
°°°
Dada Sabil bergemuruh, rasanya seperti mau copot. In... ini terlalu dekat.
Sabil bahkan bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Andra. Jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja, satu pergerakan bisa membuat bibir mereka saling menempel.
Mereka saling bertatapan, sorot mata Andra bagai sihir yang membuat Sabil terpaku.
Degg
Getaran aneh lagi-lagi terasa.
Andra menatap lekat wajah Sabil, wajah yang selalu mengusik hatinya. Tapi kemudian, perlahan-lahan tatapan matanya turun pada bibir ranum milik gadis itu. Bagaikan santapan lezat yang amat menggugah selera.
Gleekk
Andra menelan ludahnya sendiri, menahan gelora yang menguasai pikirannya.
Sabil pun sama, tak biasanya iya berfikir mesum. Bahkan ia memejamkan matanya. entah apa yang Sabil harapkan, ia sendiri juga tidak tahu kenapa menutup mata.
Andra yang melihat Sabil menutup mata pun tersenyum, sejujurnya ia amat ingin menikmati sesuatu yang sudah menggodanya sejak tadi dan menyalurkan segala kerinduan yang sudah membuncah. Ia pun mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan sentuhan hangat bibirnya di kening Sabil.
Sabil pun merasakan hangatnya bibir lelaki itu di keningnya. Ia terdiam ikut hanyut dalam gelora kerinduan yang tercipta. Tapi aneh, hatinya berkata lain. Bukan ini yang ia harapkan, lalu apa?
Cukup lama Andra menyalurkan rasa rindunya nya. Lalu ia melepaskan bibirnya, menjauhkan wajahnya memberi sedikit jarak agar bisa melihat wajah gadis itu. Seperti duagaannya, wajah Sabil kini sudah seperti tomat segar. Menggemaskan.
Sabil tak berani mengangkat wajahnya, ia menunduk.
__ADS_1
"Kau mau mengambil ini," ujar Andra memegang buku yang ia ambil dari rak paling atas.
Sabil meraih buku yang di maksud, tapi Andra malah menaikan tangannya sehingga ia mendongak.
"Kak..." rengek Sabil agar Andra segera menyerahkan bukunya.
Lelaki itu menaikkan sudut bibirnya, sebuah ide muncul di pikiran nya. Ia semakin mengangkat tangannya tinggi, sehingga Sabil kesulitan meraihnya.
"Kak... berikan padaku bukunya." Sabil merengek meminta Andra agar tak menggodanya. Ia sudah malu, tidak bisa ia bayangkan semerah apa pipinya.
"Kau mau, ambillah jika bisa..." ujar Andra, ia gemas sekali melihat wajah Sabil.
Sabil mengerucutkan bibirnya karena kesal. Lalu ia melompat berniat meraih buku itu dan mengambilnya dari tangan Andra.
Hap
Cukup lama bibir mereka saling menempel. Andra senang karena Sabil tak memberontak, itu berarti gadis itu tak marah. Kemudian ia menjauh, lalu menempelkan keningnya pada kening Sabil.
"Kamu sangat menggemaskan..." ujar Andra.
"Kak, kau menyebalkan..." balas Sabil seraya memukul pelan dada Andra. Membuat Andra terkekeh mendengarnya.
"Tapi bikin rindu kan?" Ujar Andra.
Seketika Sabil mengingat ucapannya tadi malam saat mereka bertelepon. Ia diam, tidak mengiyakan dan tidak menyangkal.
Andra menyentuh pelan rambut Sabil, merapikannya dan menyelipkan di belakang telinga. Perlahan-lahan ia juga mengusap lembut pipi gadis itu yang memerah, lalu mengangkat dagunya agar leluasa melihat wajah cantiknya.
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu..." Bisik Andra, tapi Sabil mendengarnya dengan jelas karena jarak mereka yang sangat dekat.
Perlahan namun pasti, bibir mereka sudah menempel tidak tau siapa yang memulai. Kini tak hanya menempel saja, Andra meluumaat nya dengan lembut. Sabil diam saja hanya, ia tak punya pengalaman dalam hal seperti itu.
Setelah puas menghisaappp benda kenyal itu Andra menggigit kecil bibir bawah Sabil agar memberinya kesempatan untuk mengabsen rongga mulut nya. Lidahnya tak berhenti bermain, ia membelit lidah Sabil mengajaknya bergerak seirama.
Awalnya Sabil tak mengerti, tapi perlahan ia mengikuti arahan yang Andra berikan meski gerakannya masih kaku. Andra semakin memperdalam ciuummaannnya, menahan tengkuk dan menarik pinggang Sabil sehingga mereka semakin menempel.
Rindu yang menggebu, membuat mereka tak cukup melakukannya hanya sebentar. Buaian kehangatan yang tercipta, menyalurkan segala perasaan satu sama lain. Seakan enggan untuk saling melepas. Hingga nafas mereka habis barulah menyudahi permainan itu.
Mereka butuh asupan oksigen sebanyak-banyaknya, menarik nafas sedalam-dalamnya.
Andra mengusap lembut bibir Sabil yang basah dan sedikit membengkak karena ulahnya. Memandangi wajah cantik yang selalu membuatnya rindu. Ada rasa bahagia dalam hatinya karena Sabil tak menolak ciuummaannnya.
"Kita pulang.. " Ujar Andra. Sabil pun mengangguk patuh.
Mereka berjalan keluar dari ruangan dengan bergandengan tangan, hal yang sudah biasa Andra lakukan bila berjalan dengan Sabil.
"Toni, aku akan pulang terlebih dahulu. Kau urus semuanya dan jangan lupa bereskan mereka yang membuat masalah." Andra memberi kode dengan tatapan matanya yang tajam. Assisten Toni tentu tau maksud tuan mudanya, karena tadi
Andra sempat bertanya apa yang terjadi pada Sabila di bawah.
Dulu memang Sabil beberapa kali datang ke perusahaan Adiguna. Tapi itu dulu sebelum perusahaan itu semakin berkembang pesat dan membuka beberapa cabang yang saat ini tengah ditangani pak Tantan. Begitu juga para karyawan nya, mereka yang senior dan berpengalaman banyak di tarik ke cabang yang baru. Makannya di kantor pusat kebanyakan adalah wajah baru, dengan kemampuan yang tak kalah hebat dari karyawan lama. Tentu karena mereka telah berhasil melewati seleksi ketat saat interview. Itulah sebabnya mereka tak mengenal Sabil. Tapi bukan berarti mereka bisa bersikap tidak sopan pada tamu.
°°°
Xiexie
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian, yang sudah mau meluangkan waktunya untuk mampir ke karya ku yang masih jauh dari kata layak.