
°°°
Setelah menaiki taksi kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya sabil sampai di depan perusahaan Adiguna. Padahal sudah sejak dalam perjalanan ia menghilangkan rasa gugupnya, tapi detak jantungnya semakin memompa lebih cepat setelah ia sampai.
"Ini pak," ujar Sabil seraya menyerahkan uang untuk membayar argo taksi yang ia naiki.
Sabil menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia turun. Ini bukan kali pertama ia menginjakkan kakinya di perusahaan Adiguna, tapi hari ini kakinya terasa amat berat.
Gadis cantik yang memakai dress biru muda sederhana dan polesan make up natural meski ia sudah menginjak dewasa. Namun tetap saja cantik nya tak perlu di ragukan. Ia menghampiri dua resepsionis cantik tapi dengan makeup yang tebal.
"Permisi mbak... Saya mau bertemu dengan tuan Andra, apa dia ada di kantornya?" Sabil bertanya dengan sopan.
"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya resepsionis yang satu, yang berwajah agak jutek.
"Belum mbak..." Jawab Sabil. Dia memang tidak bilang pada Andra akan kesana.
Kedua resepsionis itu saling bertukar pandang, lalu saling melempar senyum sinisnya.
"Maaf yaa mbak, tuan Andra itu orang penting dan dia sangat sibuk. Jadi harus membuat janji dulu jika mau bertemu." Ujar resepsionis yang kedua. Wajahnya bahkan lebih judes dari yang tadi.
"Bisakah mbaknya menelpon keatas dan mengatakan kalau Sabil ada di bawah." Sabil berusaha meyakinkan kedua resepsionis itu.
"Maaf sekali lagi mbak, kami tidak bisa asal menelpon. Apalagi jika itu bukan hal yang penting." Lagi-lagi resepsionis itu melihat Sabil dengan tatapan penuh selidik.
"Kalau begitu tolong tanyakan pada assisten Toni mbak." Sabil bahkan sampai lupa pada rasa gugupnya karena perdebatan itu.
Mereka tak menyahuti ucapan Sabil. Keduanya saling berbisik.
"Siapa sih itu, kenapa sok kenal sekali dengan CEO kita."
"Penampilannya saya terlihat biasa saja."
__ADS_1
"Sudah seperti Upik abu saja."
Bisikan yang cukup keras itu tentu terdengar sampai ke telinga Sabil. Mungkin memang mereka sengaja agar Sabil mendengarnya.
"Mbak... Jadi bagaimana? Apa mbak bisa tolong tanyakan?" Sabil tak mau ambil pusing dengan ucapan mereka. Ia terus berusaha meminta tolong dengan baik.
"Maaf mbak, kami tidak bisa. Kalau bisa silahkan mbak menghubungi langsung assisten Toni atau tuan Andra." Ujar resepsionis itu dengan senyum mengejek.
Sabil menghela nafasnya, kalau ia bisa melakukan itu sudah dari tadi ia menghubungi Andra atau assisten Toni. Tapi masalahnya ia lupa membawa ponselnya. Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Ingin pulang saja tapi sayang sudah sampai sana dan ayah pasti kecewa padanya.
Tidak ada pilihan lain, ia mencoba sekali lagi.
"Apa boleh saya menunggu di sana mbak," ujar Sabil seraya menunjuk deretan kursi di sisi yang lain.
"Ya silahkan," jawab mereka dengan sangat ketus. Sungguh sayang wajah yang cantik namun sikap mereka seperti itu.
"Dan tolong ya mbak beri tau saya jika tuan Andra sudah tidak sibuk." Ujar Sabil sebelum meninggalkan meja resepsionis. Yang hanya mendapat senyum sinis dari mereka.
Apa aku pulang saja, makanan nya juga sudah dingin. Mungkin lain kali saja aku kembali kemari.
Lelah menunggu membuat Sabil ingin menyerah saja, terlihat kekecewaan dalam raut wajahnya. Sebenarnya ia senang akan bertemu dengan Andra walau sedikit gugup, tapi kini ia pun harus menelan kekecewaan.
Baru saja Sabil hendak bangkit tapi ia menghentikan gerakannya. Melihat seseorang yang baru saja masuk dan berjalan menuju meja resepsionis. Penampilannya yang terlihat menarik dengan barang bermerek dari atas sampai bawah, membuat kesan elegan.
Sabil masih memperhatikan wanita itu yang di sambut dengan sangat ramah oleh resepsionis yang sama saat menyambutnya. Perlakukan mereka jelas berbanding terbalik saat tadi berbicara dengan Sabil. Mereka berbicara pada wanita itu dengan sangat sopan.
Huuufff...
Lagi-lagi Sabil menghela nafasnya. Kenapa selalu uang yang bisa membuat semuanya berubah.
Sabil sedikit mendengar percakapan mereka, karena wanita tadi bicara dengan lantang.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan Tuan Andra." Ujar wanita itu pada resepsionis.
"Apa anda sudah membuat janji nona." Resepsionis itu menjawab dengan ramah bahkan tersenyum.
"Apa janji!! Apa kau tidak tau siapa aku? Aku putri dari pemilik perusahaan X yang terkenal, dan sebentar lagi akan menjadi nona muda kalian." Kesombongan wanita itu membuat para karyawan menatapnya.
Memang wanita yang lumayan cantik dengan balutan kemejanya ketat dan rok pendek, lebih terkesan seksiii jika di lihat.
Resepsionis itu terlihat bingung, mereka takut dengan atasannya tapi juga takut menolak. Apalagi wanita itu berkata jika ia adalah calon nona muda yang berarti mempunyai hubungan spesial dengan tuan mudanya.
Tak seperti pada Sabil tadi yang tidak ragu saat menolak kedatangannya. Resepsionis itu mencoba menghubungi seseorang, tapi sayang tak mendapat jawaban.
"Maaf nona, assisten tuan muda tidak menjawab telepon nya. Kami tidak bisa membiarkan Anda masuk." Ujar si resepsionis dengan sedikit takut.
Brakkkk
Wanita itu menggebrak meja resepsionis, membuat orang-orang terlonjak kaget.
"Apa kau sudah bosan bekerja disini. Bukankah tadi aku sudah bilang jika aku ini adalah calon nona muda kalian." Wanita itu benar-benar percaya diri.
Kedua resepsionis itu hanya menunduk takut, tidak tau harus berbuat apa. Khawatir jika apa yang dikatakan wanita itu benar adanya.
Tanpa menunggu lama wanita itu melangkah masuk menuju lift yang akan membawanya ke ruangan CEO dengan percaya diri. Ia bahkan senyum senyum sendiri membayangkan bisa menjadi istri CEO Adiguna, semua orang akan bertekuk lutut padanya.
Kepergian wanita itu membuat Sabil merasa sesak.
Apa benar wanita itu calon nona muda disini, berarti calon istri kak Andra. Tapi sejak kapan kak Andra dekat dengannya. Apa ini alasan kak Andra sudah lama tak menemui ku. Pikiran Sabil berkecamuk kemana-mana, dadanya sesak mendengar penuturan wanita itu.
°°°
Xiexie
__ADS_1
Terimakasih banyak yang mau baca karyaku.