Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab37 Mampir ke Kantor


__ADS_3

°°°


Serasa dunia milik berdua...


Ungkapan itu memang benar adanya, bagi orang yang sedang jatuh cinta.


Sabil dan Andra sedang menikmati makan siang mereka. Di tengah keramaian, namun terasa yang lain hanya menyewa.


Perlakukan manis Andra pada Sabil sudah membuktikan sebesar apa cintanya pada sang gadis.


Sabil tak lagi gundah, Andra seperti sudah mengumumkan pada dunia jika hatinya sudah terpaut pada nya. Bukan hanya Andra yang menjadi pusat perhatian di sana, Sabil pun tak kalah tenar. Para lelaki menatap Sabil tanpa berkedip, wajah oriental, hidung kecil dan mancung, kulit putih bersih, di tambah lesung pipi nan manis. Senyum Sabil selalu menyejukkan siapa saja.


Itu juga yang membuat Andra tak segan menunjukan perlakuan manis nya. Agar para lelaki itu tidak lagi berani mengharapkan gadisnya.


Selama ini memang sudah banyak sekali media yang memberitakan kedekatan mereka. Banyak wanita yang iri dan penasaran siapa gadis beruntung yang menjadi pelabuhan sang tuan muda.


Namun mereka tidak tahu siapa gerangan si gadis beruntung itu. Karena Andra sangat menjaga kenyamanan Sabil. Ia tak mau media manapun mengusik Sabila. Seperti sekarang, meski banyak kamera handphone yang mengabadikan momen nya bersama Sabil. Tapi nanti akan ada orang yang dengan cepat membersihkan itu semua.


"Kau sudah kenyang atau masih mau makan? Aku akan memesankan lagi." Ujar Andra setelah mengusap lembut sisa makanan yang menempel di sudut bibir Sabila.


Bisa di bayangkan semerah apa pipi Sabil saat ini. "Tidak kak, aku sudah kenyang."


"Baiklah, ayo kita pulang. Atau kau ingin pergi kemana lagi?"


"Tidak, pulang saja."


Mereka berjalan keluar dari pusat perbelanjaan itu.

__ADS_1


Sampai di parkiran, sebuah panggilan masuk di handphone Andra berbunyi. Andra mengangkat panggilan dari sekertaris ayahnya ternyata.


"Ada apa?"


"Maaf tuan muda, seperti ada berkas penting yang harus di tanda tangani dan tidak bisa di tunda."


Jelas sang sekretaris sebelum tuan mudanya mengamuk. Pasalnya Andra sangat tidak suka bila waktu nya bersama Sabil terganggu.


"Baiklah, aku akan segera kesana."


Langsung Andra mematikan sambungan telepon nya. Ingin marah? Tapi Andra berusaha menahan nya, ia tau sekertaris ayahnya itu sangat paham bila bukan sesuatu yang penting, maka ia pasti tak akan mengganggu waktunya bersama Sabil.


Andra berbalik, ternyata Sabil sudah masuk kedalam mobil. Ia memang sedikit menjauh tadi saat mengangkat telepon. Lalu ia segera menyusul Sabil.


"Kita ke kantor dulu. Tidak masalah kan? Atau kau ingin pulang saja, aku akan mengantarmu dulu." Ujar Andra.


"Apa ada masalah serius kak?"


"Ke kantor kak Andra saja dulu, akan sangat lama jika harus mengantar ku dulu."


Sabil tersenyum manis. Ia mengerti seberapa penting nya kehadiran Andra di kantor ayahnya. Karena Dad Ray dan Mom Rahmi sedang tidak ada maka hanya Andra lah yang bisa mewakili Daddy nya.


Andra pun membalas senyuman Sabil dengan usapan lembut di kepalanya. Sabil memang selalu berpikir dewasa dan pengertian.


"Terimakasih."


,,,

__ADS_1


"Apa mom Rahmi sudah membaik kak?" Tanya Sabil, ia sangat mengkhawatirkannya mom Rahmi. Sudah lama ia tak saling bertegur sapa lewat telepon. Sabil pun sungkan, takut mengganggu proses penyembuhan penyakit mom Rahmi.


Ya Dad Ray sedang membawa istrinya berobat ke luar negeri. Mencoba pengobatan terbaik yang ada. Ia sungguh mencintai sang istri, ia akan melakukan apapun untuk kesembuhan istrinya.


Andra tersenyum, ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Selama belum menemukan pendonor yang pas, semua usaha Daddy nya akan sia-sia. Tapi ia tetap berharap Tuhan masih memperpanjang umur sang mommy.


Itulah sebabnya, Andra begitu sibuk. Selain berkuliah ia juga mengurus perusahaan sang Daddy, demi ratusan orang yang mengantungkan hidupnya pada perusahaan.


"Semua baik." Jawaban singkat, tapi bermakna lain.


Sabil tidak meneruskan pertanyaan nya, tak ingin membuat Andra bersedih lagi.


,,,


Ini bukan pertama kalinya Sabil menginjakkan kakinya di perusahaan Adiguna itu. Ia beberapa kali ke sana, tentu saja dengan Andra. Dan ia sudah tak asing pada tatapan mata para karyawan di sana.


"Siang tuan muda dan nona Sabil." Sapa pak Tantan, saat melihat tuan mudanya telah sampai. "Mari..." sambungnya lagi, mempersilahkan mereka masuk dahulu ke kantor Dad Ray, yang merupakan CEO Adiguna Group.


"Kamu tunggulah di sana, aku akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin." Ujar Andra, seraya menunjuk sofa yang ada di dalam.


Sabil mengangguk paham, kemudian mendudukkan dirinya di sofa.


"Ini berkasnya tuan, kerjasama ini sudah lama di nantikan oleh tuan Ray. Jadi saya tidak bisa menundanya." Ujar pak Tantan dan menyerahkan satu map yang berisi perjanjian tersebut.


"Aku mengerti pak, aku akan mempelajari dulu sebelum membubuhkan tanda tangan ku."


Pak Tantan membungkuk hormat, menyerahkan sepenuhnya pada sang tuan muda. Ia percaya darah kecerdasan sang tuan pasti mengalir dalam diri putra semata wayangnya.

__ADS_1


°°°


xiexie


__ADS_2