makan malam mereka dengan penuh bahagia. Di dalam hati Alice tak pernah berhenti mengucap syukur, karena kehidupan rumah tangga yang kini dijalaninya begitu berharga untuknya. Rumah tangga yang Alice sendiri tak pernah bayangkan jika ternyata mampu dipertahankannya, walau badai besar sempat mengguncang rumah tangga mereka di hari pertama pernikahan.
"Terima kasih sweetu, sekarang aku yakin, kamu adalah sosok Ayah yang sempurna untuk kedua anak kita, aku sangat bersyukur itu."
Alice membuka mulutnya dengan lebar untuk menerima sebuah daging steak yang sudah Raymond potong dan telah ditancapkan di sebuah garpu.
🍂🍂🍂
Malam yang kalut membuat langkah Alexa berlabuh di sebuah bar yang berada di dekat London Eye.
Alexa kini sudah terlihat mabuk, karena telah menenggak wine lebih banyak dari yang biasa diminumnya. Pandangannya mulai kabur dan samar, ia beberapa kali memegangi dahinya yang mulai terasa pening, sampai akhirnya Alexa hanya dapat menyandarkan kepalanya di atas lengannya yang bertumpu di atas meja bar.
Tak jauh dari tempat Alexa berada, sepasang mata tampak sudah mengamatinya dari awal kedatangannya ke bar itu.
Alexa bangkit dengan sempoyongan, namun kedua kakinya seakan tak mampu untuk menyangga tubuhnya, yang saat ini benar-benar terasa berat. Alexa pun kembali duduk.
Beberapa menit kemudian, kedua pria menghampiri Alexa yang kini terlihat sedang mabuk berat, mereka langsung memapah tubuh Alexa, sambil mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar semua minuman yang telah dipesan oleh Alexa.
"Apa segini cukup?" tanya seorang pria itu kepada bartender yang terus menatap Alexa yang kini sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Seorang bartender yang bernama Aaron, tak mampu menghalangi niat kedua orang itu untuk membawa Alexa, terlebih keduanya sudah membayar tagihan minumannya. Aaron sangat mengenal baik sosok Alexa, karena dalam seminggu, Alexa bisa datang ke tempatnya sebanyak 4 kali, terlebih saat dirinya sedang rindu akan sosok pria yang menjadi cinta pertamanya.
Biasanya Alexa tak pernah minum hingga membuatnya mabuk seperti ini, namun malam ini ingatannya tentang sosok pria yang dulu dicintainya muncul dengan begitu hebat dalam pikirannya, membuat rasa rindu membuncah di hatinya.
Kedua pria itu seperti memanfaatkan keadaan Alexa yang mabuk, kini mereka memapah tubuh wanita itu yang sudah tak sadarkan diri, keluar dari bar.
"Lumayan kita dapat tubuh gratisan."
"Iyalah, yang begini dari luarnya aja cantik apalagi perabotannya ya, pasti mulus dan seksi."
Keduanya terkekeh puas, membayangkan tubuh Alexa dengan pikiran mesumnya. Namun saat tubuh Alexa, ingin masuk ke dalam mobil, seorang pria tiba-tiba muncul menahan pintu mobil agar tidak menutup.
Kedua pria itu terhenyak dengan expresi wajah yang terlihat geram, menatap sosok pria yang saat ini beringsut mundur, karena kedua pria itu sudah mengepungnya. Seorang pria yang bernama Nick Carter seorang CEO muda dari RX Corporate yang berada bersebelahan dengan MANGO Corporate.
"Eh, cowok brewok, sok jagoan banget lo!" ketus seorang pria bertubuh kekar yang sudah mendelik ke arah Nick.
"Bosen hidup lo!" timpal seorang pria lagi sambil mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya.
Tak dapat dihindari lagi, perkelahian pun terjadi di antara mereka. Kedua pria itu menyerang Nick secara bersamaan, sebuah tendangan dengan cepat diarahkan seorang pria ke arah belakang tubuh Nick, namun dengan cekatan Nick mampu menyapu tendangannya, walau hanya dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya lagi menepis sodoran pisau yang dihujamkan oleh pria yang satunya dari arah depan.
Kedua pria itu semakin kesal, karena serangan yang mereka lakukan dapat dipatahkan dengan mudah oleh Nick.
"Kurang ajar lo," ujar pria yang bertubuh kekar itu dengan amarah yang memuncak.
Tanpa aba-aba mereka kembali maju untuk menyerang Nick, satu persatu serangan yang mengarah pada Nick dengan mudah dapat dimentahkan, hingga Nick berhasil memukul roboh pria itu dengan sebuah pukulan keras tepat pada wajahnya, yang kemudian diakhiri dengan sebuah tendang sambil memutar tubuhnya.
Nick masih memasang kuda-kuda, untuk bersiap menerima serangan dari pria yang satunya, pria yang kini terlihat gemetar dengan pisau yang digenggamnya, namun pria itu tetap memaksakan diri untuk menyerang Nick, satu dua pukulan berhasil Nick patahkan dengan mudah, tepis kiri, tepis kanan, tak ada satu serangan pun mampu lolos mengenai tubuh atau wajahnya. Bahkan malah Nick yang mampu membuat pria itu terkapar tak berdaya di dasar aspal, sambil meringis merasakan sakit di bagian perutnya, akibat tendangan keras yang tepat mengenai perut pria itu.
Nick berdecih kesal.
"Kalian berani sekali memanfaatkan keadaan seorang wanita yang sedang mabuk," geram Nick dengan rahang mengeras disertai sorot matanya yang tajam ke arah kedua pria itu.
Saat Nick ingin menghampiri mereka, keduanya langsung kabur dengan tunggang langgang sambil memegang bagian tubuh mereka yang terasa sakit.
"Dasar pengecut kalian!" ucap Nick dengan kesal sambil melangkah ke arah Alexa yang kini masih berada di dalam mobil.
"Wanita itu memang cantik, tapi sepertinya dia bodoh, kenapa harus minum sampai mabuk dan tidak sadarkan diri seperti ini!" geram Nick dalam hatinya sambil terus memandangi wajah Alexa.
Nick kemudian memapah tubuh Alexa yang kini sudah tak sadarkan diri dan memindahkan pada mobilnya, yang memang kebetulan tidak jauh dari tempatnya berada.
🏵️🏵️🏵️
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih jangan bosan dukung karya aku ya.
__ADS_1
Nick dan Alexa ada di aplikasi D R E A M E ya (Gratis sampai Tamat) :