Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
Kisah Baru


__ADS_3

Hay guys, apa kabar semuanya kesayangan author. Semoga sehat selalu ya. Ada sedikit info nih buat kalian. Yuk kepoin.


Guys aku mau promo novel baruku tapi di akun yang berbeda. Ini kisah tentang perjodohan sepasang manusia yang tidak saling mengenal sebelumnya.


Ya iyalah manusia Thor, masa mau ceritain binatang si. wkwkwk.


Barang kali di sini masih ada yang favorit in novel ini, yuk pindah ke novel baruku.



Judulnya : Bersabar Dalam Luka


Nama penanya : Three ono


Kenapa ganti tidak diakun ini Thor?


Ada beberapa hal yang menjadi alasan. hehehe


cuplikan Bab 1


Menikah dan hidup bahagia dengan pasangan adalah impian semua orang. Namun, bagaimana jika kalian menikah tapi tidak bahagia. Apa tujuan pernikahan sebenarnya. Apa hanya mengucapkan janji suci di hadapan sang pencipta, atau hanya sekedar mempunyai teman hidup.


Ini yang dirasakan Mahira atau biasa disapa Rara, gadis yang dipaksa menikah muda oleh orangtuanya karena sebuah janji yang di buat almarhum kakeknya di masa lalu dengan sahabatnya, demi membalas semua kebaikan yang telah sang sahabat berikan.


"Ra, kau maukan menikah dengan cucu kakek Tio. Beliaulah orang yang sangat berjasa dalam hidup kakek Abdul, dulu kakekmu berjanji padanya akan menikahkan cucu perempuannya dengan cucu kakek Tio jika mereka dipertemukan kembali, agar mempererat hubungan antar keluarga," ujar Pak Aziz kepada putri keduanya.


"Tapi Rara masih sekolah Abi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak, kau akan menikah setelah lulus SMA nanti, beberapa bulan lagi."


"Kenapa harus Rara Bi, kenapa tidak kak Luna saja." Jelas-jelas kakaknya Luna sudah lebih dewasa dari pada Rara, tapi kenapa Abi lebih memilih Rara.


"Kakakmu itu sudah terlanjur masuk kuliah nak, biarkan dia menyelesaikan kuliahnya. Kau nanti bisa kuliah setelah menikah, mereka pasti mengijinkan mu."


Pria yang disapa Abi oleh putrinya itu masih bersikeras dengan keputusannya.


Rara menangis pilu, ia masih ingin menikmati masa mudanya dengan bersekolah, kuliah dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya tapi dia harus dihadapkan pada perjodohan yang kakeknya ucapkan dulu.


"Abi mohon nak, Abi juga tidak tau jika kakekmu dulu menjodohkan cucunya. Tiba-tiba kakek Tio datang dan menagih janji almarhum kakekmu."


Abi sebenarnya juga tidak tega, tapi ia tidak punya pilihan lain. Alasan kenapa ia memilih Rara hanya karangan yang ia buat, sebenarnya kakek Tio lah yang memilihnya sendiri.


"Sabar nak, mungkin ini jalan yang Allah tentukan untuk mu. Jodoh tidak ada yang tau nak dan kapan ia datang juga tidak bisa ditebak." Umi mencoba memberi pengertian pada putrinya.


Suatu hari karena orang tua kakek Tio sakit dan harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar di kota, mereka akhirnya berpisah dan sebelum kakek Tio pergi, beliau menyerahkan sepenuhnya pabrik tahu itu pada kakek Abdul yang saat ini masih dijalankan oleh putranya yaitu ayahnya Rara. Mereka pun berjanji suatu saat nanti jika bertemu kembali, mereka akan menjodohkan salah satu cucunya.


Karena dulu alat komunikasi masih sangat susah jadilah komunikasi mereka terputus tak ada kabar lagi dari kakek Tio. Dan tiba-tiba seminggu yang lalu kakek Tio datang ke pabrik mencari sahabatnya, setelah tau jika kakek Abdul telah meninggal beliau langsung mengutarakan niat kedatangannya kemari pada Abi.


Abi juga tidak menyangka ada perjanjian seperti itu dulu, kakek Abdul hanya mengatakan jika pabrik tahu itu bukan hanya miliknya itu hanya titipan dari sahabatnya. Jika suatu saat ada yang meminta maka Abi harus rela menyerahkannya.


Abi sama sekali tidak keberatan jika kakek Tio mengambil pabrik tahu yang ia jalankan, karena ia paham di dunia ini semuanya hanyalah titipan Allah. Tetapi kakek Tio telah meminta salah satu putrinya untuk dinikahkan dengan cucu laki-lakinya. Bukankah kita juga di ajarkan agar jangan menolak niat baik seseorang dan Abi sadar anak juga hanyalah titipan dari Allah. Tugasnya sebagai seorang ayah menikahkan putrinya dengan laki-laki yang baik.


Rara masih menangis di dalam kamarnya, ia bukan tidak mau dijodohkan karena mempunyai kekasih tapi Rara merasa belum siap dan masih sangat muda.


"Nak..." panggil Umi dari balik pintu.

__ADS_1


"Makan dulu nak, kau belum makan dari siang, Umi tidak mau putri umi sakit." Umi tak kuasa menahan air matanya, sebagai seorang ibu ia bisa merasakan apa yang putrinya rasakan saat ini.


"Rara tidak lapar Umi." Selera makannya sudah hilang sejak Abi bilang ia akan dijodohkan.


Umi semakin sedih mengkhawatirkan keadaan putrinya, dari siang ia mengurung diri di kamar tidak mau makan sama sekali.


"Apa Rara masih tidak mau makan?" tanya Abi dari arah belakang.


Umi menggelengkan kepalanya lemah.


Mereka berdua jadi merasa sangat bersalah karena sudah membuat si bungsu bersedih.


"Apa tidak bisa kita dibatalkan saja perjodohan itu, Bi." Umi dan Abi baru selesai melaksanakan sholat isya.


"Tidak umi, itu amanah dari almarhum ayah. Abi tidak berani mengingkarinya." Abi pun sebenarnya ingin menolak.


"Tapi apa lelaki itu baik untuk Rara, kita belum mengenalnya."


"Kita pasrahkan semuanya pada yang di atas, biarkan Allah yang menentukan jalan hidup putri kita."


Mereka sebenarnya juga tidak tega memaksakan kehendaknya pada Rara.


...


Mampir ya jangan segan author tunggu. 🤭🤭


Lope lope buat kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2