Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab52 Bukan Pencuri


__ADS_3

°°°


Setelah mengantar Sabil sampai rumah dengan selamat, Andra kembali ke kantor. Pekerjaan memang belum terlalu banyak saat ini, karena proyek-proyek skala besar belum mulai beroperasi. Namun, ia memanfaatkan waktu yang ada dengan terus mempelajari tentang perusahaan Adiguna.


"Pak Tantan, tolong suruh seseorang mengantarkan teh ke ruangan ku." Ujar Andra pada pak Tantan dalam sambungan telepon kantor.


"Baik tuan," jawab pak Tantan di ruangannya.


Tak lama pesanannya pun datang, seorang OB datang dengan sebuah nampan di tangannya.


Tok, tok, tok


"Masuk," ujar Andra saat mendengar pintu di ketuk.


"Permisi tuan, ini teh anda..." ujar si OB sopan.


"Hmm..." Jawab Andra tanpa menoleh.


Si OB yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan itu pun bingung, apalagi ini pertama kalinya ia masuk ruangan CEO menggantikan temannya yang sedang ke toilet, menyelesaikan urusan perutnya.


Andra mengangkat kepalanya melihat OB yang sedari tadi belum juga meletakkan tehnya.


"Apa kau orang baru?" Tanyanya.


"Iya tuan," Ucap si OB sopan.


"Pantas saja, letakkan itu di sini." Tunjuk Andra ke arah samping berkasnya yang bertumpuk.


"Baik tuan," OB itu meletakan teh nya sesuai instruksi tuan muda. "Kalau sudah tidak ada yang lain, saya permisi tuan." Ucapnya ramah, lalu segera pergi setelah mendapat anggukan kepala dari atasannya.


Langit senja mulai menyapa, cahaya matahari yang mulai meredup tampak indah.


Andra belum juga berniat meninggalkan ruang kerjanya. Ya besok weekend jadi ia tidak perlu ke kampus pagi-pagi, mungkin ia berniat sampai malam di sana.

__ADS_1


Tok, tok, tok


"Masuk," Ujarnya.


"Permisi tuan muda, ini berkas-berkas yang anda inginkan." ujar Pak Tantan.


"Baik letakan saja di situ. Oh iya pak, bisa tolong carikan aku supir? Aku mulai merasa lelah akhir-akhir ini." Ya meski bolak balik kantor kampus dan apartemen cukup menyita tenaga nya.


"Tentu, secepatnya saya akan mencarikannya." Seperti biasa pak Tantan memang tak perlu di ragukan lagi. Pantas saja Dad Ray amat mempercayai nya, selain ia pandai dan cepat dalam urusan kantor, ia pun bisa di andalkan dalam berbagai hal.


"Terimakasih pak. Pak Tantan bisa pulang lebih dulu, aku akan menyelesaikan semuanya dulu."


"Baik tuan muda, saya permisi."


Pak Tantan pun menghilang di balik pintu.


Pukul setengah sebelas malam Andra belum juga meninggalkan kantornya. Setiap kali fokus pada sesuatu ia pasti akan lupa waktu. Sampai ia menyelesaikan pekerjaan terakhir nya, barulah ia melihat ke arah jarum jam.


"Sudah cukup malam rupanya," gumamnya.


Dengan lampu yang menyala sebagian Andra kini sudah berada di lantai dasar.


Ting


Andra berjalan keluar. Namun ia berhenti kemudian, telinga nya seperti mendengar sesuatu dari arah belakang. Siapa, pikirnya.


Apa ada perampok masuk perusahaan nya, tapi penjagaan di luar sudah sangat ketat bahkan seekor kucing saja pasti susah jika ingin masuk.


Andra terus berjalan menuju sumber suara, tak ada rasa takut sama sekali. Bagaimana jika itu gerombolan perampok, apa ia sanggup menghadapinya sendiri. Tapi anehnya, semakin di dekati suaranya seperti orang yang sedang memasak. Rupanya suara itu berasal dari pantry para karyawan. Andra melangkah perlahan, tak ingin menimbulkan suara yang akan membuat musuh kabur.


Terlihat ada sedikit cahaya di sana tapi bukan dari cahaya lampu, seperti senter yang di nyalakan mengarah pada seseorang yang berdiri di dekat kompor. Seperti sedang mengaduk sesuatu, yang baunya amat menyengat di hidung Andra.


Sepertinya itu bukan pencuri atau pun perampok, tapi untuk apa malam-malam begini dia ada di sana. Batin Andra, ia masih mengamati dari agak jauh.

__ADS_1


Klik...


Lampu menyala seketika.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Andra lantang.


"Ma...ma...af..tu...tuan muda," ternyata itu adalah karyawan perusahaan Adiguna.


Orang itu langsung bersimpuh memohon ampun. "To..long jangan pecat saya tuan, saya mohon..." Di masih memohon bersujud dan terus meminta maaf.


"Kenapa kau ada disini malam-malam. Seharusnya karyawan sudah pulang, tidak berkeliaran sembarangan atau kau akan dianggap penyusup."


"Maaf tuan saya tidak akan melakukannya lagi..."


Andra masih berdiri menatap bawahannya. Sepertinya dia tidak sedang melakukan kejahatan. Batin nya.


"Sudahlah, cepat pergi sebelum ada orang lain yang melihat!" Ujar Andra. Ia juga sudah lelah dan ingin segera pulang ke apartemennya.


"Maaf tuan, bolehkah malam ini saya menginap disini. Saya tidak akan kemana-mana, hanya akan disini saja." Pria berseragam OB itu masih enggan mengangkat kepalanya. Ia takut membuat tuan mudanya marah. Ya ia ingat suara itu, atasan yang tadi diantarkan teh olehnya.


Andra yang sudah mau beranjak pun berbalik kembali. "Siapa namamu?" Tanyanya, kali ini dengan nada yang serius.


"To...ni tuan."


"Angkat kepalamu!" Perintah Andra.


Pria itu mengangkat kepalanya.


"Kau, OB yang tadi sore. Masih baru beberapa hari disini dan sudah membuat masalah!!"


"Maaf tuan muda, saya mohon jangan pecat saya." Kali ini pria itu menangis. Baru beberapa hari ia mendapatkan pekerjaan, sudah terancam dipecat.


°°°

__ADS_1


Xiexie


__ADS_2