Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab84 Lapangnya Hati Ayah


__ADS_3

°°°


Sabila menangis haru, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan menikah secepat ini. Statusnya kini telah berubah menjadi seorang istri, stelah tadi pagi tiba-tiba Andra datang menjemputnya.


Pagi tadi.


Seperti biasa Sabil bangun pagi menyiapkan sarapan untuknya dan sang ayah, di lanjut dengan beberes rumah. Setelah semua beres dan siap barulah ia memanggil ayahnya untuk sarapan bersama.


Tidak ada yang aneh atau mencurigakan, semua berjalan seperti pagi sebelumnya. Sampai suara ketukan pintu membuat Sabil bertanya-tanya, siapa yang pagi-pagi sudah datang bertamu.


Apa mungkin kak Amel atau mungkin karyawan ayahnya tapi untuk apa. Kak Amel biasanya jarang datang pagi-pagi, ia langsung datang ke toko untuk memeriksa keperluan di sana. Begitulah kira-kira isi pikiran Sabil.


"Nak bukakan pintunya." Suara ayah mengalihkan pemikiran gadis itu. Ia pun segera berjalan kearah pintu depan.


"Iya sebentar..." Teriakkan Sabil menggema.


Sabil sempat dibuat kesal karena yang datang bertamu tak tau waktu dan tidak sabaran. Mengetuk pintu seenaknya.


Klek


Sabil membuka pintu.


"Selamat pagi sayang..." Lelaki tampan berkemeja putih tersenyum pada Sabil.


Kekesalan Sabil menguap begitu saja, tergantikan rasa senang melihat siapa yang datang bertamu.


"Kak Andra... kenapa pagi-pagi sekali sudah ada disini?"


"Apa kau tidak akan membiarkan aku masuk?" Bukan sebuah jawaban melainkan pertanyaan.


"Ayo masuk kak," ujar Sabil mempersilahkan Andra masuk lalu kembali menutup pintu rumahnya.


"Kak Andra belum menjawab pertanyaan ku." Sabil mengikuti kemana lelaki itu berjalan.


"Dimana Ayah?" Lagi-lagi menjawab dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Kami sedang sarapan tadi saat kak Andra datang dan mengetuk pintu."


Baru Sabil selesai berbicara Andra sudah mendahuluinya menghampiri sang calon mertua.


Kenapa aku ditinggal.


Sabil pun buru-buru menyusul Andra yang mungkin sudah bertemu dengan ayahnya.


Benar saja, lelaki itu telah duduk di kursi yang posisinya di depan kursi yang tadi Sabil duduki.


"Jadi apa semua sudah siap nak?" Tanya pak Mul menatap sang calon menantu.


"Sudah ayah, aku datang untuk menjemput Sabila dan ayah."


Oh jadi kak Andra mau menjemput aku dan ayah. Ehhh tapi mau kemana sampai ayah juga ikut.


"Baiklah sekarang kita sarapan dulu," ujar ayah Mul membuat Andra mengangguk.


Sabil memperhatikan keduanya, ingin bertanya apa yang sedang mereka bicarakan tapi belum juga ia bertanya, ayah Mul sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya kembali.


"Ehh... iya ayah." Sabil bangkit, berjalan menuju dapur untuk mengambilkan piring untuk Andra.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah menyelesaikan sarapannya. Sambil menunggu Sabil membereskan meja makan, Andra dan ayah Mul duduk di ruang tamu.


"Apa setelah ini kau akan langsung menyusul mommy mu?" Tanya pak Mul.


"Mungkin besok pagi, aku ingin memberikan Sabil waktu untuk mengerti situasi ini ayah."


"Baiklah, nanti ayah akan bantu memberinya pengertian," ujar pak Mul.


Ada kelegaan sendiri di hati Andra karena calon ayah mertuanya ini begitu baik dan bijaksana. Saat kemarin mereka bertemu Andra sudah mengatakan semuanya. Ia mengatakan bahwa anak lelaki yang dulu diselamatkan oleh ibunya Sabil adalah dirinya. Sejujurnya ia ragu untuk mengatakannya, takut pak Mul berubah membencinya dan tidak lagi merestui hubungannya dengan sang putri.


"Ayah sudah tau nak dan itu bukan salahmu, semuanya sudah jalannya. Jika itu orang lain dan bukan kamu yang hendak tertabrak saat itu, ayah pikir ibunya Sabil akan tetap menyelamatkannya karena itu memang sifatnya. Selalu mementingkan orang lain tanpa memikirkan akibatnya."


Suatu kalimat panjang yang membuat hati Andra mengagumi sosok pria dewasa di depannya. Sudah kehilangan orang yang begitu ia cintai tapi masih bisa memaafkan orang yang menyebabkannya kehilangan. Lapang dada sekali pria itu, hatinya seluas apakah.

__ADS_1


Sungguh Andra menyesali setiap waktu yang ia lewatkan hanya untuk meratapi nasibnya waktu itu. Ada orang yang lebih tersiksa dan hancur, ada gadis kecil yang tak berdosa dan harus kehilangan ibunya secara tiba-tiba. Apa yang Andra rasakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang pak Mul dan Sabila kecil rasakan saat itu.


Berulang kali Andra mengucapkan maaf, maaf karena tak menyadari lebih awal tentang mereka yang merasakan sakitnya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup mereka.


"Kau tidak perlu meminta maaf nak, itu bukan salahmu. Istriku sendiri yang dengan senang hati menyelamatkanmu, tidak ada penyesalan dalam tatapan matanya saat itu, bahkan ia melengkungkan bibirnya keatas diakhir hembusan nafasnya."


Andra sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Tuhan sungguh amat baik padanya karena dipertemukan dengan keluarga yang begitu baik. Padahal selama ini ia selalu menghardik sang pencipta karena tak memberinya masa kanak-kanak yang bahagia seperti teman-temannya.


Namun, ada lagi yang perlu Andra sampaikan. Ia sungguh mencintai Sabil putri satu-satunya pria yang ia panggil ayah itu. Rasa cintanya sudah ada bahkan sebelum ia tau bahwa Sabil adalah putri dari wanita yang menyelamatkan hidupnya dulu. Jadi, ia bermaksud menjelaskan pada pak Mul, takut pria itu berpikir kalau ia hanya merasa bersalah saja. Tapi lagi-lagi jawaban yang ia dapat menambah kekagumannya pada pria itu.


"Ayah tau, karena itulah ayah percayakan Sabil padamu. Aku yakin kau mampu menjaganya dan membuatnya bahagia. Aku bisa melihat cinta yang begitu besar dalam tatapan matamu saat kau menatap putriku. Sama seperti aku menatap istriku dulu."


Mungkin ini yang dinamakan anugerah yang Tuhan berikan, Tuhan memang tak memberikan kenangan masa kecil yang indah untuknya tapi Ia menggantinya dengan memberikan kehangatan luar biasa dari pertemuannya dengan sosok Sabila dan ayahnya.


Ada satu lagi yang Andra katakan tepatnya meminta, ia belum sanggup memberitahu kekasih hatinya, ia meminta sedikit waktu pada ayah Mul untuk menyiapkan diri dengan segala konsekwensinya nanti. Entah hati Sabil selapang ayahnya atau tidak, Andra sungguh belum siap menerima kemungkinan yang terburuk nantinya. Ia meminta waktu agar memberitahu Sabil nya nanti saja setelah mereka resmi menikah. Ia ingin memahami lebih dalam sifat dan kepribadian Sabila nanti setelah bersama, sehingga ia siap mengatakan semuanya.


Setelah selesai dengan pekerjaan di dapur, Sabil pun menyusul ayahnya dan Andra yang sedang berada di ruang tamu. Namun aneh, di ruangan itu bukan hanya ada ayah dan Andra saja tapi sudah banyak orang berkumpul di sana. Ia pun berjalan lebih dekat lagi.


"Ayah..." Sabil memanggil ayahnya terlebih dahulu karena Andra terlihat tengah berbicara dengan salah satu orang asing yang ada di sana tapi diantara mereka ada wajah yang pernah Sabil lihat.


Itukan orang makeup yang waktu itu meriah wajahku.


"Duduklah nak," ujar pak Mul pada putrinya yang masih mematung di dekat sofa.


"Mereka siapa yah?" Tanya Sabil yang penasaran.


Pak Mul tersenyum melihat putrinya yang kebingungan karena tiba-tiba banyak orang di rumah itu.


"Nanti kau akan tau," jawaban singkat pak Mul justru semakin membuat Sabil penasaran.


°°°


Sampai di sini dulu guys, author nya mau belajar yang enak-enak dulu. Ehhh maksudnya belajar nulis tentang enak-enak yang benar biar enak dibaca dan mudah dipelajari.


Dipelajari apanya Thor? Entahlah othor juga bingung yang penting enak. Wkwkwk.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dan ajak kawan-kawan kalian mampir ke novel othor, siapa tau nemu yang enak-enak disini. Hehehe.


__ADS_2