Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab20 Terkejut


__ADS_3

°°°


Sabil terbuai dalan lamunannya.


"Sabil..Sabil ," panggil mom Rahmi berulang kali.


"Eh iya Mom," Sabil tersenyum menampakkan deretan giginya. Ia cukup malu ketahuan mengagumi bangunan besar itu.


"Minumlah dulu, diluar sangat panas. Kau pasti haus."


"Iya Mom."


Pandangan Sabil beralih pada meja yang di atasnya sudah tertata rapi beberapa minuman dan camilan.


Bukankah tadi meja ini kosong, kapan mereka menatanya, pikir nya.


"Nanti Mom akan kenalkan kau dengan suamiku, kau juga bisa memanggil nya Daddy." ujar Mom Rahmi.


"Putra Mom juga sedang di rumah, dia sedang belajar di kamarnya," ujarnya lagi.


Sabil hanya menjawab dengan anggukan saja.


Mereka saling bertukar cerita, ada saja bahan yang mereka bahas bila bertemu.


Sampai tak terasa waktu sudah semakin sore.


Mom Rahmi melihat jarum jam, ini sudah waktunya ia menyiapkan makan malam.


"Mom tinggal masak dulu ya, kau bisa berkeliling kalau mau," ujar Mom Rahmi.


"Boleh tidak kalau aku membantu Mom memasak?" tanya Sabil ragu.


"Kau itu tamu nak, jadi nikmati saja cemilan mu, dan kau bisa berkeliling kalau bosan."


"Aku ingin membantu Mom saja," ujar Sabil dengan wajah yang penuh harap.


Tentu tidaklah sopan baginya berkeliling sendiri di rumah orang.


Mom mengusap pucuk kepala Sabil, "Baiklah jika kau yang mau."


,,,


Mereka berdua berkutat di dapur, para pelayan tak ada yang berani mengganggu nya.


Kegiatan memasak itu sungguh berbeda dari biasanya. Para pelayan pun ikut bahagia melihat kedekatan Sabil dan majikan mereka.


"Apa kau juga pintar memasak?" tanya mom Rahmi.


"Ohh tidak Mom, aku hanya sesekali membantu ayah memotong sayuran saja." jawab Sabil jujur.


"Hahaha... kau jujur sekali nak," Mom Rahmi amat suka dengan kepolosan Sabil.


Pemandangan itu tak luput dari sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Andra sebenarnya ingin sekali turun sejak tadi, namun ia pikir gadis itu mungkin akan merasa canggung bila tau ia adalah putra mom Rahmi.


Jadi Andra memutuskan melihat mereka dari atas saja, ia akan turun saat makan malam saja nanti.


Beberapa menu sudah tertata rapi di atas meja makan.

__ADS_1


Ternyata Mom Rahmi pandai memasak, tak hanya menyuruh para pelayan nya saja, pikir Sabil. Ia pikir para orang kaya hanya akan sibuk memerintah saja.


"Semua sudah siap, sekarang kau duduklah," perintah Mom Rahmi.


"Iya Mom," Sabil duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana.


"Bi Nah, tolong panggil kan Andra,"


"Baik nyonya,"


Tunggu apa tadi aku dengar, Mom Rahmi menyebut nama Andra? Mungkinkah itu Andra yang sama dengan kakak kelas ku, pikiran Sabil tak tenang bagaimana kalau yang ia pikirkan itu benar.


"Suami Mommy juga sebentar lagi sampai, kita tunggu mereka sebentar ya," ujar Mom Rahmi membuyarkan lamunan Sabil.


Sabil menganggukkan kepalanya.


Seseorang tampak turun dari lantai atas, belum juga bi Nah naik untuk memanggil sang tuan mudanya.


Sabil belum menyadari lelaki yang amat tampan itu turun dan memandangnya tanpa berkedip. Ia masih berperang dengan pikirannya sendiri.


"Lihatlah putra Mommy sudah turun," ujar mom Rahmi antusias, ia tak sabar memperkenalkan putranya pada Sabil.


Sabil mengalihkan pandangannya ke arah lelaki yang kini sudah sampai di hadapannya.


Andra menarik kursi tepat di hadapan Sabil.


Duaarrr,


Sabil tak percaya, apa yang di pikirannya itu benar. Yang di depannya ini sungguh kakak kelasnya di sekolah.


"Sabil perkenalkan, ini putra Mommy namanya Andra," ujar mom Rahmi memecah keheningan.


Sabil tersenyum kaku.


Mau tak mau Sabil membalas uluran tangannya.


"Kami sudah kenal mom," ujar Andra tanpa melepas tautan tangannya. Dan bola matanya menatap dalam Sabil.


Sabil tertegun bola matanya mereka saling bertemu.


Rupanya cukup lama Andra dan Sabil tak melepaskan jabatan tangannya. Membuat mom Rahmi tersenyum melihatnya.


"Ehheemmm..." Sebuah suara mengagetkan dua pasang manusia yang tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sabil langsung menarik tangan nya, namun laki-laki di depannya belum berniat melepaskan. Sudut bibir lelaki itu sedikit terangkat.


Sabil sungguh tak enak pada Mom Rahmi, bisa-bisanya ia malah mematung seperti itu.


Akhirnya Andra melepaskan tangan halus gadis itu. Ia tak tega melihat pipinya yang sudah memerah.


"Jadi kalian sudah saling kenal, baguslah," Mom Rahmi tersenyum penuh arti.


Sabil hanya menundukkan kepalanya, ia tak berani lagi menatap Andra.


Mobil yang di tumpangi suami mom Rahmi telah sampai halaman rumah.


Pekerja yang melihat mobil tuannya datang, dengan sigap membukakan pintu mobilnya.


"Malam tuan," sapa para pekerja.

__ADS_1


Dad Ray hanya menjawab dengan anggukan saja. Ya wajahnya sangat tegas dan berwibawa, ia hanya akan membagikan senyum nya pada sang istri tercinta. Pada putranya pun ia jarang tersenyum.


Sedangkan di dalam kecanggungan melanda Sabil. Ia bahkan hanya sesekali mengangkat kepalanya.


"Apa kalian cukup dekat di sekolah?" tanya Mom Rahmi.


"Tidak Mom," jawab Sabil.


"Berarti kau kakak kelasnya Sabil kan An?" tanya Mom pada Andra.


"Iya Mom,"


"Kau harus menjaga Sabil di sekolah,"


"Pasti Mom," sahut Andra cepat.


Sabil cukup terkejut mendengar jawaban yang di berikan Andra, ia kira pasti kakak kelasnya itu akan menolak.


"Tidak perlu Mom, kita tak cukup dekat." sanggah Sabil.


"Eits... mulai sekarang kalian harus dekat dan saling menjaga, kamu setuju kan An?" ujar Mom Rahmi.


"Iya Mom."


Kenapa pria ini menjawab iya seenaknya.


Sabil melongo di buatnya, apa hanya ia yang menangkap maksud lain dari kalimat yang barusan di ucapkan Mom Rahmi.


Dan lelaki itu dengan mudahnya menjawab iya.


"Sepertinya Daddy mu sudah sampai," ujar Mom Rahmi.


Mom Rahmi terlihat begitu senang menyambut suaminya pulang.


Ia pasti sangat mencintai suaminya, pikir Sabil.


"Maaf Daddy terlambat," ujar Dad Ray.


"Tak apa sayang, kami juga baru menyelesaikan masakannya," jawab mom Rahmi, ia menyambut suaminya dengan pelukan.


"Ayo, aku perkenalkan dengan anak gadisku," ujar Mom Rahmi lagi.


Pasangan yang tak lagi muda itu berjalan mendekat ke meja makan. Mom Rahmi merangkul lengan suaminya mesra.


"Sabil sayang, ini suami Mommy, kau bisa memanggil nya Daddy Ray," ujar Mom Rahmi pada Sabil.


Sabil berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat, "Malam tuan," sapa Sabil.


"Panggil Daddy seperti kata Mom," sahut Dad Ray.


Gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti.


Dad Ray sudah duduk di kursinya, kursi yang berada di paling ujung menghadap mereka semua.


Mungkin itu memang kursi untuk kepala keluarga, pikir Sabil.


"Ayo duduklah nak," perintah Mom Rahmi.


Sabil pun duduk. Mereka mulai menyantap makan malam itu, sesekali Mom Rahmi melontarkan beberapa kata. Ya hanya Mom Rahmi yang berani bersuara, Dua orang lelaki ayah dan anak itu terlihat kaku. Sedangkan Sabil, tentu saja ia yang paling gugup di antara semuanya.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2