Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab120 Happy Wedding Rani & Dion


__ADS_3

°°°


Sebuah ballroom hotel mewah disulap menjadi tempat pernikahan yang megah. Jika dulu Sabil dan Andra menikah dengan sederhana dan tanpa publikasi. Kini pesta ini benar-benar seperti royal wedding putri bangsawan.


Artis cantik yang sedang banyak digandrungi oleh kaum remaja dan ibu-ibu menikah dengan CEO R Entertainment yang banyak digilai para wanita. Ribuan tamu undangan hadir dan puluhan wartawan pun ikut memenuhi tempat itu.


Dekorasi yang bernuansa putih, begitu indah dengan dihiasi bunga-bunga dan lampu yang cantik. Banyak yang iri dengan Rani, selain dianugerahi paras yang cantik dan sukses dengan karirnya, kini ia juga mendapatkan calon suami yang tampan dan kaya raya.


Sabil berjalan menuju kamar dimana Rani sedang dirias. Ditemani beberapa pelayan pribadinya yang Andra siapkan, tentu mereka sudah dilatih untuk menjaga keamanan nona modanya.


"Rani, apa kau sudah siap?" tanyanya begitu melewati pintu.


"Kau cantik sekali, pasti kak Dion terpesona melihatmu nanti."


"Kau jangan membuatku semakin gugup Sabil. Jangtungku dari tadi berdebar kencang, aku sangat gugup." Bagaimana tidak gugup kalau terbayang-bayang roti sobek suaminya yang semalam ia lihat.


"Tenang saja, semuanya pasti berjalan lancar. Tarik nafas yang dalam lalu hembuskan perlahan." Sabil menenangkan temannya.


"Hah... terimakasih kau mau menemaniku hari ini. Pasti sulitkan mendapatkan ijin dari kak Andra."


"Tidak, sayangku Rani. Kak Andra tentu saja mengijinkannya," jawab Sabil.


Rani senang temannya satu-satunya yang ia anggap paling tulus dan baik mau menemaninya dihari yang sangat penting ini.


"Bagaimana kabar keponakan aunty?" Rani mengusap perut Sabil.


"Baik aunty, aku sangat sehat." Menjawabnya dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


"Apa aku juga bisa seperti ini." Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulut Rani. Membayangkan perutnya akan membuncit seperti Sabil, mungkin terlihat lucu.


"Kenapa sudah memikirkan hamil, malam pertama saja belum." Sabil terkekeh mendengar celotehan sang sahabat.


Sedangkan Rani, ia salah tingkah saat Sabil mengatakan malam pertama. Pikirnya sudah melayang kemana-mana.


"Hai... kenapa pipimu merah." Sabil tertawa melihat tingkah temannya.


"Mana... tidak. Ini hanya makeup nya saja yang terlalu tebal." Rani berusaha menghapus makeup nya dengan tisu.


"Sudah sudah. Nanti jadi berantakan kalau kau hapus. Sudah cantik begini. Ayo kak Dion dan yang lain sudah menunggu." Sabil menghentikan tangan Rani yang sedang mengusap wajahnya.

__ADS_1


Ahhh... bayangan siaalaan. Kenapa aku tidak bisa melupakannya. Teriak Rani dalam hati.


Baju pengantin yang menjuntai panjang, membuat Rani semakin anggun hari ini. Ia bagai putri dalam sehari, dibelakangnya banyak dayang-dayang yang membantu membawakan ekor gaunnya. Terlalu berat bagi Rani jika harus menyeret ekor gaunnya sendiri yang panjangnya sampai 10 meter. Suara riuh tepuk tangan para tamu menyambut kedatangan Rani. Mereka sangat antusias dan kagum dengan kecantikan yang dimiliki artis papan atas itu.


Dion yang sudah menunggu di altar pun terpesona, walaupun sudah melihatnya kemarin memakai pakaian pengantin. Hari ini tetap saja terasa beda, atau karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Rani pun sama lelaki tampan berjas putih itu hari ini benar-benar membuat Rani tak bisa mengalihkan pandangannya.


Jantung Rani makin berdegup kencang saat pandangan Dion tak lepas darinya. Pandangan mata orang lain tak seberapa baginya tapi pandangan lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya membuatnya makin gugup. Ia berusaha tenang hingga sampai ke altar dimana Dion sudah menunggu.


"Kau cantik sekali sayang," bisik Dion dan itu membuat Rani kembali merona.


Mengucap janji suci dihadapan Tuhan sudah terlewati dengan begitu lancar. Kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Para orang tua dan tamu undangan menangis haru sambil bertepuk tangan. Sabil pun ikut terharu melihatnya, ia menjadi saksi kisah cinta mereka dari jaman sekolah menengah dulu.


"Sayang..." Suara yang sangat Sabil kenali, ternyata Andra baru saja datang.


"Anak papah tidak membuatmu repot kan?" Mengusap perut sang istri penuh kelembutan.


"Tidak kak, dia hebat. Apa urusan kak Andra sudah selesai?"


"Sudah sayang, aku langsung datang kesini."


Andra selalu mengkhawatirkan keadaan sang istri, banyak buku yang ia baca dan banyak berkonsultasi dengan dokter kandungan mengatakan, jika wanita hamil terkadang banyak maunya dan mudah lelah bahkan moodnya pun berantakan. Walaupun dari awal kehamilan Sabil tak pernah mengeluh soal apapun tapi ia tetap khawatir.


"Aku melihatmu semalam, apa kau puas melihat tubuhku. Nanti malam kau bisa sepuasnya menikmati tubuhku." Dion berbisik setelah mereka selesai berciuman.


Glekk.


Rani susah payah menelan ludahnya saat mendengar Dion mengatakan hal itu. Itu artinya ia benar-benar ketahuan mengintip. Lalu apa tadi katanya, menikmati sepuasnya nanti malam. Ohh Rani benar-benar tidak sabar menantikan hal itu.


Dunia maya kini tidak hanya dihebohkan dengan berita pernikahan bintang papan atas Rani dan Dion tapi juga oleh pasangan suami istri yang tampak begitu mesra. Pertama kalinya dalam sejarah, tuan muda Adiguna membiarkan wartawan mengambil gambarnya dengan sang istri.


Para wartawan yang hadir merasa sangat beruntung hari ini. Atasan mereka pasti juga senang melihat berita ini. Tak lupa mereka juga mengabadikan momen saat tuan muda Adiguna itu mengusap perut istrinya, itu berarti nona muda sedang hamil.


Walaupun para wartawan hanya bisa memotretnya dari kejauhan tapi mereka juga sudah senang. Sudah dipastikan perusahaan media tempat mereka bekerja akan naik pesat karena mereka berhasil mendapatkan foto dari nona muda Adiguna. Wanita yang terlihat begitu cantik walau perutnya membuncit.


Tapi sebelum itu mereka telah diperingatkan, tidak boleh menyebar gosip sembarangan dan hanya boleh menulis apa yang mereka lihat hari itu.


"Kak, ayo kita memberi selamat pada Rani dan kak Dion." Sabil menggandeng lengan sang suami menuju altar dimana saat ini sepasang pengantin baru itu berdiri menyalami para tamu undangan.


Andra menurut saja saat Sabil menariknya, mengantri diantara banyaknya tamu untuk menunggu giliran menyalami pengantin. Sebenarnya para tamu yang kebanyakan pengusaha dan artis itu merasa tidak enak, saat tuan muda Adiguna mengantri di belakangnya. Mereka mau saja jika Andra meminta jalan untuk lebih dulu. Tetapi perrmintaan sang istrinya membuatnya mengantri.

__ADS_1


"Sayang, apa kau tidak lelah jika berdiri terlalu lama begini." Andra mengkhawatirkan bumil yang begitu antusias saat menunggu giliran.


"Tidak kak, aku senang." Hanya mengantri saja sudah bisa membuat mata Sabil berbinar, permintaan calon bayi mereka sederhana sekali. Si calon bayi mengajak papahnya merasakan hidup sederhana.


Akhirnya setelah sekian lama menunggu antrian, tiba giliran mereka bersalaman dengan pengantin baru itu.


"Selamat Rani sayang, akhirnya kau menjadi seorang istri juga." Sabil memeluk temannya, lalu beralih ke Dion.


"Selamat juga kak Dion, kau harus menjaga Rani dengan baik."


"Tentu," ujar Dion seraya satu tangannya mengusap kepala Sabil, hal yang biasa ia lakukan dulu. Tapi sekarang sudah berbeda, apa dia tidak melihat tatapan tajam Andra saat ini.


"Selamat untuk kalian, aku sudah menyiapkan hadiah spesial. Salam juga dari mommy dan daddy, maaf mereka tidak bisa datang." Ujar Andra.


"Terimakasih sepupuku, aku tidak sabar membuka hadiah darimu." Tertawa puas, karena dulu Andra pernah berjanji akan membelikan nya mobil mewah jika Dion menikah.


Mendengar suara tawa Dion yang mengejek, Andra memutar bola matanya lalu membuang muka.


"Apa yang lucu kak?" Rani heran dengan saudara sepupu itu yang hampir jarang akur.


"Tidak apa-apa, nanti ka akan tau." Masih tertawa puas.


"Sayang, ayo turun. Lihatlah dibelakang banyak orang yang mengantri." Itu hanya alasan, sebenarnya Andra ingin menjauh dari Dion yang terus menertawakannya.


Sabil menoleh karena ia tak sadar sebelumnya jik benar dibelakang mereka banyak orang yang menunggu.


"Maaf Ran, kami harus pergi sekarang." Sabil kecewa tapi apa boleh buat, dibelakang masih banyak yang mengantri. Walaupun mereka tidak keberatan, menunggu demi CEO Adiguna.


°°°


Xiexie


Salam sayang dari Sabila dan Andra.


baca novel author yang baru juga ya.


Judulnya Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)


nama penanya THREE ONO

__ADS_1


Inget ya di akun Three ono bukan di disini.


__ADS_2