
°°°
"Anda bahagia sekali nona." Seorang wanita bersuara.
"Yaa..." Sabil yang tak sadar jika ada orang lain di dalam lift itu pun cukup dibuat kaget.
"Sampai tak menyadari ada orang lain di sebelah anda." Tersenyum sinis.
"Maaf suster Jane saya tidak melihat Anda masuk tadi," ujar Sabil.
"Anda sungguh sangat beruntung bisa menjadi nona muda Adiguna." Suster Jane kembali bersuara.
Sabil pikir ada apa dengan wanita itu yang tiba-tiba membicarakan hidupnya. Ia hanya diam saja tak menanggapi ucapan suster itu, hanya tersenyum untuk menghargainya.
"Mungkin jika tidak ada kejadian yang menewaskan seseorang, anda tidak akan akan di posisi sekarang."
Sabil mulai melirik, apa maksud ucapan suster Jane. Memandangnya dengan penuh tanya.
"Apa anda tidak tau, ohh maaf tidak seharusnya saya mengatakannya." Tepat setelah mengatakan itu pintu lift terbuka. Suster Jane keluar lebih dulu dengan senyum liciknya, karena berhasil membuat Sabil penasaran. Tepat sesuai rencananya.
Sabil yang penasaran pun mengikuti langkah suster itu, di sebuah lorong sepi dan tanpa cctv. Seperti rencana wanita itu, agar Andra tak bisa melihat jika dialah yang sudah membuat kekacauan.
"Tunggu sus," cegah Sabil.
__ADS_1
"Apa maksudmu tadi, bisa kau jelaskan padaku."
"Maaf nona saya tidak berani, saya takut nanti tuan Andra marah." Pura-pura ketakutan.
"Tidak apa-apa sus, suamiku tidak akan marah."
Seketika amarah suster Jane terbakar saat Sabil berkata Suamiku. Tangannya mengepal kuat dan mengeratkan giginya.
Sebentar lagi suamimu akan menjadi suamiku.
"Sungguh saya tidak berani nona." Mungkin jika dia berprofesi sebagai aktris, ia akan memenangkan piala Oscar berkat aktingnya itu.
"Katakanlah sus, apa yang kau ketahui." Sabil sebenarnya ragu apa ia seharusnya melanjutkan tindakannya atau mengabaikan ucapan suster itu. Tapi jika dia tak menanggapi maka ia tak akan tau apa motif sebenarnya suster itu.
Sabil semakin tertantang, pikirnya sedekat apa mommy dan dad Ray sampai menceritakan hal penting pada suster Jane. Apalagi dad Ray bukan tipe orang yang gampang percaya dengan orang lain.
"Aku janji sus, kamu tidak perlu takut. Kau bisa menceritakan semuanya."
Suster Jane tertawa puas saat melihat mangsanya masuk dalam jebakan yang ia buat. Sekarang tinggal selangkah lagi agar rencananya berjalan sempurna.
"Begini nona, jadi nyonya Rahmi adalah orang yang menyebabkan ibu nona Sabil meninggal dunia." Berhenti sejenak melihat reaksi Sabil. Ia yakin, saat ini perempuan itu sudah sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia katakan. Dengan merasakan genggaman tangan Sabil yang mulai mengendur dan wajah yang terlihat syok. Tinggal memberi sedikit bumbu maka ia yakin Sabil akan meninggalkan pujaan hatinya.
"Maaf sebelumnya nona, tapi tuan muda Andra tidak benar-benar mencintai anda. Dia menikahi anda hanya sebagai bentuk rasa bersalahnya. Mereka sudah merencanakan itu semua dari awal. Bahkan Nyonya Rahmi sebenarnya tak menginginkan anda menjadi menantunya, itu semata-mata hanya sebagai bentuk penebusan atas kesalahannya." Tersenyum menyeringai saat melihat tubuh Sabil terasa limbung.
__ADS_1
Ini tidak benar kan, kenapa kak Andra menutupi nya dari ku selama ini. Bohong jika dibilang dirinya saat ini tidak terpukul. Seakan dunianya runtuh saat mengetahui kebenaran itu. Ingatan masa lalunya, saat melihat sang ibu tergeletak tak bernyawa berputar di kepalanya.
Sakit pasti tapi tidak semua kata yang barusan Sabil dengar, ia serap begitu saja. Hati dan pikirannya berkecamuk, seakan hatinya menolak dan tidak percaya pada apa yang ia dengar. Tidak pasti ada yang salah, tidak mungkin kak Andra dan yang lain tega membohongiku. Ingatan kebaikan dan kasih sayang yang mom Rahmi dan Andra berikan menentang semua perkataan yang barusan suster Jane ucapkan.
"Terimakasih sus, tenang saja aku tidak akan memberitahu siapapun tentang hari ini. Permisi." Sabil berjalan menjauh, walau dengan tubuh yang lemas ia tetap berjalan. Ia butuh waktu untuk mencerna semuanya.
"Tunggu nona, anda mau kemana, biar saya bantu." Suster Jane mencoba menampilkan kebaikannya.
"Tidak perlu sus, aku baik-baik saja. Tolong jaga mom Rahmi, aku pergi dulu." Sabil memasuki lift dan membawanya ke lantai paling bawah. Saat ini ia butuh menenangkan diri.
Tawa suster Jane pecah saat lift yang Sabil naiki telah bergerak turun. Ia yakin jika perempuan itu saat ini pasti akan pergi dan ia berharap Andra tak menemukan istrinya itu selamanya.
"Hahaha... kau lihat Tuhan, aku dengan mudah membalikkan keadaan. Kau sudah mempermainkan hidupku selama ini, kini giliran ku menentang takdirmu."
Gilaa, jika ada yang mendengar tawa dan perkataan suster Jane pasti akan menganggapnya tidak waras.
°°°
Xiexie
Yuk jangan pelit komen dan like nya. Wkwkwk
canda ya...
__ADS_1
Makasih ya yang udah setia bacanya. Tetep kawal sampai akhir.