
Flashback off
Seorang ibu yang hatinya dipenuhi rindu dan rasa bersalah kepada anaknya, menatap sendu gambar berbingkai itu.
Sungguh ia menyesali apa yang sudah diperbuatnya dulu. Ia ingin sekali menebus semua kesalahannya, tapi sang putra tak pernah memberinya kesempatan. Bertahun-tahun putranya tak kunjung memberinya maaf. Kesepian kini yang ia rasakan, batinnya tersiksa karena rindu yang begitu menggebu.
Namun ia masih beruntung, suaminya sudah memaafkan nya. Mau menerima perbuatan buruknya di masa lalu. Wanita itu sangat menyesal telah menyianyiakan keluarga nya.
,,,
Sebuah mobil sport mewah melewati gerbang rumah yang bak istana itu,
Tanpa menunggu lama para penjaga segera membukakan pintu gerbang, mereka tentu tau siapa pengendara mobil itu, wajah tampan sang tuan muda.
Andra ragu ketika ia sampai di depan rumah orangtuanya. Ia belum menyiapkan hatinya, apa yang akan di lakukan nya bila bertemu dengan wanita itu.
Perlahan ia membuka pintu mobilnya, para pekerja terlihat begitu antusias menyambut kedatangannya.
"Selamat datang kembali tuan muda,"
sapa para pelayan.
Andra tak menyahuti, ia masih setia dengan wajah dinginnya. Lalu berjalan memasuki rumah yang dulu ia tinggali saat kecil. Sekelebat bayangan masa kecilnya muncul di pikiran nya. Dia sudah sebesar ini tapi tiap kali mengingat itu, hatinya seakan tertusuk ribuan jarum bersamaan.
"Nak... kenapa kau tak masuk," suara Daddy menyadarkan pikiran ku.
"Ayo kita lihat Mommy mu."
Andra berjalan mengikuti Daddy nya, menaiki anak tangga ke lantai berikutnya. Sekarang mereka berjalan kesebuah kamar besar, yang dulu ditempati orangtuanya.
Ceklek
Daddy membuka pintu itu,
"Sayang... Lihatlah siapa yang datang bersama ku." ujar Daddy lembut.
Wanita itu menoleh ke arah mereka. Dia menutup mulutnya tak percaya, seketika air mata pun lolos begitu saja. Wajah yang dulu begitu cantik, tubuh yang selalu ia jaga. Kini terlihat seperti seorang ibu pada umumnya.
Kulitnya berkerut dan rambutnya sedikit memutih termakan usia, wajahnya tak lagi di bubuhi makeup tebal, pakaiannya begitu sopan. Matanya sembah seperti habis menangis semalam, padahal setiap hari ia menangis.
Bibir nya pucat, tubuh nya kurus bak orang yang tak di beri makan, memang ia tak pernah n*psu makan.
"Benarkah itu Mommy, kenapa terlihat begitu menyedihkan," gumam Andra dalam hatinya, ia seperti tertampar melihat keadaan Mommy nya. Jika tadi benci masih menguasai hatinya, kini hatinya luluh lantak seketika.
Mommy Rahmi berjalan mendekat, ia masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Pelan ia menyentuh wajah putra nya, meraba seluruh wajahnya.
__ADS_1
Apa benar ini putraku? putraku mau menemui ku lagi? Begitulah kira-kira pertanyaan yang memenuhi pikiran nya
Andra meraih tangan itu, menciuminya penuh kasih. Lalu di pelukannya tubuh yang tengah mematung.
"Maafkan aku Mom, aku sudah keterlaluan." air matanya mengalir deras, semakin di rengkuhan nya erat tubuh lemah itu.
"Seharusnya aku pulang sejak lama, dan tak membiarkan keadaan Mommy seperti ini."
"Tidak nak, Mommy yang seharusnya meminta maaf mu. Mommy pantas mendapatkan ini semua," mengusap punggungnya penuh kasih sayang.
Hatinya berdenyut nyeri melihat keadaan wanita yang melahirkannya. Memang perbuatannya dulu tidak mudah untuk dimaafkan. Tapi jika ia sudah berubah dan menyesali semuanya, bahkan kini ia sudah menjadi lebih baik kenapa aku tak mencoba melapangkan hatiku. Daddy yang dulu amat terluka saja mau menerima dan memaafkan nya.
"Terimakasih nak, Mommy kira kau sudah tak mau melihat ku lagi," lirihnya dengan suara yang serak karena menangis haru.
Andra melepas pelukannya, diusapnya air mata yang mengalir di pipi yang kini tak semulus dulu. "Aku akan tinggal disini lagi Mom,"
"Benarkah, kau akan tinggal di rumah ini, bersama Dad dan Mom??" tanyanya tak percaya.
"Yes Mom, aku akan tinggal bersama kalian lagi,"
Air matanya mengalir semakin deras, ia sungguh terharu. Sungguh ia sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan, suami yang begitu mencintai nya, dan sekarang anaknya mau memaafkannya.
Andra menciumi tangan sang Mommy berkali-kali, menyalurkan kerinduan yang sempat tertutup kabut kebencian.
"Pilihan yang tepat boy, mulai sekarang kau juga harus mulai belajar bisnis keluarga. Karena Daddy sudah semakin tua." Ujar Dad Ray, dari belakang nya.
"Dad rasa kau sudah banyak belajar dari bisnis-bisnis kecilmu selama ini,"
Pernyataan Daddy membuatnya sedikit terkejut, ya tapi wajar saja baginya tahu semuanya. Karena anak buah dan rekannya ada di mana-mana.
"Ya... aku akan berusaha Dad."
Malam menjelang, setelah adegan saling memaafkan tadi siang. Sekarang hubungan ibu dan anak itu semakin membaik.
Sekarang semuanya berada di meja makan,
"Bagiamana sekolah mu," tanya Dad Ray.
"Biasa saja," jawab Andra singkat.
"Mommy bangga padamu, kau selalu mendapat juara kelas dan banyak mendapat penghargaan," timpal Mom Rahmi, mencoba mencairkan suasana. Menurutnya ayah dan anak itu terlalu kaku untuk saling menyapa.
"Maafkan Mom, dulu Mom tak pernah menemani mu setiap kamu berhasil mendapat penghargaan." wajahnya yang sedari tadi sudah berseri kini berubah sendu, setiap mengingat perbuatannya dulu.
__ADS_1
"Cukup Mom, kau tidak perlu terus meminta maaf dan tak perlu lagi mengingat yang sudah berlalu. Aku sudah memaafkan mu, Mom yang kini sudah berubah menjadi lebih baik adalah yang terpenting." tegas Andra, ia tak tega melihat Mommy nya bersedih lagi.
"Lebih baik sekarang Mom makan yang banyak, agar tak terlihat kurus seperti ini. Seperti Daddy kekurangan uang untuk memberi makan," ucap Andra lagi melirik Daddy, kemudian mengambilkan makanan dan di taruh ke piring Mommy nya.
Dad Ray hanya memutar bola matanya jengah.
Selesai menyantap makan malam nya, Andra berniat kembali ke apartemen nya.
"Mom, seperti nya malam ini aku belum bisa tinggal. Aku akan kembali ke apartemen, barang-barang ku masih di sana." ijin Andra.
"Tapi kenapa, kau bahkan baru sebentar di sini." mom Rahmi terlihat kecewa.
"Aku janji mulai besok, Aku akan tinggal di sini tidak pergi lagi." meraih tangan sang Mommy dan menggenggamnya erat, berusaha memberi pengertian.
"Sudahlah sayang, biarkan saja anak muda. Mungkin dia ada janji dengan pacarnya." ucap dad Ray tanpa menoleh, ia sedang melihat berita bisnis.
"Benarkah kau sudah punya pacar, bawalah kemari nak Mom ingin bertemu."
"Tidak Mom, Daddy hanya mengarangnya saja. Aku belum menemukan wanita secantik Mom." elak Andra lalu menatap kesal pada Dad nya.
"Jangan cari yang seperti Mom, Mom tidak berharap kau memiliki pasangan sepertiku."
Andra merengkuhnya seketika, Mom nya ini sekarang selalu sensitif jika menyangkut masa lalu nya.
"Tak perlu lagi membicarakan semua itu Mom." Andra melepas pelukannya,
"Baiklah jika kau tetap pergi, tapi tunggu kau belum memakan kue yang Mom beli. Kue favorit mu dulu,"
"Bi Nah," panggilnya pada salah satu pelayan di rumah itu.
"Iya Nyonya," sahut bi Nah setelah menghampiri nyonya besar nya.
"Tolong ambilkan kue yang tadi pagi ku simpan, biar Andra membawanya ke apartemen."
"Baik nyonya," sahutnya sopan, dan kembali ke belakang mengambil apa yang di perintahkan majikannya.
Di belakang, beberapa pelayan sedari tadi ikut senang melihat hubungan nyonya dan tuan mudanya membaik. Sedangkan pelayan wanita yang umurnya belum cukup tua, tentu sangat senang, tuan mudanya yang tampan akan kembali ke rumah itu.
Aku senang sekali mulai besok kita akan melihat wajah tampan tuan muda setiap hari.
Ya kita tak akan bosan lagi, setiap hari dapat vitamin see.
Begitulah bayangan pada pelayan di rumah itu.
°°°
__ADS_1
Xiexie