
°°°
Andra masih memandangi bungkusan yang tergeletak di kursi penumpang di sampingnya.
Tadi akhirnya ia membeli beberapa kue kesukaan nya.
Dia masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Memang dulu ia tak lagi memikirkan urusan kecelakaan itu. Ya dulu Andra masih sekitar 7 tahun, masih terlalu kecil untuk memikirkan hal rumit itu. Lagi pula setelah kejadian itu terjadi, ia berubah menjadi semakin tertutup jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya.
Sekarang Andra sungguh tidak menyangka, ia akan kembali berhubungan dengan hal hal yang bersangkutan dengan kecelakaan itu.
Ia jadi penasaran bagaimana Daddy nya dulu menyelesaikan urusan itu. Apakah mereka sudah mendapat balasan yang sepantasnya. Atau malah Daddy nya tak melakukan apa-apa?.
"Aku harus bertanya pada Daddy," Pikir Andra yang sekarang ingin cepat sampai rumahnya.
Andra sampai dirumahnya, tak lupa ia membawa masuk kue yang tadi di belinya.
"Mom..." panggil Andra.
Ia mencari keberadaan mommy nya, tak menemukan sang mommy di depan dan ruang keluarga lalu ia mencarinya ke belakang.
Benar saja Mom Rahmi terlihat sedang berkutat di dapur bersama para pelayan di belakang nya.
"Mom... sedang membuat apa??"
tanya Andra sambil berjalan mendekat.
"Kau sudah pulang? ini Mom sedang membuat makanan kesukaan mu," jawabnya sambil tangan yang terus mengaduk masakan.
"Keliatannya enak," Andra mendekat mencium aroma daging yang berbumbu pekat itu.
"Kamu mandi dulu sana, nanti Mom panggil jika sudah siap,"
"Baiklah,"
"Bi Nah ini nanti tolong disimpan, dan yang ini untuk kalian bagikan pada yang lain," ujar Andra memberikan bungkusan yang di bawanya pada salah satu pelayan.
Tentu bi Nah menerima nya dengan senang hati, "Baik tuan muda," jawab bi Nah sopan.
"Apa itu nak?" tanya Mom Rahmi yang penasaran.
"Itu tadi aku membeli beberapa kue di jalan Mom... di mana Daddy??"
"Daddy mu di ruang kerja nya."
"Ok Mom, Andra naik dulu," ucapnya sambil mengecup pipi Mommy nya.
__ADS_1
"Ishh anak ini, Mom ini bau dari tadi di dapur."
"Hahaha... Mom wangi kok," Andra tertawa sambil berjalan menuju tangga.
,,,
Tok, tok tok
Andra mengetuk pintu ruang kerja sang Daddy,
" Masuk,"
Setelah mendengar sahutan dari dalam ia pun segera masuk ke dalam,
"Dad,"
"Ada apa An?" tanya Dad Ray.
"Ada yang mau Andra tanyakan,"
Dad Ray yang tadi sibuk dengan tumpukan kertas di depannya pun akhirnya mengangkat kepalanya.
"Ada apa? apa ada masalah?"
"Tidak Dad, ini soal kecelakaan 10tahun yang lalu,"
"Putri dari wanita yang menyelamatkan ku ternyata satu sekolah denganku. Dan tadi aku tak sengaja mampir di toko kue ayahnya, toko kue favoritku dulu."
"Dad maaf karena aku terlalu sibuk memikirkan perasaan ku sendiri waktu itu, sampai lupa jika ada korban yang lebih menderita di banding dengan ku. Aku bahkan belum berterima kasih dan meminta maaf pada mereka." jelas Andra dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
Ia pikir, bagaimana nasib gadis kecil itu dulu saat di tinggal sang ibunda. Bagaimana ia menjalani hari-harinya, dia sangat ingat dulu, ia melihat bagaimana kasih sayang antara ibu dan anak itu. Bahkan Andra sempat iri pada waktu itu, Lalu sekarang ia bahkan tumbuh dewasa hanya dengan seorang ayah.
"Jadi kau sudah tau?" ujar Dad Ray.
"Maksud Daddy?? apa Daddy tau selama ini?"
"Yaa Daddy tau, karena Daddy selalu menyuruh orang-orang Daddy di sekitar mereka. Memastikan mereka selalu aman," Ujar Dad Ray lagi, membuat Andra sedikit terkejut sekaligus lega. Karena ternyata Daddy sangat bertanggung jawab.
"Lalu apa Daddy tak memberi mereka kompensasi?? maksudku itu..."
"Mereka menolak," potong Daddy, "Dulu Dad menawarkan 10% saham milik Daddy. Tapi mereka tetap menolak."
"Kenapa?" tanya Andra heran.
"Karena mereka terlalu baik hati, Suami wanita itu berpikir Nyawa seseorang bukanlah hal yang bisa di tukar dengan uang/harta, itu kecelakaan dan ia tak menyesalkan pilihan isterinya, karena ia pergi demi menyelamatkan orang lain."
"Betulkah seperti itu?? Kenapa ada orang sebijak itu." Andra berusaha mencerna apa yang Daddy nya katakan.
__ADS_1
"Namun saham itu benar adanya, meski mereka menolak, Daddy akan tetap mengalihkan 10% saham milik Daddy untuk mereka. Tepatnya untuk putri nya."
"Iya Andra juga setuju dengan Daddy, Lalu apa ada yang lain lagi?"
Dad Ray diam sejenak, tampak Andra setia menunggu jawaban yang akan Daddy nya katakan.
"Mereka menolak bentuk apapun pemberian Daddy, pada akhirnya Dad hanya bisa membantu mereka secara diam-diam. Dan Daddy juga selalu menyuruh anak buah Dad di sekitar mereka." Jelas Dad Ray.
Andra menganggukkan kepalanya mengerti, " Lalu kapan Daddy akan memberi tahu mereka mengenai kepemilikan saham itu?" tanya Andra kemudian.
"Mencari waktu yang tepat, mungkin menunggu putrinya dewasa." jawab Daddy.
"Apa kau mengenal baik putrinya yang bernama Sabila?" tanya Daddy memastikan karena tiba-tiba anaknya menanyakan hal itu.
"Tidak, kami hanya satu sekolah dan dia adik kelasku. Lalu belakangan ini kami lumayan sering tak sengaja bertemu."
" Ohhh... cuma itu?" Daddy Ray sedikit merasa curiga.
" Ya apa lagi," jawab Andra tenang, jangan sampai Daddy tau aku menguntit putri wanita itu. ucap Andra dalam hati.
"Baiklah, apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak, kalau begitu aku ke kamarku dulu." Andra bangun dari duduknya, berjalan keluar dari ruangan itu.
,,,
Diluar luar ruangan ternyata Mom Rahmi sudah sejak tadi berdiri di depan pintu. Niatan mau memanggil putra dan suaminya, ia malah mendengar percakapan mereka.
Perasaan bersalah seketika menghantam tubuhnya, air mata tak terasa sudah membasahi pipinya.
Setiap kali teringat kejadian waktu itu, diri nya seperti di hujam ribuan belati, bayangan betapa ia tega menghilangkan nyawa seorang wanita. Yang ternyata meninggalkan seorang putri kecil dan suami yang begitu mencintai nya. Dulu ia sangat berharap mereka meminta pertanggungjawaban, bukannya memaafkan dengan gampang. Ia akan lebih lega jika mereka menuntut apapun padanya.
"Mom..!" Andra kaget melihat Mom nya ada di depan pintu,
" Mom kenapa menangis??" Andra segera membawa mommy nya dalam pelukannya. Ia tau sekarang, mungkin sang mommy mendengar pembicaraan nya dengan ayahnya barusan.
"Maafkan Mommy.." ucapnya sambil terisak,
" Mom tak perlu lagi memikirkan nya, Daddy telah menyelesaikan semuanya. Bahkan jika Daddy tidak, aku yang akan melakukan nya." Andra berusaha menenangkan sang Mommy,
Mommy nya begitu mudah mengeluarkan air mata nya sekarang, ia harus lebih berhati-hati jika mau membicarakan masa lalu.
Sekarang semuanya sudah berada di meja makan, makanan pun telah di sajikan dengan begitu rapi.
°°°
xiexie
__ADS_1