
°°°
Andra dan Sabil jelas panik saat tak mendapati mom dan dad di ruangan itu. Pikir mereka mom Rahmi tidak mungkin pergi jalan-jalan karena fisiknya terlalu lemah. Mereka berpencar mencari disetiap sudut ruangan, hasilnya nihil tak ada siapa-siapa disana.
"Kak coba kau telepon Daddy tanyakan padanya apa yang terjadi." Disela-sela kepanikannya Sabil masih bisa berpikir jernih.
Andra segera menelepon dad Ray tapi sampai berulangkali tak juga diangkat. Pikiran Andra kacau, ia terduduk lemas di sofa. Bayangan hal-hal buruk menghantam pikirannya.
"Kak, kau harus tenang." Sabil menggenggam tangan suaminya, memberi ketenangan.
Siapa sangka lelaki dingin dan kaku itu menitihkan air mata. Kini giliran Sabil yang memeluk sang suami. Dia harus lebih kuat saat ini untuk bersandar suaminya.
"Apa yang terjadi dengan Mommy."
"Tenang kak, semuanya pasti akan baik-baik saja. Biar aku telepon Daddy sekali lagi." Sambil memeluk Andra yang rapuh, tangan Sabil menyambungkan telepon pada dad Ray. Cukup lama sampai Sabil pun ikut khawatir tapi akhirnya dad Ray mengangkat panggilan telepon itu.
"Tersambung kak." Memberitahu Andra.
Lelaki itu langsung bangun dan mengambil alih ponsel yang dipegang Sabil.
"Hallo Dad, kalian dimana, kenapa tidak ada di ruangan." Tak sabar Andra ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Kau tidak boleh panik dan tetap tenang, saat ini daddy butuh bantuanmu."
"Ada apa sebenarnya Dad?"
Andra semakin gusar karena mendapat jawaban yang ambigu dari sang Daddy. Sabil pun bangun menenangkan suaminya lagi.
"Kau kemarilah, Daddy ada di depan ruang ICU."
"Apa yang terjadi Dad, kenapa dengan Mommy?"
"Nanti akan Dad jelaskan." Dad Ray memutuskan panggilan itu.
"Ayo kak," ajak Sabil yang tadi mendengar pembicaraan mereka. Sekarang ia harus membawa suaminya itu menyusul sang Daddy.
Mereka bergegas menuju ruangan ICU, bahkan setengah berlari. Bahkan tak sengaja menabrak orang-orang yang berlalu-lalang. Sabil yang berlari di belakang pun sibuk meminta maaf pada setiap orang yang Andra tabrak.
"Dad...!" Teriak Andra saat melihat Dad Ray tertunduk di kursi panjang.
__ADS_1
Dad Ray segera bangun melihat putra dan menantunya datang. Raut wajah sedihnya menandakan jika mom Rahmi sedang tidak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi Dad?"
"Mommy mu mendadak kritis nak."
Tubuh Andra seketika limbung, untung saja Sabil ada di sampingnya. Buru-buru Sabil membawa suaminya untuk duduk.
"Kenapa bisa mendadak seperti itu dad, bukankah kemarin baik-baik saja." Sabil yang bertanya karena suaminya sudah tidak bisa membendung tangisnya.
"Ada yang mengganti obat mom mu selama ini, hingga kondisinya tak juga membaik dan tadi saat Andra mengabari Daddy tentang orang yang sudah membuat kamu pergi, dad terlalu fokus mengurusnya dan menyelidiki orang itu. Tanpa sadar ada orang yang menyelinap masuk dan entah mengatakan apa pada Mommy mu sampai jantungnya melemah."
"Apa dad sudah mencari tau siapa orang itu." tanya Sabil lagi.
"Dad tidak bisa meninggalkan Mommy kalian. Maka dari itu dad minta agar Andra kuat dan tabah untuk mencari tau semuanya." Dad Ray menepuk bahu putranya.
Sabil pun menggenggam tangan sang suami lagi. Mereka saling menguatkan, hingga Andra mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. Memandang istri dan daddy nya bergantian, Andra seperti mempunyai kekuatan baru. Semangatnya kembali bangkit, saat melihat harapan besar didalam tatapan orang-orang yang ia sayangi.
"Baiklah Dad, aku akan mengurus semuanya dan aku tidak akan mengampuni siapapun yang membahayakan nyawa keluarga ku." Kilatan amarah nampak dalam sorot mata Andra.
"Aku akan menemani kamu kak," ujar Sabil.
"Tidak sayang, kau disini saja bersama Daddy. Kabari aku jika mom sudah sadar." Meyakinkan istrinya.
"Benar kata Andra nak, kau disini saja. Percaya pada suamimu, dia pasti menyelesaikan semuanya." Dad Ray ikut mencegah Sabil. Ia khawatir menantunya itu akan melihat sisi lain putranya saat sedang marah.
"Baiklah tapi kak Andra harus berjanji, tidak akan bertindak berlebihan jika sudah berhasil menemukan orang itu." Ya tentu Sabil mengkhawatirkan suaminya, ia tak mau Andra menjadi seorang pembunuh.
"Tenanglah sayang, kau jangan khawatir." Menyentuh pipi Sabil dan mengecup keningnya. Lalu ia pergi dari sana.
Sabil memandang punggung suaminya yang semakin menjauh. Ada perasaan berat saat membiarkan suaminya pergi sendiri. Namun, Sabil tau lebih baik ia disini menemani dad Ray, bersama Andra mungkin penuh dengan bahaya. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan selalu melindungi suaminya dari bahaya dan dari amarah yang menguasai hatinya.
"Tenanglah nak, Andra pasti bisa mengatasi semuanya." Dad Ray mengusap pucuk kepala menantunya.
,,,
Andra mulai bergerak mengecek cctv yang ada di ruangan rawat sang mommy. Perawat yang keluar masuk saat kejadian sangat pandai menyembunyikan wajahnya. Dia seperti sudah sangat paham posisi cctv yang ada di sana. Tapi Andra tak kehilangan akal, ia membuka satu rekaman lagi yang berada di tempat tersembunyi.
"Brengseek!!!"
__ADS_1
Menggebrak meja dengan keras, lagi-lagi ia kecolongan. Orang yang selama ini ada di samping sang mommy ternyata musuh dalam selimut.
"Aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang, lihat saja apa yang bisa aku lakukan."
Menelepon salah satu anak buahnya.
"Iya tuan."
"Jangan kau biarkan wanita itu kabur dan buat dia ketakutan dengan cara yang biasa kau lakukan, biarkan dia merasakan bagaimana rasanya ingin mati."
Setelah itu Andra memeriksa obat yang selama ini di berikan pada mommy nya. Bagaimana pihak rumah sakit ini tidak tau akan hal itu. Atau jangan-jangan ada orang lain dibalik ini semua.
Satu persatu dokter yang memeriksa mom nya selama ini diperiksa. Dibawah ancaman bahkan nyawa keluarga mereka dipertaruhkan tapi semuanya sama, tidak ada yang mengaku terlibat dengan suster Jane. Kini Andra beralih pada kamar istirahat wanita itu.
"Cepat kalian periksa apa ada hal yang mencurigakan." Perintahnya pada para pengawal.
Mereka mengobrak-abrik ruangan itu, satu persatu laci dan lemari diperiksa. Tidak butuh waktu lama mereka menemukan sesuatu dibalik lukisan yang ada ditembok.
"Tuan kami menemukan sesuatu," ujar salah satu dari mereka pada Andra.
Andra langsung bergerak disaksikan para dokter dan petinggi rumah sakit itu yang sedang ketar-ketir memikirkan nasibnya. Bisa saja tuan Adiguna itu meratakan bangunan rumah sakit itu dengan mudah, bila terbukti ada yang terlibat dalam aksi suster Jane.
"Cepat buka!!!"
Dengan cekatan pengawal yang sudah sangat ahli membuka brangkas itu mengotak-atik password, bahkan ada juga yang ahli menjinakkan bom. Terbukalah brangkas itu, Andra langsung melihat isi didalamnya.
Tidak ada uang ataupun emas didalamnya, hanya ada setumpuk dokumen. Semakin membuat curiga, apa isi dokumen itu.
°°°
Xiexie
#Kawalsampaiakhir
Ketahuan kan, sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, baunya pasti kecium juga.
Jangan lupa baca juga novel baruku ya guys.
Judulnya : Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
__ADS_1
Cari Nama penanya : Three ono
Xiexie