
°°°
Sepanjang perjalanan pulang, Andra sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya, bahkan sesekali ia menciumi tangan yang saat ini bertengger sebuah cincin berlian di jari manisnya.
"Kakak nyetir dulu, bahaya seperti ini terus."
Sabil memutar bola matanya jengah, sudah kesekian kalinya ia mengingatkan lelaki disampingnya itu tapi tak digubris sama sekali.
Seakan Sabil akan pergi jauh bila Andra melepaskan genggaman tangannya. Padahal mana mungkin Sabil bisa pergi saat mobil sedang melaju.
Setelah selesai makan malam tadi Andra memutuskan untuk menyetir sendiri, seakan tak ingin waktunya diganggu saat bersama sang calon istri. Yaa status Sabil kini telah berubah, lelaki itu selalu menyebutnya calon istri.
Andra hanya menyengir kuda saat wanita disampingnya terus protes. Taukah Sabil bila saat ini Andra sedang sangat bahagia dan enggan untuk berjauhan dengannya. Kalau bisa malam ini juga ia ingin membawa gadis itu ke altar dan segera mendaftarkan pernikahan mereka.
"Aku masuk dulu kak," ujar Sabil saat mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumahnya.
"Turunlah..." Jawab Andra.
"Bagaimana aku bisa turun kalau kak Andra tak melepaskan tanganku..." gerutu Sabil.
"Hehehe... rasanya aku ingin membawamu pulang saat ini." Ujar Andra seraya mengecupi punggung tangan Sabil.
Sabil melongo mendengar ucapan Andra, baru beberapa saat status mereka berubah tapi sikap lelaki itu sudah semakin manja. Lalu ia membiarkan sebentar lelaki itu mengecupi tangannya, pikirnya mungkin lelaki itu mau melepaskannya setelah puas.
Setelah puas bermanja ria Andra segera membukakan pintu mobil untuk Sabil.
"Aku masuk dulu kak," ujar Sabil.
"Apa kau akan masuk begitu saja?" Tanya Andra yang sedang bersender pada mobilnya.
"Lalu aku harus apa kak..." Sabil bingung karena ini pertama kalinya ia berpacaran. Tidak bukan pacar tapi calon suami-istri.
Andra mendekat tak mudah ternyata, mereka sama-sama baru pertama menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi Andra sebagai lelaki harus lebih berinisiatif.
Tapi semakin Andra mendekat, Sabil pun berjalan mundur. Sampai tak sengaja sepatu hak tinggi Sabil menyandung sesuatu di sana, dengan sigap Andra meraih pinggang gadisnya. Jika tidak mungkin tubuh Sabil akan mendarat di lantai.
__ADS_1
Mata mereka saling bertemu, Andra yang memegang pinggang Sabil membuat tubuh mereka berdekatan.
"Kenapa kau menjauh, bagaimana kalau kau terjatuh..." Ujar Andra.
"A..ku..." ucapan terhenti saat Andra menempelkan bibirnya.
Sabil membulatkan matanya, diam tak membalas. Ia menatap lekat wajah lelaki didepannya itu yang kini terlihat memejamkan matanya. Awalnya ia sedikit ragu untuk membalas. Namun, sebuah gigitan kecil di bibirnya membuat Sabil membuka mulutnya.
Tanpa terasa Sabil pun sudah mengalungkan tangannya ke leher Andra. Mereka saling mengecap dan menyesap, seolah pertukaran saliva itu mewakilkan seluruh rasa cintanya.
Lidah mereka saling bertaut dan membelit, mereka sama-sama tak ingin mengakhiri kegiatan itu. Sampai habis nafas mereka barulah Andra melepaskan tautannya.
"Hoosshh..."
Andra mengusap lembut bibir Sabil yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya. Lalu merengkuh tubuh Sabil masuk ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Sabila..." ujarnya lembut.
Sabila pun tersipu malu, ia masih belum terbiasa mendengar kata-kata manis itu.
Sabil memasuki rumahnya, ia lampu-lampu dibeberapa ruangan telah dipadamkan.
Ceklek
Ternyata pak Mul belum tidur, ia pun melihat apa yang terjadi di teras barusan. Ia ikut senang melihat putrinya bahagia.
"Ayah..." Sabil terkaget. Ia jadi malu, pasti ayahnya melihatnya menari sendiri tadi.
Pak Mul tersenyum, tak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat putri tercintanya bahagia.
"Kenapa ayah belum tidur?" Tanya Sabil.
"Kalau ayah sudah tidur. Ayah tidak akan melihatmu putri ayah yang sedang bahagia sekarang ini," ujar pak Mul.
"Duduklah yah," Sabil menyuruh ayahnya duduk di kursi sofa yang ada di sana.
__ADS_1
"Apa kau bahagia nak?" Tanya pak Mul, seperti biasa ia berbicara begitu lembut pada putrinya. Lalu ia melirik jari manis Sabil yang saat ini berisi cincin berlian yang amat cantik.
"Ahhh... ini... apa ayah sudah tau." Ujar Sabil yang mengikuti arah pandang ayahnya. Ia memang berniat memberitahu ayahnya, tapi jika sang ayah ternyata sudah tau ia jadi tak perlu lagi bercerita.
Pak Mul mengusap lembut kepala putrinya, "Raut wajahmu saja tidak bisa berbohong nak."
Sabil semakin malu, ia jadi salah tingkah.
"Ayah ikut senang melihatmu bahagia nak, semoga nak Andra bisa menjaga dan membahagiakanmu. Sebagai seorang ayah, ayah hanya bisa mendoakan mu. Sebentar lagi tanggungjawabmu bukan lagi pada ayah tapi suamimu," ujar pak Mul memberi nasehat.
Sabil terharu, ayahnya adalah lelaki yang paling luar biasa di hidupnya. Membesarkan seorang putri sendiri bukanlah hal yang mudah. Tapi Sabil tak pernah merasa kekurangan kasih sayang.
"Berjanjilah padaku yah. Ayah akan sehat selalu dan berumur panjang," ujar Sabil seraya memeluk sang ayah.
Tentu ayah sangat ingin selalu mendampingi mu, melihat cucu-cucu ayah lahir ke dunia. Tapi ayah tidak yakin, semakin hari rasa rindu ini semakin menyiksa. Kadang ayah berdoa agar Tuhan segera mempertemukan ayah dan ibumu, tapi ayah juga ingin selalu di sampingmu nak.
Air mata haru bercampur bahagia menjadi satu. Sabil dan ayahnya sama-sama larut dalam suasana. Pak Mul pun banyak memberi nasihat pada putrinya.
,,,
Paginya, seperti biasa Sabil sudah datang ke toko untuk membantu apa saja. Toko kue ayahnya pun semakin ramai bahkan mereka rela mengantri saat toko itu belum buka.
Semua karyawan pun saat ini dengan kompak meledek Sabila. Ya mereka tau dari cincin yang Sabil pakai, pasalnya gadis itu tak pernah memakai aksesoris apapun. Tak terkecuali Amel, yang sedari tadi terus bertanya.
"Ayolah Sabil, ceritakan semuanya pada ku..." bujuk Amel yang sedari tadi mengekori Sabil.
"Apa yang mau diceritakan kak.'' Jawabnya.
°°°
Xiexie
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian readers ku tersayang....
Ajak juga teman, pacar, saudara,dan tetangga kalian untuk mampir di novelku yaaa....
__ADS_1
Aku tidak minta vote yang adanya seminggu sekali, cukup like dan komen nya saja.
Terimakasih...