
Menjelang ending season 1. Ikuti terus ya semua, jangan lupa terus berikan dukungan kalian. Terima kasih.
Selamat membaca!
Raymond mengintip ke arah dua pria itu yang terus melangkah mendekatinya.
"Sweety, tunggu aba-aba dari aku ya!" titah Raymond sambil melangkah ke arah berlawanan dengan Alice.
Raymond terus melangkah dengan membungkuk agar tubuhnya tetap terlindungi oleh badan mobil. Saat dirasa posisinya sudah tepat sesuai rencananya, Raymond berlari kencang memperlihatkan tubuhnya kepada kedua pria itu, yang dalam sekejap langsung mengetahui arah kemana Raymond berlari.
Kedua pria itu langsung mengejarnya dan melepaskan dua buah tembakan yang lagi-lagi hampir mengenai tubuh Raymond. Raymond terus bergerak cepat dan bersembunyi di balik mobil yang posisinya menjauh dari tempat Alice berada.
Kedua pria itu mulai menghampiri Raymond.
"Ini saatnya sweety, larilah," gumam Raymond pelan sambil mengangkat tangannya tanda ia menyerahkan dirinya.
Sebuah kode yang dilihat oleh Alice, ia pun langsung berlari ke arah mobilnya, dengan napas yang tergesa-gesa Alice menambah kecepatan larinya, hingga akhirnya ia sampai dan langsung membuka pintu belakang mobil. Alice masuk ke dalam kursi belakang dengan merunduk.
"Aku berhasil lolos, tapi bagaimana dengan sweetu?" lirih Alice cemas sambil terus melihat ke arah Raymond lewat kaca belakang mobilnya.
Tiba-tiba terbesit dipikiran Alice, suatu kejanggalan yang kini terjadi di dalam mobil.
Seperti ada yang aneh
Tak ada suara riang atau sebuah sapaan hormat yang berlebihan dari Albert.
Alice mengalihkan pandangannya, ia langsung melihat ke arah kursi depan. Alice terhenyak sampai membulatkan matanya dengan sempurna, saat di samping kursi kemudi, ia melihat Albert yang sudah tak sadarkan diri, sedang duduk dalam kondisi kedua tangan yang terikat dan mulut yang tersumpal.
"Selamat datang, Nona Alice," ketus seorang pria dengan senyum licik di wajahnya.
Alice bergegas untuk membuka pintu mobil kembali, namun seorang pria langsung menempelkan ujung pistolnya ke pelipis Albert.
"Keluar dari mobil, maka akan aku hancurkan isi kepalanya!" ancam pria itu dengan tegas.
Alice mengurungkan niatnya, ia kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil.
"Maafkan aku sweetu, aku gagal."
Pria itu menyalakan mobil lalu mulai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Syukur sweety bisa lolos," gumam Raymond sambil terus menatap kepergian mobil mewahnya.
Kedua pria itu mulai mendekati Raymond untuk meringkusnya. Namun saat Raymond hendak ditangkap, tiba-tiba sebuah mobil datang dari arah belakang Raymond dengan kecepatan yang sangat kencang, seolah akan menabrak ketiganya. Raymond berhasil menghindar sesaat sebelum mobil itu menghantam tubuhnya, satu pria tertabrak telak hingga membuat tubuhnya terpental hingga langsung tak sadarkan diri.
Suara ban berdecit keras, mobil tepat berhenti di samping Raymond yang saat ini masih terjerambab, setelah menghindari laju mobil.
Pintu mobil terbuka lebar.
"Cepat masuk!" titah Richard dengan tergesa.
Raymond masih berpikir sejenak, ia tak beranjak untuk menuruti perintah Richard. Namun di saat seorang pria mulai bangkit dan menyodorkan pistolnya ke arah Raymond, dengan cepat tanpa kembali berpikir, Raymond masuk ke dalam mobil, pintu mobil tertutup dan tembakan dari pria itu hanya mengenai badan mobil yang memang anti peluru.
__ADS_1
Mobil melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Kemana Alice?" tanya Richard dengan menautkan kedua alisnya.
Raymond menajamkan sorot matanya, ia tidak suka mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Richard.
"Kau tidak perlu mencemaskannya, Richard! Saat ini Alice sudah berada di mobilku bersama Albert."
Richard tersenyum tipis, ia terkekeh.
"Kau cemburu denganku Ray?"
"Sudahlah, kau tidak usah berpura-pura lagi, kedua orang itu adalah suruhanmu kan dan katakan apa yang kau rencanakan bersama Greta?"
Richard geram mendengar segala tuduhan yang Raymond ucapkan.
"Apa maksudmu? Kau jangan gila Ray, aku tidak mungkin melakukan kesepakatan dengan wanita gila itu, dia itu hanya terobsesi denganmu, lagipula aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri waktu di pulau, aku saja sangat terkejut saat mengetahui bahwa Greta masih hidup bahkan ia telah menyelamatkan Alice."
"Kau masih mengelak!" geram Raymond semakin memuncak amarahnya karena Richard terus berkelit dari tuduhannya yang jelas-jelas sudah ada buktinya.
"Tapi memang itu kenyataannya? Jujur aku memang menyukai Alice, tapi aku tahu diri, dia adalah istrimu dan aku tidak mungkin merebutnya! Walaupun sebenarnya aku membencimu karena Nyonya Claire!"
"Maksudmu? Ada apa dengan Ibuku?"
Di dalam perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Weil, inilah kali pertama Richard membuka semua rahasia tentang dirinya kepada Raymond.
Raymond mendengar dengan seksama semua cerita yang Richard katakan. Walau ia tak sepenuhnya percaya dengan semua yang Richard katakan, tapi setidaknya Raymond menjadi lega, jika ternyata Richard tidak benar-benar mempunyai rencana untuk merebut Alice darinya.
Richard menghentakannya tangannya ke arah pintu mobil dengan keras.
"Karena Ibumu yang serakah, aku jadi sengaja dibuang olehnya!"
"Tapi kebiasaannya sama denganku, memang darah Nicholas melekat pada dirinya, Daddy juga begitu setiap marah pasti selalu melampiaskannya ke pintu mobil," gumam Raymond tersenyum tipis yang bahkan tak bisa dilihat oleh Richard.
Raymond kembali mencerna perkataan Richard dengan baik, wajahnya kini terlihat sendu jika mengingat tentang Ibunya.
"Aku juga membencinya, karena dia berselingkuh dan meninggalkan Daddy," tutur Raymond mengesah kasar.
Richard menautkan kedua alisnya, ia mencurigai mobil yang dikendarai Albert, karena melaju dengan sangat kencang sampai susah untuk dibuntutinya.
"Kau yakin itu Albert yang mengendarainya?" tanya Richard meragukan cerita Raymond yang mengatakan, bahwa Alice saat ini sudah aman bersama Albert.
Perasaan Raymond kembali gelisah, ia menatap tajam ke arah mobil dan melihat keanehan dari laju mobil saat ini.
"Jangan-jangan itu salah satu dari mereka," ucap Raymond kesal sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Berarti mereka berhasil menculik Alice, untuk membuat kita lemah."
Raymond langsung memutar otaknya dengan sangat keras. Ia berpikir di tengah rasa cemasnya terhadap keadaan Alice dan kandungannya saat ini.
"Jika terjadi sesuatu kepada Alice, aku akan membunuh mereka semua satu persatu dengan tanganku sendiri," geram Raymond sampai menggertakkan giginya menahan amarahnya.
__ADS_1
"Aku akan berusaha mengejarnya, berpeganganlah."
Richard menambah kecepatan dengan menginjak dalam gas mobilnya, mencoba menyalip mobil di depannya untuk dapat menyelamatkan Alice.
Kejar-kejaran antara kedua mobil pun tak dapat dihindari. Mobil Richard mampu mendahului mobil yang berada di depannya, dengan kecepatan sangat tinggi, Richard menginjak rem sangat dalam dan membanting kemudinya ke arah kiri hingga membuat mobil yang membawa Alice terhenti bahkan nyaris menabrak mobilnya.
Seorang pria yang ada di kursi kemudi langsung turun dan membuka pintu belakang mobil, ia meraih dengan kasar tangan Alice untuk keluar dari mobil. Alice mengaduh kesakitan, karena cengkraman pria itu sungguh bertenaga. Raymond dan Richard yang juga sudah turun dari mobil, menatap pria itu dengan amarah yang sudah memuncak.
Richard mengarahkan pistolnya kepada pria itu. Namun saat pria itu mulai menodongkan pistolnya ke pelipis Alice, Raymond langsung meminta Richard untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Sekali lagi saya ulangi, cepat turunkan senjatamu Richard!"
Richard terhenyak karena pria itu mengetahui namanya.
"Sebenarnya siapa kalian? Apa tujuan kalian melakukan ini semua?" tanya Richard sedikit demi sedikit melangkah mendekati posisi Alice.
"Nanti kau akan tahu Richard, saat ini cepat kalian masuk ke dalam mobil dan ikuti kemana tujuanku!"
"Cih," Raymond berdecih kesal.
Matanya sudah tajam menatap wajah pria itu dengan amarah.
"Kami akan mengikuti keinginanmu, tapi jika kau sampai menyentuh atau bahkan melukai istriku sedikit saja, aku bisa pastikan, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" ancam Raymond dengan mata yang membulat sempurna.
Pria itu tak gentar dengan tatapan atau ancaman Raymond. Ia malah terkekeh geli melihat Raymond masih bisa sombong pada dirinya, walau saat ini bisa saja jika ia ingin menembak, Alice bisa langsung mati dengan isi kepala yang berhamburan.
"Jaga bicaramu, jangan sampai aku berubah pikiran! Atau kau memang tidak menyayangi istrimu lagi."
Keringat Raymond tiba-tiba deras mengucur mendengar ancaman yang bukan main-main dari pria itu, ia terlihat menarik pelatuk pada pistolnya, seakan bersiap untuk menembak dengan pistol yang masih menempel di pelipis Alice.
"Tunggu, tunggu," ucap Raymond mencoba menahan niat dari pria itu.
Sementara itu Alice yang tak bisa berkata apapun karena mulut yang tersumpal oleh sesuatu. Ia hanya bisa berteriak, walau terdengar seperti suara erang*n kucing yang sedang berkelahi dengan lawan jenisnya.
Pria itu mengacuhkan perkataan Raymond. Tak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara letupan pistol berbunyi menggema memenuhi udara.
Dor.
Raymond terhenyak tak percaya dengan apa yang dilihatnya, raut wajahnya begitu cemas.
"Alice."
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Apa Alice tertembak?
Apa Alice mati lalu Richard dan Raymond balas dendam?
Penasaran dengan kisah selanjutnya, ikuti terus ya.
__ADS_1