
°°°
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Andra tengah bersiap menggunakan setelan kemeja putih dan jas berwarna navy blue tidak lupa memakai dasi. Gagah, tampan dan berkarisma, benar benar memancarkan jiwa kepemimpinan nya. Ia melihat sekali lagi di cermin yang ada di ruang baju gantinya. Dirasa sudah cukup sempurna lalu ia segera menyambar kunci mobilnya.
Hari ini adalah hari dimana Andra akan di angkat menjadi CEO Adiguna Grup. Mendadak memang, bahkan tidak ada acara ataupun pesta. Selain sang Mommy yang masih sakit, ia juga memang tak Ingin ada pesta sebelum ia membuktikan pada para pemegang saham bahwa ia mampu dan akan membawa perusahaan lebih maju dan berkembang.
Sesekali Andra melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Waktu nya masih banyak, pikir nya.
Ia memang tidak mau terlambat dan membuat kesan yang buruk di hadapan para pemegang saham. Meski keputusan mutlak ada di tangan Daddy Ray, tapi demi kelangsungan perusahaan maka peran mereka juga penting.
Akhirnya Andra sampai di perusahaan Adiguna. Berjalan dengan gagahnya melewati para karyawan yang terpesona melihat nya. Ia menuju lantai di mana ruangan sang Daddy berada. Lantai teratas dari gedung itu.
Ting
Andra melenggang menuju ruangan Daddy nya. Tak ada pak Tantan di mejanya. Namun, seperti ada suara orang bercakap-cakap di dalam.
Kemudian Andra mengetuk pintu di depannya.
Tok, tok, tok
Klek.
"Dad, pak Tantan," sapa Andra di balas pak Tantan dengan membungkukkan badannya.
"Saya permisi dulu Tuan, tuan muda.."
__ADS_1
Pak Tantan membungkuk hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.
"Kau sudah siap?" Tanya Dad Ray melihat putranya.
"Siap Dad."
"Baguslah, kau tenang saja. Meskipun banyak anggota dewan yang tak setuju, tapi Daddy yakin kamu mampu membuktikan pada mereka semua. Tidak mudah memang di usiamu yang sekarang harus memimpin perusahaan, tapi semangat dan kinerja kaum muda harus lebih unggul." Dad Ray nampak tidak tega membiarkan putranya menanggung beban yang berat di usia yang masih sangat muda. Mau bagaimana lagi, harapan satu-satunya hanya Andra.
"Daddy tidak usah khawatir dan jangan terlalu memikirkannya. Ini sudah tugasku, aku tidak akan membiarkan kerajaan bisnis yang sudah susah payah Daddy bangun itu hancur." Dengan tegas Andra mengatakan nya. Tak ada keraguan sedikitpun, ia bertekad akan membersihkan siapa saja yang sudah bermain-main di belakang Daddy nya.
"Daddy percaya padamu nak." Sebuah tepukan mendarat di bahu Andra. Keyakinan, kekuatan dan kepercayaan sepenuhnya Dad Ray berikan kepada putranya.
Tok, tok, tok
Terdengar ketukan dari arah pintu.
"Permisi Tuan, semuanya sudah siap di ruang meeting." Ujar pak Tantan memberi tahu.
"Baik Dad."
Andra berjalan di belakang sang Daddy, menuju ruang meeting yang berada di bawah lantai kantor Dad Ray tadi.
Mereka sampai di ruang meeting, dan pak Tantan membukakan pintu untuk tuannya.
Nampak para pemegang saham yang tadi sedang berbisik-bisik langsung diam ketika Dad Ray dan Andra sampai. Tatapan mereka seolah meremehkan seorang Andra. Tatapan ragu yang mengintimidasi, tapi tak membuat Andra goyah.
Daddy Ray duduk di kursi paling ujung, sedang Andra di dekatnya dan pak Tantan yang setia berdiri di belakang Tuan nya.
__ADS_1
"Baiklah saya akan langsung menyampaikan, mulai hari ini saya secara resmi menyerahkan jabatan saya pada putra satu-satunya keluarga Adiguna, yang merupakan pewaris tunggal kerajaan bisnis Adiguna grup yaitu Andra Alfatih Adiguna."
"Mulai sekarang apa saja yang menyangkut perusahaan akan diurus olehnya, dan saya tau banyak yang meragukan kemampuannya. Saya tidak akan memuji atau membanggakannya, jika memang dalam waktu satu tahun dia tidak mampu membuat perusahaan menjadi lebih baik maka saya akan menggulingkan jabatannya."
Daddy Ray sedikit menyela ucapannya, ia ingin melihat reaksi para pemegang saham.
"Jadi saya harap, para pemegang saham yang ada di sini mau memberikan Andra kesempatan. Jika memang dia berbuat salah dan merugikan perusahaan, saya tidak akan segan menegurnya dan kalian semua juga silahkan memberikan teguran." Lanjutnya lagi.
"Tapi ini perusahaan besar, bukan tempat untuk ajang uji coba." Ujar salah satu dari pemegang saham.
"Ya itu benar."
"Saya juga setuju."
"Benar sekali."
Akhirnya suasana menjadi riuh terjadi, mereka saling menyahut mengeluarkan suara.
Terlihat Dad Ray menarik nafasnya, aura kepemimpinan nya benar benar membuat sesak yang melihat. Orang-orang yang tadi ribut seketika menciut nyalinya.
Brakkkk....
Pukulan tangan Daddy Ray pada meja meeting mengalihkan perhatian di ruangan itu. Beliau tidak masalah jika orang yang di ragukan itu memang bukan orang yang kompeten. Tapi Andra, bahkan dia kemarin saat sang Daddy tidak ada dan di beri kuasa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Apa mata para anggota pemegang saham sudah tertutup oleh harta dan kekuasaan!
"Siapa yang meragukan keputusan ku, silahkan tinggalkan perusahaan ini." Geram dengan semuanya, selama ini Dad Ray menutup mata pada orang-orang yang beriman curang di belakangnya. Ya sebenarnya ia tau, tapi baginya masih mempertimbangkan hubungan keluarga. Jika bukan karena menghormati nenek Andra yang masih ada, mungkin ia sudah mendepak orang-orang yang tidak punya hati nurani seperti itu. Dengan teganya memakan uang orang yang tak mampu.
__ADS_1
°°°
Xiexie