Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab7 Cinta Ayah


__ADS_3

...


Kecanggungan masih terasa di dalam mobil,


Setelah Rani bertanya, apa maksud kak Dion tak suka melihat nya dengan pria lain.


Tapi pria itu malah tak merespon pertanyaan Rani.


Jadilah hanya ada suasana hening sekarang ini.


Mobil itu sampai depan rumah Rani. "Terimakasih kak, aku masuk dulu," ucap nya lalu membuka pintu mobil. Terlihat jelas kekecewaan di wajah nya, karena tak kunjung mendapat kejelasan akan perasaannya.


Dion mengusap wajahnya kasar, Shiiittt


"Maafkan kakak Ran, aku belum begitu mengerti dengan perasaanku sendiri."


Ya seharusnya keduanya punya perasaan yang sama, tapi mereka juga punya kecemasan yang sama. Dion pikir Rani tak pernah mempunyai perasaan lebih padanya. Dan Rani berfikir, ia takut jika nanti mereka menjalin hubungan, lalu hubungan itu harus berakhir, dia sungguh tak sanggup jika harus kehilangan sosok Dion di hidupnya.


,,,


Sementara di ruangan yang tadi cukup ramai, kini mulai terasa sepi. Para pengunjung nya mulai meninggalkan tempat itu satu persatu.


Karena memang waktu sudah semakin larut, bahkan hampir dini hari. Untung saja besok hari libur, kalau tidak pasti banyak siswa/i yang bolos besok.


"Kamu sudah terlalu banyak minum An," tutur Reza yang mengkhawatirkan temannya itu. Walaupun ia tau toleransinya terhadap alkohol cukup bagus, tapi tetap saja jika berlebihan itu tidak baik ya.


Andra tak menghiraukan ucapan sahabatnya, ia masih saja meneguk minuman itu.


Setelah puas melampiaskan keluh kesah nya pada minuman, Andra pun beranjak dari tempat itu. Ya dia tidak terbiasa bercerita tentang masalahnya pada orang lain, walau punya sahabat yang cukup dekat atau keluarga. Tapi baginya lebih baik menyimpan dan menyelesaikan masalah nya sendiri.


"Biar aku yang bawa mobilnya, kamu minum terlalu banyak," ujar Reza setelah mereka sampai di parkiran mobil.


Andra pun membiarkan apa yang Reza lakukan, ia tau sahabatnya itu sangat mengkhawatirkannya.


,,,


Di pagi yang cerah, cahaya sang surya yang mulai menampakan sinarnya. Memberikan kehangatan bagi penghuni bumi ini.


Meeoong


Gadis yang masih bergelut dalam dunia mimpinya pun mulai menggeliat, "Ohh Moli , kau membangunkan ku, " lalu ia memejamkan matanya kembali. Tapi rupanya kucing manis itu tak menyerah, lagi-lagi ia mencoba membangunkan sang pemilik.


"Hahaha... ok stop Moli, aku bangun sekarang," Rupanya Sabil mulai tak tahan dengan bulu-bulu halus yang terus mengganggunya. "Ini weekend , harusnya kau membangunkan ku siang nanti," ucap Sabil, sekarang gilirannya yang menggelitik Moli gemas.


"Haahhh..." Sabil keluar dari kamarnya, meregangkan otot tubuhnya. Berjalan ke dapur, mencoba mencari sesuatu untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering.


Dituangnya air putih ke dalam gelas, Sabil meneguk nya hingga tandas. "Dimana ayah?" ia mencari keberadaan ayahnya.


Sabil memandangi ayahnya yang sedang sibuk membuat kue-kue, karena sebentar lagi memang waktu nya jam toko buka.

__ADS_1


Pak Mul sadar jika dari tadi ada yang memperhatikan nya, ia pun menoleh. "Tidak biasanya kamu bangun pagi di hari libur nak?" tanyanya.


"Ayah... Moli yang membangunkan ku," jawab Sabil bergelayut manja di lengan ayahnya.


"Baguslah, ayah rasa pekerjaan ayah sedikit berkurang," sambil mengusap kepala Sabil. "Biasanya kau susah dibangunkan," ayah terkekeh sendiri.


"Mandilah, ayah sudah membuatkan sarapan."


"Jika kau masih berpenampilan seperti itu, bisa-bisa tak ada yang membeli kue ayah," ucap pak Mul menggoda putrinya, memandangi penampilan anaknya yang masih menggunakan piyama tidur dan rambut masih berantakan.


"Biarkan saja, bukankah putrimu ini selalu terlihat cantik," sahut Sabil dengan berpura-pura merajuk.


"Memang putri ayah yang tercantik," bujuk sang ayah.


"Baiklah ayah, aku mandi dulu," Sabil berjalan masuk.


Pak Mul masih memandangi putrinya itu, dia memang mewarisi kecantikan ibunya. Dalam keadaan apapun akan terlihat cantik.


,,,


Toko siap di buka seperti biasa, hari ini Sabil akan membantu ayahnya seharian. Kegiatan yang selalu Sabil lakukan di akhir pekan.


Tringg


Bunyi bel pintu toko jika ada yang membuka pintu itu.


"Selamat pagi nyonya, silahkan mau beli kue yang seperti apa?" sapa Sabil ramah.


"Tentu, tunggu sebentar, saya akan membungkusnya," Sabil membungkus kue pesanan pelanggan itu dengan hati-hati.


"Ini nyonya silahkan kan," Sabil menyerahkan kue yang sudah di bayarnya tadi.


"Apa anda sedang tidak sehat, ehhh maafkan saya tidak bermaksud lancang," ucap Sabil takut orang di depannya itu tersinggung.


"Tidak nak," jawabnya seraya tersenyum ramah.


"Kau terlihat semakin cantik, pasti banyak laki-laki yang mendekati mu,"


"Ahh tidak nyonya, kau terlalu memuji," pipi gadis itu sedikit memerah.


Wanita tua itu tersenyum,


"Selamat pagi nyonya, apa anda sudah mendapatkan apa yang anda inginkan?" tanya pak Mul yang baru datang dari belakang.


"Sudah pak Mul, putrimu yang cantik ini sudah melayani ku,"


"Kalau begitu aku permisi dulu,"


"Terimakasih nyonya," Sabil sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Ya mereka tampak akrab karena hampir setiap hari wanita itu membeli kue di tokonya. Bahkan jika tidak sempat datang sendiri, ia akan menyuruh bawahannya membeli nya.


Wanita tua itu masuk ke dalam mobilnya, ia masih memandang ke dalam toko kue itu. Di hatinya ia begitu senang melihat ayah dan anak itu baik-baik saja.


Tiba-tiba dia teringat anak lelaki nya, "Andra Alfatih, kapan kau akan memaafkan Mommy?" gumamnya,


"Jalan pak," perintah nya pada sang supir.


,,,


"Ayah bukankah sebentar lagi hari peringatan kematian ibu," Ujar Sabil pada ayahnya,


"Sudah sepuluh tahun ibu pergi, tapi aku masih bisa merasakan kehangatan nya disini."


Pak Mul menatap putrinya sendu, "Ibumu selalu bersama kita nak, dia pasti senang putrinya tumbuh dengan baik."


"Ayah bagaimana kau bisa begitu hebat, membesarkan ku seorang diri," ujar Sabil, ia memeluk ayahnya erat. Dapat di rasakan nya kehangatan penuh kasih sayang dari sang ayah.


"Apa ayah tak menginginkan seorang pendamping, untuk menemani hari tua ayah?" ucapnya lagi setelah melepas pelukannya.


"Tidak nak, kebahagiaanmu adalah yang utama untuk ayah." ucapnya lembut.


"Baiklah tapi jika ayah menginginkan seorang pendamping, aku akan mendukungmu,"


"Apa kau tidak takut jika mempunyai ibu tiri?"


"Tidak, karena aku yakin ayah tidak akan mencarikan ibu tiri yang kejam untukku," Jawab Sabil seraya tersenyum,


Pak Mul tersenyum lebar di buatnya, sungguh Sabil amat sangat bahagia melihat ayahnya bisa tersenyum.


Meong


Moli muncul dibawah kaki mereka,


"Ohh Moli, apa kau sudah memberi nya makan nak?"


"Tentu sudah ayah, dia memang manja sekali sekarang," jawab Sabil, lalu mengelus lembut bulu Moli.


"Mungkin dia mengajakmu bermain," ucap ayah.


Sabil memandangi ayahnya,


Apa kelak akan ada lelaki sebaik ayah untukku, yang setia sampai akhir, yang cintanya tak pernah luntur.


...


Jangan lupa Like & komen readers


salam receh

__ADS_1


xiexie


__ADS_2