
°°°
Setelah Shila pergi, Alex masih merasa gusar juga. Pasalnya kedatangan gadis itu berhasil membangunkan sesuatu yang menyerupai hamster kecil bila tertidur, kini berubah bak tikus mondok yang besar.
Tikus mondok nya butuh segera bersarang, tapi tidak bisa sembarang sarang ia mau singgah. Ia tak bisa bebas bereaksi sekarang, tidak seperti dulu yang asal ada lubang ia mau masuk.
"Shiiittt..." Alex mengumpat kasar.
"Kenapa kau?" Tanya Reza yang menyadari temannya itu seperti sedang frustasi.
Alex tak menjawab, ia memejamkan matanya, sedang berkonsentrasi menenangkan gejolak yang sudah membuncah dalam dirinya. Berharap tikus mondok nya segera menyusut menjadi hamster kecil lagi.
"Woy..." Panggil Reza lagi, karena tak kunjung mendapat jawaban. Malah temannya terlihat semakin aneh.
Namun kemudian ia ingat, barusan Shila baru saja pergi lalu temannya menjadi seperti itu.
Reza melihat bagian bawah Reza, terlihat sangat menonjol di sana, sontak ia tertawa kemudian.
"Hahahaha... lebih baik kamu ke psikiater saja. Mungkin anu mu sudah tak berfungsi. Kau hanya menjadikan Shila alasan."
Buyar sudah konsentrasi Alex, mendengar temannya menertawakan nya. Ia mengusap kasar wajahnya. "Sialaan..."
Kemudian ia berlari ke kamar mandi, mau tak mau ia harus bersolo ria.
Reza masih tertawa sampai sudut matanya berair. Kemudian beralih pada Andra yang sedang memainkan laptop nya.
Andra memang cenderung tak peduli pada hal-hal yang tak begitu penting dan tidak pandai bercanda. Namun jangan salah! Ia selalu menjadi yang terdepan bila temannya bertemu masalah.
"Kau sedang apa?" Tanya Reza.
Andra tak menjawab, ia masih menatap layar laptop nya, dan jari jemari nya bergerak lincah pada tombol keyboard.
Reza mendekat, ia pun melihat apa yang sedang Andra kerjakan. Apakah game? Bukan.
__ADS_1
Andra tak begitu menyukai game, hanya sesekali ia memainkannya bila Alex yang mengajak. Karena di antara mereka, Alex lah yang menggilai game online.
Terlihat rentetan huruf dan angka di sana. Bahkan hampir memenuhi layar laptop itu. Reza tak heran, temannya itu memang selain pandai di bidang bisnis, ia juga pandai dalam hal teknologi.
"Apa itu?" Tanya Reza lagi, yang tak mengerti untuk apa kegunaan itu semua.
"Mencari orang-orang yang beriman-main di belakang Daddy." Jawab Andra setelah selesai bersenam jari. Terlihat tulisan Success, tanda ia sudah menyelesaikan misinya.
"Apa sudah ketemu?"
"Sangat mudah, kita lihat siapa yang berani bermain-main. Setelah aku mulai memasuki perusahaan, aku akan memberi mereka pelajaran." Kini senyum licik tercetak di wajahnya.
Daddy Ray memang berencana memasukkan Andra ke perusahaan, mengenalkannya sedikit demi sedikit tentang bisnis nya. Berharap nanti saatnya ia lelah, Andra sudah siap menggantikan nya.
"Ohh lihatlah, jika kau tersenyum seperti itu. Aku malah jadi mengkhawatirkan mereka." Ujar Reza, ia paham betul jika Andra tak pernah main-main jika pada para penghianat.
,,,
"Sabila..." Panggil Rani yang sudah berhasil menyusul temannya itu. Mereka sudah sampai di kelas.
"Tidak."
"Hehehe... maaf ya," Ujar Rani.
"Huh... tidak apa-apa."
"Tapi aku rasa kak Andra menyukai mu." Ujar Rani lagi dengan sedikit berbisik.
"Tidak mungkin." Sahut Sabil.
"Kau tau, dia memandang mu dengan berbeda. Bahkan padaku saja yang sudah kenal lama ia tidak pernah menyapa."
"Mungkin hanya perasaan mu saja." Sabil mengelak.
__ADS_1
"Jadi gimana, kalau ia benar-benar menyukai mu?" Goda Rani lagi.
"Sudah ku bilang, ia memperlakukan ku dengan baik karena aku dan Mommy nya dekat."
"Benarkah, tapikan ini jika Sabil. Aku bertanya jika dia menyukai mu bagaimana?" Rani menyengol-nyenggol lengan Sabil, agar menjawab pertanyaan nya.
Sabil meletakkan buku yang di sedang di bacanya, memikirkan pertanyaan Rani.
Ahh siapa yang bisa menolak kalau begitu, tapi tidak mungkin.
Rani menepuk pundak Sabil. "Kenapa kau malah melamun? Apa kau sedang membayangkan kakak kelas kita sekarang. Hayoo... mengaku saja."
Rani terkekeh melihat pipi Sabil yang memerah.
Sungguh wajah Sabil itu tidak pandai menutupi apa-apa dari Rani.
"Hussttt... udah ahh... kau itu menggoda saja."
Sabil kembali membaca bukunya.
"Hehehe iya iya... "
...
Kelas pertama telah berakhir.
Rani dan Sabil sedang bersiap akan ke kantin, ya sebelum ke perpustakaan Sabil akan ke kantin dahulu mengisi perutnya.
Sedikit terdengar obrolan para siswi di kelas dan di sepanjang koridor. Mereka sedang membicarakan kakak-kakak kelasnya yang sebentar lagi meninggalkan sekolah menengah atas itu.
Ya mau bagaimana lagi. Andra dan temannya termasuk Dion juga merupakan idola satu sekolahan itu. Bahkan di sekolah lain pun mereka terkenal di kalangan para gadis pasti nya. Ya begitulah dunia Maya sekarang, kekuatan netizen tidak perlu diragukan lagi.
Ada sebuah grup fans untuk para pria tampan itu, di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan-kegiatan idolanya di sekolah. Ada yang bertugas memfoto setiap gerakan yang sang idola lakukan, tentu untuk di upload di dalam grup, memanjakan mata para pengikutnya. Dari sanalah kegiatan share mengshare terjadi, tentu para fans fanatik berusaha berlomba-lomba mencari anggota sebanyak-banyaknya, sampailah pada sekolah sekolah lain nya.
__ADS_1
°°°
Xiexie