
°°°
Hari ini Andra berniat mengajak Sabil jalan-jalan terlebih dahulu. Sang istri menolak awalnya karena ia pikir tidak enak pada mom dan dad Ray.
"Kita kesini kan untuk melihat mommy kak tapi kenapa ada agenda jalan-jalan segala."
Tapi setelah Andra jelaskan jika yang menyuruh itu mom Rahmi sendiri barulah Sabil menurut.
Udara di kota itu masih sama di bawah O°. Pakaian yang tebal dan berlapis mantel sudah mereka pakai, sudah siap untuk menjelajah keindahan negara ini.
Perjalanan kali ini cukup lama, karena Andra ingin mengajak Sabil bermain salju di ketinggian.
"Kita sampai sayang." Ujar Andra.
"Lihatlah kita akan menaiki itu sampai ke puncak lalu bermain sky dari atas sana." Tunjuknya pada benda seperti kereta yang bergantung di kabel besar.
Cable Car alat transportasi yang akan menghantarkan kita ke puncak tertinggi pegunungan Titlis yang sangat terkenal. Kita tidak perlu mendaki seperti di gunung lain, hanya tinggal duduk manis dan menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan yang membentang sepanjang negara Swiss.
Tidak hanya dikelilingi pegunungan es, di Swiss juga terdapat danau yang membentang luas.
Sabil memaku melihat keindahan yang ada di depan matanya. Pemandangan kota dan alam Swiss sangat menakjubkan. Mereka hampir mencapai puncaknya, kereta gantung itu berhenti.
Sabil dan Andra menikmati hari mereka menghabiskan waktu dengan mencoba berbagai wahana yang ada disana. Cukup untuk membuat mood Sabil membaik.
Pulang dari puncak gunung tak lupa Andra juga membawa Sabil untuk singgah ke berbagai toko yang ada disana. Swiss juga terkenal sebagai negara penghasil coklat dan juga pembuat jam tangan dengan berbagai merk terkenal.
Andra membelikan semua itu untuk sang istri, tak lupa untuk ayah mertua dan teman-temannya juga.
Sabil tak tau menahu harga dari setiap barang yang Andra bayarkan, karena mata uang mereka berbeda. Tapi wanita itu protes karena banyaknya barang yang sudah mereka beli.
"Kak, itu untuk apa lagi. Belanjaan kita sudah cukup banyak." Menyatukan kedua alisnya.
__ADS_1
"Hehehe ini untuk eksperimen nanti." Sabil tambah bingung dengan jawaban suaminya.
Eksperimen apa yang akan kak Andra lakukan dengan coklat cair, bingung Sabil.
Sampai juga di apartemen, barang belanjaan yang banyak tadi sudah dibawa orang suruhannya dan sudah ada di dalam apartemen saat mereka sampai.
"Terimakasih kak, aku senang sekali hari ini." Melepaskan mantel karena di dalam apartemen sudah ada penghangat yang cukup untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Sama-sama sayang." Mengecup kening istrinya.
Kemudian Sabil mulai membongkar barang-barang yang mereka beli tadi. Tapi tidak dengan barang-barang yang akan dijadikan oleh-oleh, semuanya sudah dipisah dengan milik pribadi.
Lagi-lagi coklat cair yang tadi Andra beli ada di tas belanjaan tapi Sabil tak mau ambil pusing. Entahlah lelaki itu mau membuat apa, mungkin mau membuat kue.
Merapikan baju-baju dan yang lainnya sudah hampir selesai, kini Sabil ingin membersihkan tubuhnya. Meski cuaca sedang sangat dingin bukan berarti tubuhnya tetap bersih setelah seharian bermain diluar. Tubuhnya tetap terasa lengket sesudah sampai di apartemen.
Tanpa sadar ternyata suaminya itu sudah menghilang, padahal tadi masih duduk di sofa.
"Kemana kak Andra. Aku tidak melihatnya keluar tadi. Ya sudahlah aku mandi saja, mungkin dia sedang membeli sesuatu."
,,,
Andra ternyata sedang memesan makanan untuk makan malam mereka nanti dan menyiapkan sebuah kejutan romantis untuk sang istri.
Lelaki itu sibuk menata makanan di atas meja yang sudah berhias lilin dan bunga. Ia tau Sabil pasti akan lama di kamar mandi, istrinya itu suka sekali berendam air hangat. Itulah waktunya ia memanfaatkan waktu untuk menyiapkan kejutan.
Siap dengan kejutannya, ia beranjak ke kamar melihat istrinya itu sudah selesai atau masih mandi. Benar saja kan Sabil belum keluar juga.
Untunglah Andra jadi punya waktu yang cukup.
Menghela nafasnya, bernafas lega saat menyadari istrinya masih mandi.
Kemudian Andra mengetuk pintu kamar mandi, mengkhawatirkan istrinya yang mandi terlalu lama di cuaca yang dingin seperti ini.
__ADS_1
"Sayang, kau belum selesai?"
Tak ada jawaban dari istrinya, Andra langsung cemas. Lalu mengetuk pintu kembali.
"Sayang, apa kau mendengarkanku Sabila."
"Iya kak, sebentar lagi." Teriaknya.
"Jangan terlalu lama berendam, nanti kau sakit sayang." Kata Andra lagi.
"Iya..."
Andra geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri. Jika ada waktu untuk berendam pasti dia akan menghabiskan waktunya di kamar mandi. Seperti anak kecil yang tak pernah bermain air.
Beberapa saat kemudian Sabil selesai dengan ritual mandinya. Keluar sudah dengan pakaian lengkap, membuat yang menunggu sedikit kecewa. Tapi ya sudahlah mereka juga belum makan malam, nanti malah kelaparan kalau ada kegiatan lain juga.
"Maaf kak, aku lupa belum memasak. Aku akan membuat makan malam dulu kak." Sabil berbalik tapi tubuhnya berputar kembali karena ternyata tangan Andra menariknya.
"Tidak perlu, aku sudah memesan makanan."
"Benarkah, kalau begitu ayo kita makan."
"Tunggu," ujar Andra membuat Sabil menyerngitkan dahinya.
"Apa lagi kak." Andra terlihat membuka lemari dan mencari sesuatu.
"Kakak cari apa?" Sabil penasaran dan ikut melihat kedalam lemari.
"Pakai ini saja." Tersenyum menyeringai menatap sebuah dasi ditangannya.
Sabil semakin dibuat heran dengan apa yang ada digenggaman suaminya.
°°°
__ADS_1
Xiexie
Big love untuk kalian semua.