Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab56 Juga Memanggil Ibu


__ADS_3

°°°


Cup...


Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Sabil. Kecupan yang mampu mendidihkan aliran darahnya seketika. Ada getaran aneh yang mendera, bahkan hatinya ikut berdenyut.


Sabil membuka mata setelah Andra menjauhkan bibirnya. Pipinya semerah tomat segar.


Kenapa aku menutup mata, ahhh malu sekali.


Sabil langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hai... Lihatlah! Kita sudah berada di puncak." Ujar Andra yang tak mau membuat gadis itu merasa malu.


Sabil membuka kedua tangannya, melihat keluar jendela. Tinggi sekali ternyata, pikirnya.


"Buatlah permohonan." Andra memberi contoh.


"Pejamkan matamu dan mintalah apapun yang kau mau dalam hati." Ujarnya lagi seraya memperagakan caranya pada Sabil.


Sabil mengikutinya, menangkupkan kedua tangannya didepan lalu memejamkan mata dan mulai membuat permohonan.


"Aku berharap Mom Rahmi bisa segera sembuh dan berkumpul kembali dengan orang-orang yang di sayangi. Dan ayah selalu bahagia, sehat dan panjang umur. Dan aku juga berharap kak Andra bisa bahagia selalu..." Banyak sekali harapan yang Sabil ucapkan, sesekali ia tersenyum saat matanya masih terpejam.


Andra yang sudah selesai dengan permohonannya pun memandangi Sabil. Kira-kira apa yang gadis itu minta sampai selama itu. Sesekali ia pun terkekeh pelan, karena wajah Sabil saat ini begitu menggemaskan di matanya.

__ADS_1


Gadis itu membuka matanya setelah dirasa permohonannya sudah selesai di ucapkan.


"Kak Andra sudah membuat permohonan?" Tanyanya pada Andra.


"Sudah..." jawab Andra.


"Kenapa cepat sekali. Apa aku yang terlalu lama? Apa permohonan ku terlalu banyak." Sabil panik sendiri, ia khawatir malah permohonannya tidak jadi terwujud karena terlalu banyak.


"Bagaimana ini kak. Apa aku ulangi saja? Tapi ini sudah melewati puncak." Ehh... heboh sendiri Sabila.


Andra tersenyum, lagi-lagi tingkah gadis itu bisa membuatnya tersenyum.


"Tenanglah... Tidak perlu khawatir. Jika permohonan kita tentang kebaikan dan bukan untuk kepentingan diri sendiri kemungkinan besar akan terwujud." Ujar Andra menenangkan Sabil yang sudah terlihat gelisah.


Gadis itu menurut, ia tak lagi meributkan permohonannya yang terlalu banyak tadi.


Sabil kini sudah berbalut jaket tebal yang Andra bawa. Topinya sudah tak ada, berganti syal yang melilit di leher nya. Luar biasa memang, Andra menyiapkan nya dengan matang. Hangat, tentu saja apalagi tangannya juga tak lepas mendekap erat lengan Andra.


Mereka kini tinggal berjalan-jalan saja, menikmati keindahan malam di keramaian itu. Sabil belum mau beranjak dari tempat itu meski sudah tak lagi menjajal berbagai wahana. Ia mulai lagi mencoba beraneka jajanan malam yang berjejer di sana.


Sesekali bahkan Sabil memaksa Andra untuk mencicipi jajanan nya. Berani sekali Sabila. Ya hanya dia yang berani memaksa seorang tuan muda Adiguna. Canda tawa mengiringi perjalanan mereka. Sampai rasa kantuk yang mendera, barulah Sabil meminta pulang.


"Hoammm...Kak ayo pulang." Ajak Sabil yang sudah beberapa kali menguap itu.


Andra mengangguk, dan mereka pun berjalan meninggalkan hari yang indah itu.

__ADS_1


Bahkan saat mobil belum berjalan terlalu jauh saja mata Sabil sudah terpejam, terlelap di sandaran kursi. Andra pun mengulas senyum dan mengusap lembut pipi gadis yang sudah dalam mimpi indahnya.


Sampailah mereka di depan rumah Sabil, Rumah sederhana tepat di samping toko kue ayahnya. Ya pak Mul yang tak ingin jauh dari toko kuenya, akhirnya membeli rumah yang di samping toko. Siapa lagi jika bukan tangan Andra yang membantu, tapi tanpa mereka tau.


Andra tak tega membangunkan Sabil yang nampak kelelahan itu. Lalu ia putuskan turun dan menggendong Sabil masuk ke rumahnya.


Pak Mul yang sedang menunggu putrinya pulang pun bergegas keluar setelah mendengar suara mobil. Ia panik ketika melihat Sabil pulang dengan dibopong Andra. Ia pun segera menghampiri mereka.


"Kenapa dengan Sabil nak Andra?" Tanya pak Mul panik.


"Dia tertidur yah..." Jawab Andra pelan, tak ingin membangunkan gadis di gendongan nya.


Pak Mul pun mengangguk paham, dan segera menyuruh Andra membawa Sabil masuk. Ia juga menunjukan letak kamar Sabil.


"Sebelah sana kamarnya." Ujar pak Mul, menunjuk pintu kamar Sabil.


Andra mengangguk lalu kembali melangkahkan kakinya. Meletakkan perlahan dan penuh hati-hati, di singkirkan nya rambut yang menutupi wajahnya. Lalu mengecup keningnya pelan sebelum pergi. Ia juga sempat melihat kamar Sabil. Tak banyak pernak-pernik seperti kamar gadis lainnya, kamar Sabil tertata rapi dengan rak yang penuh buku.


Pandangan nya terhenti pada foto keluarga yang tampak bahagia, terlihat dari senyum yang terpancar. Diusapnya foto gadis kecil yang berada di tengah-tengah ayah dan ibunya.


Sabila, aku akan menjagamu seumur hidupku.


Andra pun memandang sosok wanita di samping Sabil kecil, itu ibunya yang telah tiada.


Ibu... aku juga akan memanggilmu ibu. Aku akan menjaga putrimu dengan baik, menyayangi dan mencintai nya sepenuh hati ku.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2