
°°°
Pagi ini seperti biasa Rani berangkat bersama dengan kekasihnya. Sudah tidak ada yang ditutupi lagi dari hubungan mereka berdua dan kini sudah mulai terbiasa menjadi santapan para pemburu berita.
Seperti inilah kegiatan baru Rani saat sedang tak ada jadwal syuting. Menemani kekasihnya seharian di kantor. Tidak peduli cibiran dan gosip yang berterbangan tentang karir keartisannya. Toh aktingnya sudah tak diragukan lagi, para sutradara terkenal sudah mengakuinya bahkan sebelum hubungannya mencuat.
"Kak aku senang melihat Sabila dan kak Andra yang akhirnya menikah."
"Kak Andra yang dingin dan kaku itu ternyata bisa sejatuh cinta itu pada Sabil."
Rani berkata seraya memeluk lengan Dion dan menyenderkan kepalanya di pundak lelaki itu.
"Aku juga kagum dengan kak Andra, dia bisa bersikap dingin dan tidak tersentuh bila dihadapkan wanita lain tapi sebaliknya bila sedang bersama Sabil dia berubah menjadi sosok yang hangat. Hatinya benar-benar dijaga untuk Sabila."
Nadanya sedikit menyindir sang kekasih, bukannya ia tak suka mempunyai kekasih yang baik dan ramah pada semua orang. Tetapi kadang Rani cemburu jika Dion terlalu ramah pada rekan wanitanya. Walaupun itu hanya rekan kerja ataupun rekan bisnis.
Sebagai seorang wanita hatinya sedikit tidak rela, saat melihat senyuman kekasihnya diumbar untuk wanita lain.
Apa artinya Rani sedang cemburu, ya itu yang Dion tangkap dari apa yang Rani katakan. Dion pun beralih membawa Rani dalam pelukannya.
"Aku senang kamu cemburu."
"Siapa yang cemburu kak..." sebalnya, melepaskan diri dari pelukan Dion dan segera memalingkan wajahnya.
"Ayolah mengaku saja." Lelaki itu semakin semangat menggoda.
"Itu tidak benar kak, aku hanya kesal saat kak dion tersenyum terlalu lebar pada wanita-wanita itu." Cecarnya dengan kesal, waktu teringat saat pesta perayaan di perusahaan tempo hari. Saat itu Dion terlihat begitu asyik mengobrol dengan para wanita. Rani saat itu tidak bisa berbuat apa-apa karena hubungan mereka belum seperti sekarang yang terbuka di depan umum.
Mungkin jika waktu itu hubungan mereka tidak dirahasiakan Rani akan terus menempel pada Dion, agar tak ada yang berani menggoda kekasihnya.
"Peffttt... itu artinya kau cemburu Rani." Ujar Dion meledek, ia berputar melihat wajah kekasihnya yang merasa malu tapi Rani terus menyembunyikannya. Dion tak menyerah, ia menunduk dan memiringkan kepalanya mengikuti gerakan Rani.
__ADS_1
"Kak Dion menjauhlah," ujar Rani yang tak ingin wajah merahnya dilihat sang kekasih.
"Mengakulah kalau kau cemburu."
"Tidak benar." Sangggahnya.
"Mengaku saja sayang, bukankah wajar bila kau cemburu pada kekasihmu. Itu artinya aku tau kalau rasa cintamu padaku masih besar seperti dulu."
"Tidak kak..."
"Lihatlah kau semakin cantik jika malu seperti itu." Semakin suka Dion menggoda Rani.
"Iihhh kak Dion. Iya aku cemburu! Puas kan."
Rani sebal dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hahaha... kau lucu bila sedang kesal." Dion malah mencubit gemas pipi kekasihnya yang sedang merajuk.
"Kakak...!!!" Rani memberikan tatapan tajamnya. Sejurus kemudian terlintas sebuah ide di pikirannya. Ia tau Dion amat sensitif dengan rasa geli. Rani tersenyum menyeringai melihat kekasihnya yang masih menertawakannya.
"Rasakan itu kak, puas-puaslah tertawa," ujar Rani yang terus menggelitik perut Dion.
Ting
Pintu lift terbuka dan sepasang manusia itu sampai tak menyadarinya.
Seorang wanita yang sedari diam pun akhirnya bersuara.
"Eheemmm... kita sudah sampai tuan, nona." Ujar wanita itu yang tak lain adalah sekretaris Mia. Wanita yang terlihat dewasa dengan pakaian kantornya, ditambah kacamata yang bertengger di hidungnya.
Rani dan Dion yang mendengar suara sekretaris Mia pun salah tingkah jadinya. Buru-buru membenarkan rambut dan pakaian yang sedikit acak-acakan karena pertarungan tadi.
__ADS_1
Rani keluar lebih dulu karena masih merasa kesal dan malu pada sekretaris Mia, meninggalkan Dion yang masih sibuk merapikan jas nya.
"Hmmm... sekretaris Mia, nanti kau bawakan teh dan camilan ke ruangan ku seperti biasa."
Dengan nada yang bossy, tak seperti tadi pada saat ia berbicara pada Rani. Lalu melenggang keluar, segera menyusul kekasihnya.
Sekretaris Mia mengangguk mendengar perintah atasannya. Terbit senyuman di bibirnya saat atasannya dan sang kekasih keluar dari lift. Mengingat kelakuan mereka tadi, apa benar mereka sampai tak menyadari di lift itu ada orang lain. Mereka benar-benar menganggap dunia ini milik berdua, apa jatuh cinta semenyenangkan itu. Pikirnya yang tak pernah merasakan jatuh cinta.
Ditinggal ayahnya sejak masih kecil, membuatnya harus berjuang keras membatu ibunya. Sepulang sekolah menghabiskan waktunya berkeliling menjual kue buatan ibunya, tak ada bermain dan bersenang-senang seperti anak kecil pada umumnya. Malam harinya ia habiskan untuk belajar, beruntung ia termasuk anak yang pintar sehingga mendapatkan beasiswa disekolah hingga jenjang kuliah.
Itulah yang membuatnya tak pernah memikirkan cinta, ia masih harus bekerja keras untuk ibunya yang mulai sakit-sakitan dan kedua adiknya yang masih sekolah.
Ia bersyukur saat ini bisa bekerja di perusahaan sebesar R Entertainment. Bahkan biaya pengobatan ibunya ikut ditanggung perusahaan. Sejak saat itulah ia bertekad mengabdikan hidupnya untuk tuan Dion yang sudah begitu baik padanya.
Menghela nafasnya dalam, kemudian sekretaris Mia pun keluar dari lift.
Mengingat masa-masa sulitnya selalu membuatnya sedih. Melihat perjuangan ibunya untuk membiayai dirinya dan adik-adiknya. Dan hatinya begitu sakit tak kala waktu itu ia belum bekerja dan ibunya sakit, jangankan untuk berobat untuk makan saja sulit.
Sekretaris Mia sampai di ruangan kerjanya. Lagi-lagi menghela nafas, matanya menerawang jauh. Melihat kemesraan atasannya dan sang kekasih, ia memiliki sedikit rasa iri. Apa nanti akan ada lelaki yang mau menerimanya dengan tulus, bukan hanya menerima dirinya tapi beserta keluarganya yang masih bergantung padanya.
Miris memang, saat seseorang terlahir di keluarga orang yang berada. Tak perlu khawatir akan nasibnya di masa depan. Tapi baginya yang harus berjuang untuk hidup, bahkan memikirkan hari esok masih bisa makan atau tidak. Kata cinta, pacaran itu jauh dari jangkauannya.
Tersenyum miring, lagi-lagi ia membuang jauh pikiran-pikiran itu. Bekerja dengan baik dan selalu menyelesaikan tugasnya sesuai keinginan atasannya adalah tujuan utamanya saat ini sebagai bentuk rasa terimakasihnya.
"Ahh aku hampir lupa untuk mengantarkan pesanan tuan Dion." Bergegas ia ke pantry yang ada di lantai itu membuatkan teh dan mengambil camilan.
°°°
Xiexie
*Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua, jangan bosan-bosan ya untuk membaca dan menunggu kelanjutan ceritanya.
__ADS_1
Like dan komen jangan lupa.
Big love untuk kalian semua kesayangan aku*.