
Selamat membaca!
Raymond sudah terlihat tampan dengan stelan kantor yang dikenakannya. Niatnya untuk terbang ke Australia menyusul Alice akan ia utarakan kepada Nicholas.
"Aku harus sampaikan kepada Daddy, jadi urusan kantor dia bisa handle terlebih dahulu selama aku pergi," gumam Raymond memantapkan niatnya.
Raymond mulai melangkah membuka pintu dan keluar bergegas menuju ruang makan yang letaknya berada di lantai bawah.
Tiba-tiba ia teringat senyum Alice di pelupuk matanya, menandakan kerinduannya yang mendalam.
Jangan khawatir Alice aku akan segera menjemputmu.
Mendekati tujuannya, ia mulai mendengar suara Nicholas sedang asyik berbincang dengan seorang wanita.
Suara wanita ini sepertinya tidak asing untukku.
Raymond mengernyitkan dahinya, mengenali suara wanita itu.
Apa itu Alice? Tapi apa mungkin Alice tidak jadi pergi**?
Dua pertanyaan yang membuat Raymond mempercepat langkahnya menuju ruang makan. Saat pandangannya mulai tertuju pada meja makan, barulah ia mulai menyadari bahwa saat ini dihadapannya, tampak Nicholas memang sedang berbicara dengan Alice.
Raymond membulatkan matanya, ia terperangah dengan apa yang dilihatnya. Sejenak ia terlintas dengan apa yang telah dialaminya semalam.
Apa semalam itu bukan mimpi?
Ingatan akan semua perkataan Alice terlintas dalam pikirannya.
"Iya Tuan Raymond, aku kembali, aku melihatmu terjatuh di bandara, aku terus menatapmu tapi pandanganmu terus tertuju ke arah Albert."
Jadi apa yang aku dengar itu bukanlah mimpi.
Raymond membuncah bahagia, ingin rasanya ia berlari untuk mendekap dan menciumi Alice, namun saat ini, itu tidak mungkin ia lakukan di depan Nicholas dan kedua pelayannya.
Raymond masih mematung dengan lamunannya. Ia terus memandang rasa ketidakpercayaannya atas apa yang dilihatnya saat ini.
"Tuan Raymond, silahkan duduk, kenapa kamu hanya terdiam di sana seperti patung liberty," canda Alice dengan tawa renyahnya, membuat Raymond tersadar dan mulai melangkah mendekati meja makan.
Raymond tiba di meja makan, tidak seperti biasanya ia memilih duduk di sebelah Alice.
Melihat sikap Raymond dari caranya memilih kursi meja makan, sudah cukup membuat Nicholas membaca, bahwa saat ini Raymond sudah mulai mencintai Alice.
Nicholas menyungging senyum di wajahnya.
Sementara Alice tetap elegan menjaga sikapnya, walau saat ini hatinya masih penuh luka dari pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Raymond.
"Tuan Raymond, hari ini apa Anda sibuk?"
Raymond mengabaikan pertanyaan Alice, ia masih terus menatap wajah Alice dengan lekat. Sampai sebuah cubitan mendarat mulus di pinggang Raymond, membuat lamunannya tersadar hingga mengaduh sakit.
"Au, sakit Alice."
Raymond meringis perih, namun ia tidak marah, wajahnya malah tersenyum seolah meminta Alice untuk mencubitnya berkali-kali.
Rasa sakit cubitan ini tidak sebanding dengan luka yang aku torehkan padamu.
__ADS_1
Raymond menetralkan raut wajahnya kembali.
"Aku tidak sibuk, aku punya banyak waktu untukmu Alice," ucap Raymond dengan senyumannya.
Tuan Raymond memang sudah berubah.
Alice masih menatap lekat wajah Raymond. Ia merasa bersyukur atas segala perubahan yang dilihatnya, berjuta harapan langsung terpapar di benaknya, harapan bahwa pernikahannya akan selalu abadi selamanya, karena bagi Alice pernikahan itu sesuatu yang istimewa untuknya, ia tak ingin mengalami kegagalan, sekali seumur hidup itu adalah impiannya.
"Ray, kapan kalian bulan muda? Biar masalah kantor Elliot yang akan mengurusnya," ujar Nicholas menatap Raymond sambil menaikan kedua alisnya.
"Tapi Dadd, Elliot sudah.."
"Saya siap menghandle apapun yang Tuan tinggalkan," ucap Elliot yang tiba-tiba datang dari belakang Alice dan Raymond.
Raymond tercekat mendengar suara Elliot dari belakang tubuhnya. Ia langsung menoleh sampai memutar lehernya untuk melihat Elliot.
"Elliot."
Lagi-lagi kejutan yang membuat mata Raymond terbelalak kaget. Seolah tidak terjadi apapun di antara keduanya di depan Nicholas.
Elliot apa dia sudah memaafkanku.
"Ray, Daddy sudah mendengar semua dari Alice," ucap Nicholas dengan suara baritonnya.
Raymond terhenyak menatap wajah Nicholas sampai membuat dahinya berkeringat.
Mati aku, apa yang harus aku katakan?
Alice menatap Raymond yang kini wajahnya tampak penuh ketakutan.
"Tuan Raymond pasti mengira aku menceritakan tentang segala perilaku gilanya di kantor dengan Greta dan Brisca," gumam Alice dalam hatinya mendesah pelan.
"Terima kasih Tuan Nicholas, tapi Anda tidak perlu sungkan dengan saya, walaupun saya Kakak kandung Alice, jika tetap menjadi assisten Tuan Raymond tetap akan saya lakukan," tutur Elliot yang masih berdiri di samping Alice, ia seperti sungkan untuk duduk berdampingan dengan Tuannya.
Nicholas terkekeh lucu.
"Kalian Kakak beradik memang gila,"
"Gila, maksud Tuan?" ucap Alice dan Elliot secara bersamaan, membuat gelak tawa Nicholas semakin menggelegar.
Raymond hanya bergantian menatap ketiganya dengan heran, ia seperti bingung dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
Berarti Alice tidak menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.
Raymond menghela napasnya pelan. Wajahnya kembali tenang, setelah mengetahui bahwa Nicholas tidak tahu menahu tentang kegilaan yang dilakukannya di kantor.
"Kalian itu gila, jaman sekarang tidak ada satu orang pun yang menolak, jika diberikan jabatan tinggi, kamu sama seperti Adikmu Elliot, aku menawarkannya sahamku 50% dia menolaknya, tapi walau Alice menolak, aku sudah menandatangani surat pengalihan kekuasaanku," tutur Nicholas memberitahu.
Wajah Nicholas berubah serius, setelah menghentikan tawa renyahnya.
"Namun ada beberapa poin yang akan mengaktifkan surat kuasa itu, Alice harus sudah mengandung cucuku, yang akan meneruskan darah keluarga Weil dan jika Alice berpisah dengan alasan Raymond berselingkuh, saham itu akan tetap jadi miliknya, kamu mengerti Ray!" imbuh Nicholas yang di akhir perkataannya, menajamkan tatapannya memandang Raymond, sambil menekankan kalimatnya.
Raymond menelan salivanya dalam-dalam.
"Aku mengerti, Dad," ucap Raymond dengan senyum kecil di wajahnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakiti Alice, Dad, semalam aku hampir kehilangannya, kini setelah Alice memberikanku kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya," gumam Raymond dengan tiba-tiba mengambil tangan Alice yang bertaut dipangkuannya lalu menggenggamnya erat.
Alice terhenyak merasakan sentuhan Raymond, ini pertama kalinya ia merasa begitu nyaman ada di sebelah Raymond.
Tuan Raymond, ternyata dia memang sudah berubah.
Semoga ini selamanya, buatlah aku bangga menjadi seorang istri Raymond Weil.
Alice tersenyum ragu menatap wajah Raymond, membuat pandangan mereka saling bertaut.
Nicholas berdehem, memecahkan kemesraan yang sedang tercipta.
"Daddy, tidak mau tahu, siang ini berangkatlah bulan madu, jangan membuat Daddy iri melihat kemesraan kalian," tutur Nicholas tertawa ringan.
"Baik Dad, apapun keinginanmu tidak pernah aku bantah, aku akan berangkat dengan Alice ke Spanyol, tiket yang dihadiahkan oleh Bryan sayang untuk tidak digunakan," ucap Raymond yang wajahnya begitu bersemangat.
Elliot ikut memandang dengan senyum bahagianya, walau ia masih gusar dengan apa yang telah dilakukan oleh Raymond kepada Adiknya. Namun karena Alice meminta dan memohon padanya, membuat hati keras Elliot melunak untuk memberikan kesempatan kepada Raymond.
"Ingat baik-baik Raymond, sekali kamu menyakiti Adikku lagi, jangankan maaf, aku tidak akan mengizinkan Alice untuk bisa kau temui lagi," gumam Elliot menatap tajam wajah Raymond.
Suasana pagi itu sungguh menggambarkan kebahagiaan, yang jarang dilihat oleh kedua pelayan di rumah besar keluarga Weil.
Raymond dan Alice akhirnya menyelesaikan santap paginya, keduanya beranjak kembali ke kamarnya untuk menyiapkan keberangkatan ke Spanyol, meninggalkan Nicholas dengan Elliot di ruang makan.
Alice mengekor di belakang Raymond, tanpa melepas genggaman tangan Raymond yang semakin erat.
"Tuan Raymond, jangan terlalu erat menggenggam tanganku, apa kamu mau melukai tangan mungilku ini?" goda Alice tersenyum tipis.
Raymond yang mulai menaiki anak tangga berhenti sejenak dan menoleh ke arah Alice.
"Jika aku melepaskan genggamanku, berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah pergi meninggalkanku lagi."
Alice mendelik mendengar perkataan Raymond. Hatinya ragu karena luka yang tersemat masih belum sepenuhnya pulih, begitu juga dengan gambaran memori dalam pikirannya, sering tiba-tiba muncul merusak kebahagiaannya.
"Kalau aku pergi memang kenapa?" tanya Alice dengan wajah datarnya.
Raymond teringat nasihat yang dilontarkan oleh Albert semalam, wajahnya serius mencoba menata bahasanya.
"Karena aku membutuhkanmu ada di sampingku, Alice," ucap Raymond menatap Alice dengan dalam.
Hati Alice membuncah bahagia, terlebih saat tiba-tiba Raymond menghamburkan rindunya dengan mendekap tubuh Alice.
Alice hanya terhenyak tanpa bisa berkata apapun.
"Maafkan aku Alice, aku janji setelah ini tidak akan ada air mata lagi dalam pernikahan kita," ucap Raymond mencoba meyakinkan.
Alice hanya terdiam menikmati rasa nyaman dari dekapan Raymond.
Semoga kamu pria yang bisa menepati janji ya Tuan Raymond.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Ikuti terus kisahnya ya, next episode akan ada flashback bagaimana Alice akhirnya memutuskan untuk kembali dan tidak jadi berangkat ke Australia.
__ADS_1
Silahkan tinggalkan komentar kalian.
Jangan lupa vote dan likenya ya.