
°°°
Seperti yang di katakan Andra kemarin, hari ini di sekolah akan diadakan berbagai macam pertunjukan oleh para murid.
Sekolah mulai ramai para orang tua murid mulai berdatangan, wajah ceria teman sekolahnya sungguh membuat Andra iri. Mereka begitu antusias menyambut orang tuanya.
Mereka berlomba - lomba menampilkan yang terbaik, bukan untuk mendapatkan hadiah atau juara. Tapi agar para orang tua senang melihatnya.
Hampir tiba giliran Andra naik ke atas panggung, namun ia belum juga melihat kedatangan sang Daddy.
Andra sendiri akan menampilkan bakatnya dalam bermain piano.
"Sekarang kita akan melihat salah satu murid berprestasi di sekolah ini, silahkan Andra naik ke atas panggung," terdengar panggilan dari atas panggung.
Andra berjalan ke arah panggung dengan langkah yang berat, baginya untuk apa ia tampil jika orang tua nya saja tidak datang.
Andra masih mencari-cari di antara banyaknya penonton, ia masih berharap ayahnya akan menepati janjinya semalam.
"Kau bisa mulai sekarang nak," ucap pembawa acara.
Andra mulai memainkan piano itu, jari-jarinya sungguh lincah dalam menciptakan irama yang begitu indah. Para penonton pun terpana dengan penampilannya.
Andra begitu menikmati permainan piano nya, sampai ia tak sadar jika ayahnya sudah duduk di antara para penonton di depan sana.
Suara tepuk tangan menggema di aula itu, semua orang bersorak kagum pada anak laki-laki di atas panggung itu.
Andra membungkukkan badannya setelah selesai dengan penampilannya, saat mengangkat kepala, ia melihat Daddy nya sudah berada di barisan para penonton. Dari jauh ia melihat Daddy menatapnya dengan tatapan bangga. Ahh... Andra sungguh merasa bahagia.
"Daddy, terimakasih kau sudah datang," ucap Andra menemui Daddy nya setelah pertunjukan selesai.
"Tentu saja, Daddy sudah berjanji padamu," balasnya seraya mengusap kepala putranya. "Daddy bangga padamu nak," kini keduanya berpelukan, saling memberi kehangatan.
Dalam hatinya kedatangan sang Daddy adalah segalanya. Itulah pikiran sederhana dari seorang anak, dia amat sangat membutuhkan perhatian. Bukannya di minta untuk mengerti keadaan.
"Apa kau menginginkan sesuatu? Daddy akan memberimu hadiah karena penampilanmu begitu hebat hari ini," ucap Daddy setelah melepas pelukannya.
Andra tampak berfikir, semua ia sudah punya lalu apa lagi yang diinginkan.
"Aku tau Dad, tapi maukah Daddy mengabulkannya?" tanya Andra ragu.
" Tentu apapun yang kau inginkan."
"Aku ingin mengajak Daddy makan bersama."
"Apakah cuma itu? tentu Daddy mau. Ayo kau ingin makan apa?" sekarang Daddy nya yang bertanya.
"Aku belum tau Dad, kita jalan dulu saja, jika nanti aku sudah menemukan apa yang inginku makan, aku akan bilang pada Daddy."
"Baiklah ayo kita pergi."
Di dalam mobil terasa begitu hangat, ayah dan anak itu terlihat saling bercengkrama ria. Membuat sang asisten di depan menyunggingkan senyumnya. Ia berharap tuan dan tuan mudanya akan terus seperti itu.
__ADS_1
"Dad, kita makan itu saja. Aku ingin makan yang manis-manis," ujar Andra sambil menunjuk toko kue yang lumayan ramai di sebrang jalan.
"Ok boy,"
"Pak Tantan, bisakah kau menepikan mobilnya,"
ucapnya pada sang asisten.
"Tentu tuan."
Mereka memasuki toko, kemudian mulai memesan apa saja yang terlihat menarik.
"Bolehkah aku memakan itu semua Dad?" tanyanya setelah memesan begitu banyak makanan manis itu.
"Tentu, ambillah apa pun yang kamu suka."
"Yeeeaaa..."
Mereka menikmati makanan dengan penuh tawa, saling bertukar cerita.
Tiba-tiba mata Andra memandang gadis kecil yang duduk sendiri di sebuah kursi di pojok ruangan, "Dad, bolehkah aku memberikan kue ini untuknya?" tanyanya, menunjuk gadis yang tadi dilihatnya.
Dia menghampiri gadis itu, membawa sepotong kue yang tadi di pesannya.
"Hai.. bolehkah aku duduk disini?" tanya Andra pelan, ia takut gadis kecil itu akan takut bila bertemu orang yang tak di kenal.
"Tentu kak," jawabnya seraya tersenyum manis
"Apa kau mau kue, ini untukmu," ucap Andra menyodorkan kue yang di bawanya tadi.
"Kenapa kau sendirian, dimana ayah dan ibumu?" tanya Andra melihat sekeliling, mencari keberadaan orang tua gadis itu.
"Mereka sedang bekerja," jawabnya enteng.
"Apa kau tidak sedih mereka tak menemanimu?"
"Tidak, karena ada waktu nya nanti mereka akan main bersama ku, jadi aku akan jadi anak baik selama mereka bekerja," ucapnya lagi, sambil terus menyuapkan makanan manis itu ke mulut mungilnya.
Pemandangan itu terlihat begitu lucu bagi Andra, dan wajah gadis itu terlihat semakin manis dengan krim kue yang berantakan di sekitar mulutnya.
"Oh sayang, apa kau mengganggu kakak ini?" tanya seorang wanita, yang Andra tebak dia adalah pemilik toko ini.
"Tidak aunty, aku yang memberikannya."
"Lihatlah pasti sebentar lagi gigimu sakit lagi, setelah memakan kue manis itu, dan kau akan menyalahkan ibu lagi karena ibu yang membuatnya." ucap wanita itu menegur putrinya. Namun sang putri terus saja makan tanpa rasa bersalah.
"Maafkan aku aunty, aku tak tau ia tak boleh memakannya," sahut Andra merasa tak enak.
"Tidak apa nak, gadis ini memang selalu seperti itu," ucapnya seraya mencubit pipi gembul gadis itu.
"Aww... Ibu, nanti tak ada yang mau menikahi ku jika pipiku bertambah besar karena cubitan ibu," keluh gadis itu menggerutu.
__ADS_1
"Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu, kau bahkan masih menggunakan Pampers dan kau sudah memikirkan pernikahan," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya,
"Kenapa ibu berkata seperti itu di depan kakak yang tampan, tidakkah ibu memberi anak gadismu ini muka."
Wanita itu tertawa dibuatnya, tak menyangka anak gadisnya sudah bisa berfikir seperti itu.'
"Maafkan kelakuan putriku nak," ucapnya sopan.
"Tidak apa aunty, dia amat manis." Andra menjawab seraya tersenyum ke arah gadis kecil itu.
"Kalau begitu saya permisi."
Mereka keluar dari toko itu setelah menghabiskan makanannya,
"Bukankah itu Mommy?" tanya Andra menunjuk ke arah wanita di seberang jalan yang baru saja keluar dari sebuah restoran mewah.
"Bukan boy, kau salah lihat." Ucap sang Daddy berusaha berbohong, agar putranya tak melihat perbuatan ibunya selama ini.
"Ayo masuk," dad Ray membukakan pintu mobil untuk putranya.
"Daddy akan ada meeting sebentar lagi nak," bohongnya lagi.
"Tapi itu Mommy, ayo kita melihat nya Dad."
"Mungkin kau salah lihat, ayo naiklah."
"Tidak Dad itu Mommy, tapi kenapa pria itu memeluk Mommy seperti itu," tanyanya heran karena melihat pria yang baru keluar itu langsung memeluk pinggang Mommy nya mesra.
"Mommy..." teriaknya.
"Kenapa ia pergi dengan pria itu Dad?"
Tunggu apa ini yang di maksud Daddy, agar aku tak membenci Mommy jika kelak aku sudah tau semuanya. Seketika Andra berlari kearah jalan, menghadang mobil yang di tumpangi Mommy nya bersama pria tadi.
Mobil itu terus melaju, meski Andra lihat wajah Mommy begitu ketakutan. Ia berusaha mencegah pria itu agar ia menghentikan mobilnya. Tapi pria itu seakan tersenyum licik, iya terus menginjak gasnya, bahkan kini terlihat semakin kencang.
"Andra...." Daddy berteriak, ia begitu takut. Berusaha berlari menyelamatkan sang putra.
Andra tersenyum, memejamkan matanya. Ia pikir itu mustahil Mommy mengkhianati Daddy, bocah itu tak sanggup membayangkan betapa sakitnya Daddy menahan semuanya sendiri selama ini.
Andra kecil masih terus tersenyum saat mobil itu semakin mendekat. Tak mungkin baginya untuk selamat.
Brraaakkkkkkk.....
Terdengar suara hantaman benda yang begitu besar, tapi tunggu kenapa aku seperti berada di pelukan seseorang.
Andra membuka matanya, mobil itu sudah berhenti setelah menabrak sesuatu di depannya. Tapi bukan bocah itu yang tertabrak, itu seorang wanita yang sekarang tubuhnya di penuhi oleh darah. Seseorang pria tampak berlari mendekatinya, menangis dan bersimpuh di samping wanita itu.
Sekarang Andra tau, tadi wanita itu lah yang menyelamatkannya dari bahaya. Sungguh miris bukan, saat ibunya sendiri bersama orang yang hampir membunuh puntranya sendiri, tapi justru wanita lain yang rela berkorban nyawa untuk sang putra.
__ADS_1
Like & komen untuk tinggalkan jejak.
Xiexie