
°°°
"Apa yang kakak lakukan, apa tak sengaja lewat lagi?" Tanya Sabil yang kini sudah duduk manis di samping Andra.
Lelaki itu memang suka sekali memberi kejutan pada Sabil. Bisa tiba-tiba muncul dimana saja.
Andra melengkungkan bibirnya ke atas. Satu tangannya meraih pucuk kepala Sabil, lalu mengacak nya gemas. Sedang satunya lagi masih tetap di setir mobil.
"Tidak, kali ini sengaja." Jawabnya seraya tersenyum, tapi tak menoleh, ia masih menghadap ke depan.
"Hah...???"
"Peffttt.... " Andra terkekeh melihat raut wajah Sabil. Gadis yang selalu membuatnya rindu, sampai ia selalu mencari alasan untuk menemui nya.
"Ihh kak Andra..."
Sabil mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal karena sikap Andra. Ya padahal sejujurnya, ia juga senang bertemu dengan pria yang sudah semakin dekat dengan nya itu. Sabil jadi seperti selalu berharap, Andra tiba-tiba ada di hadapannya.
Kini tangan Andra meraih pipi Sabil, di usapnya lembut, berharap gadis itu tidak lagi merajuk.
"Maafkan kakak, aku janji tidak akan jahil lagi." ujar nya tersenyum.
Seketika pipi Sabil memerah, walaupun Andra sering berlaku manis padanya tapi ia tetap saja tidak terbiasa.
Mereka memang cukup dekat sekarang, bahkan sering keluar bersama. Sabil pun sudah tak secanggung dulu. Tapi mereka tidak berpacaran, dan tidak berpacaran dengan orang lain juga. Mereka hanya membiarkan hubungan yang mereka jalani mengalir begitu saja.
Tapi bukan berarti Andra tidak menyukai Sabil.
Ia sudah lebih dari suka, ia menjaga dan melindungi Sabil setiap waktu, tapi tidak membuat Sabil terganggu.
Kenapa Andra belum juga menyatakan cintanya. Itu karena ia merasa Sabila masih sangat menikmati dunianya, ia tak ingin sebuah hubungan justru membuat nya tertekan.
__ADS_1
Biarlah Andra mencintai Sabil dengan caranya, sampai waktu nya tiba nanti, akan datang melamarnya.
Mereka sudah sampai di toko buku yang ada di dalam mall. Andra tak pernah melepas pandangan nya dari Sabil. Sedangkan gadis itu sibuk memilih buku yang akan di belinya.
Sabil sebenarnya risih, setiap kali pergi dengan Andra pasti mereka menjadi pusat perhatian, terutang kaum hawa. Tubuh kekarnya yang di balut dengan kemeja yang digulung hingga lengan, justru semakin membuat nya tampan.
Ahh ... boleh tidak, jika aku menyimpan kak Andra di dalam rumah saja. Rasanya tak rela berbagi pandangan, dengan para gadis itu.
Gerutu Sabil dalam hatinya saja.
"Kenapa?" Tanya Andra yang mendapati Sabil sedang melamun.
"Tidak kak, halehe..." jawabnya menyengir kuda.
Sabil sudah selesai memilih buku, kini ia mengantri di kasir untuk membayar.
Kasir yang tadinya sepi, mendadak ramai akibat ulah para gadis yang kecentilan di sana. Mereka sengaja berdesakkan agar bisa berdekatan dengan Andra.
Tanpa sadar Sabil melingkarkan tangannya pada lengan Andra, entahlah ia hanya mengikuti naluri nya saja.
Boleh tidak kalau Andra menyimpulkan, bahwa Sabila sedang cemburu sekarang??
Andra membayar buku-buku yang Sabil ambil dengan sebuah kartu hitam yang di bawanya.
Ahh Sabila beruntung sekali...
Sampai mereka keluar pun Sabil masih enggan melepaskan lilitan tangannya pada lengan Andra. Entah ia sadar atau tidak, atau sudah merasa nyaman. Yang pasti tindakan Sabil membuat kupu-kupu di dada Andra berterbangan saat ini.
"Kita makan dulu."
Andra membelokan langkahnya ke sebuah food court tanpa menunggu jawaban dari Sabil.
__ADS_1
Sabil menurut saja mengikuti Andra.
"Kau tunggu disini biar aku yang mengantri."
Ujar Andra, menyuruh gadis itu menunggunya di meja yang kosong di sana.
Sabil tersadar, ia masih memegang lengan Andra sekarang. Segera ia melepaskan, dan mendudukan tubuhnya di kursi. Ia setuju untuk menunggu, karena ia merasa kakinya memang sudah kelelahan saat memilih buku tadi terlalu lama.
Andra mengusap kepala Sabil, kemudian berjalan menuju antrian panjang untuk memesan makanan.
Sebenarnya Andra bisa saja mengosongkan tempat itu saat ini. Tapi ia lebih suka seperti itu, sensasi melihat Sabil yang cemberut melihatnya di kelilingi para gadis itu sangat menggemaskan baginya.
Benar saja kan, saat ini para pengunjung yang tadi fokus melihat makanan seketika lupa pada rasa laparnya. Mereka malah mengerumuni Andra. Tapi sang pemilik wajah tampan itu hanya memperlihatkan wajah datarnya. Tangannya di masukan ke saku celana, bak model yang sedang bergaya di atas catwalk.
Lagi-lagi kak Andra jadi pusat perhatian, kayaknya perlu pakai topeng saja kalau keluar.
Gerutu Sabil dalam hatinya.
Andra menoleh kearah Sabila, gadis itu memangku dagunya dengan kedua tangannya.
Wajahnya sangat masam saat ini.
Kemudian Andra melempar senyum padanya.
Seketika para gadis menoleh ke arah Sabil.
Iri... itu yang dipikirkan para gadis saat ini. Saat seorang gadis cantik nan manis mendapatkan senyuman dari pria tampan itu.
Pria itu seperti menunjukkan bahwa ia sudah mempunyai sang pemilik hati.
Sabil membalasnya dengan senyum kemenangan.
__ADS_1
°°°
Xiexie