Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab28 Menjenguk Mommy


__ADS_3

°°°


Perjalanan dari toko kue ke rumah sakit lumayan cukup lama. Di tambah jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan, jadilah tak bisa seenaknya menginjak gas, atau bukannya menengok orang sakit malah kita yang di tengok nanti.


Sabil masih setia menatap keluar jendela mobil. Namun sesekali melirik ke orang di sampingnya.


"Apa kau suka mendengarkan musik? Aku bisa menyalakan nya untuk mu." Ujar Andra.


"Boleh."


"Baiklah tunggu, kau suka musik apa?" Tanya Andra lagi, sembari mengambil beberapa keping kaset di laci mobilnya.


"Apa saja kak, aku tak begitu mengerti musik."


"Ok, kalau begitu ini saja."


Andra memasukan kaset yang tadi sudah di pilihnya. Suara musik akhirnya mendominasi perjalanan kali ini. Mereka sama-sama menikmati alunan musik yang dimainkan, ditambah suara penyanyi nya yang sangat merdu di telinga.


Langit yang mulai berubah warna menjadi jingga pun menjadi penghias suasana.


Terlihat gedung putih tinggi dengan tanda plus di atasnya, di sebelah nya terdapat nama gedung itu. Cahaya hospital yang merupakan milik Keluarga Yanuar, keluarga Reza. Sang kakek yang membangun rumah sakit itu, sampai sekarang putranya yang mengelola sekaligus menjadi dokter dan pemimpin rumah sakit itu, Dokter Frans ayahnya Reza.


"Kita sudah sampai." Ujar Andra yang kini sudah memarkirkan mobilnya. "Tunggu," ujarnya lagi. Lalu ia keluar lebih dulu, apalagi jika bukan membukakan pintu untuk tuan putri nya.


"Ehh... " Sabil kesal, pria itu selalu membuatnya malu.


Mereka sudah berada dalam bangunan rumah sakit itu. Berjalan beriringan, sesekali Sabil melihat para perawat dan bahkan dokter menundukkan kepalanya jika ia dan Andra melewatinya.


Entahlah, apa mungkin dokter dan perawat di sini begitu sopan pada pengunjung nya.


Ia tak tau saja, saat ini ia berjalan bersama anak pengusaha terkaya no 1 di kota itu. Tentu mereka harus menghormati nya, jika masih ingin lebih lama bekerja di sana karena Tuan Adiguna juga merupakan sumber pendana yang cukup besar di rumah sakit itu.

__ADS_1


Kini mereka sudah memasuki lift, menuju lantai paling atas gedung itu. Sabil hanya mengekor saja dari tadi. Sampai pintu lift terbuka, ada dokter dan beberapa perawat terlihat hendak menaiki lift itu juga. Tapi aneh mereka bukannya naik malah tersenyum dan menundukkan kepalanya.


Lagi-lagi pemandangan itu yang Sabil lihat. Ya padahal di dalam lift hanya ada dua orang, Sabil dan Andra tentu saja muat jika hanya di tambah beberapa orang lagi.


Sabil masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Sampai pintu lift kembali terbuka ia tak menyadari nya.


Andra yang melihat Sabil masih tak bergerak pun bersuara. "Ayo..."


Sabil tersadar, "Apa kita sudah sampai kak?"


"Iya ayo..." Kini Andra mengulurkan tangannya, untuk apa?


Ahh apalagi ini, apa aku terima saja uluran tangannya. Sabil masih saja mematung.


Sampai ia tak sadar jika sudah keluar dari lift saat ini, tentu dengan tangan yang di genggam lembut oleh Andra. Entah kapan Andra meraih tangannya.


Didepan sebuah ruangan VVIP terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam, dan tubuh yang besar berdiri di sana. Mereka membungkukkan badannya saat Andra dan Sabil sampai. Itu adalah para bodyguard yang memang di siagakan untuk sang istri tuannya.


"Mom, dad..." Panggil Andra setelah tubuhnya memasuki ruangan rawat inap yang begitu besar dan mewah.


Ayo Sabil sadarlah. Teriak Sabil, tapi dalam hati nya saja. Ia segera menarik tangan agar terlepas dari genggaman si tuan muda.


Andra yang sadar akan tangan Sabil yang terlepas pun tersenyum. Ia kembali berjalan masuk.


"Sabila..." Ujar sang Mommy bersemangat.


"Kau datang nak, pasti anak nakal itu yang memberitahu mu." Sindirnya menatap putranya yang sudah lebih dulu duduk di sofa yang ada di sana.


Sabil menghampiri Mom Rahmi, sebuah pelukan hangat menyambutnya.


"Maaf, Sabil baru menemui Mom sekarang."

__ADS_1


"Hei... tak apa nak, Mommy sengaja tak memberitahu mu. Mommy tidak ingin merepotkan mu dan membuatmu khawatir." Ujar Mom Rahmi, mengusap punggung gadis yang masih berada dalam pelukannya itu.


"Tidak ada anak yang merasa direpotkan oleh orang tua nya. Bukankah aku ini putri Mommy."


Sabil melepaskan pelukannya, menatap sendu wanita yang terlihat pucat saat ini.


"Maafkan Mommy nak, kau memang putri Mommy." Sekarang usapan lembut mendarat di kepala Sabil. Sabil tersenyum merasakan sentuhan hangat seorang ibu itu.


"Mom, dimana Daddy? Tumben sekali dia membiarkan Mommy sendiri."


Andra memecahkan suasana haru tadi.


"Daddy mu sedang keluar, mungkin sebentar lagi kembali." Jawab Mom Rahmi pada Andra.


"Ehh duduklah nak..." mom Rahmi menyuruh Sabil duduk di sofa bersama Andra.


"Terimakasih mom, Sabil di sini saja menemani Mommy. Ohh iya tadi ayah membawakan kue, apa mommy mau memakannya sekarang?"


"Wahh... benarkah, kebetulan sekali. Mommy bosan memakan makanan rumah sakit dari kemarin." Mom Rahmi begitu antusias jika mendengar kue kesukaan nya.


"Sebentar biar Sabil siapkan."


Sabil menata beberapa kue yang tadi di bawakan ayahnya ke atas meja makan pasien.


Mom Rahmi sangat menikmati kue kue tadi, sesekali mereka berbincang dan bercanda.


Andra bersyukur, membawa Sabil menjenguk Mommy nya ternyata adalah pilihan yang amat tepat.


°°°


Xiexie

__ADS_1


__ADS_2