Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab68 Ayo Kita Menikah


__ADS_3

°°°


Andra sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya pada Sabil. Bahkan saat di lantai bawah tangannya merangkul pinggang ramping Sabil dengan mesra. Perlakuannya itu seperti sedang menunjukkan apa posisi gadis yang berada di sampingnya.


Pemandangan itu sontak membuat para karyawan perusahaan Adiguna mengerti. Mereka telah salah karena sempat memandang Sabil dengan tatapan merendah.


Tak terkecuali dua resepsionis yang melihat itu, perasaan mereka ketar ketir bercampur aduk. Baru saja lega karena tak di pecat, kini mereka kembali dilanda kecemasan. Mereka salah karena berurusan dengan wanitanya CEO. Entah bagaimana nasib mereka. Kalau hanya di pecat mereka masih bisa mencari pekerjaan di tempat lain tapi bagaimana jika di blacklist maka pupus sudah harapan mereka.


Sepanjang perjalanan pulang dari perusahaan Adiguna, Sabil hanya diam ia masih bingung dengan apa yang baru saja ia alami. Bukan karena kesal ataupun marah tapi ia bimbang. Bagaimana kini ia harus bersikap di depan Andra, semuanya sudah tidak lagi sama.


Sedangkan Andra justru merasa khawatir karena dari tadi Sabil tak bersuara, membuatnya berpikir jika gadis itu sedang marah padanya. Apa tindakannya tadi sudah keterlaluan tapi gadis itupun tadi tak menolaknya.


Sampai di depan rumah Sabil mereka masih diam dengan pikirannya masing-masing. Sabil pun segera melepaskan seat belt. Melihat kesamping, pria itu diam saja seperti sedang melamun.


"Kak, aku turun," ujar Sabil. Lalu ia segera membuka pintu mobil hendak keluar.


"Tunggu..." ujar Andra dengan mencekal lengan Sabil.


"Kenapa kak?" Sabil menatap mata Andra.


"Apa kau marah karena tadi aku sudah men..."


Sabil menggeleng sebelum Andra melanjutkan ucapannya, ia malu kenapa lelaki itu harus mengungkitnya.


"Tapi kenapa kau diam saja dalam perjalanan tadi?"


"A..aku bingung harus bagaimana..." ujar Sabil lirih.


"Apa kau menyukainya tadi?" tanya Andra tanpa basa-basi.


Sabil terdiam, ia harus menjawab apa. Dia tak terbiasa berbicara hal yang berbau mesum.


"Kenapa kau diam, kau tidak suka? tanya Andra lagi. Sabil menggeleng berarti ia bukan tidak suka.


"Jadi kau suka?"


Dengan malu-malu Sabil menganggukkan kepalanya.


"Yesss..." Andra bersorak gembira.

__ADS_1


"Aku akan turun sekarang kak." Sabil ingin segera pergi, ia sangat malu karena mengakui kalau dirinya menyukai ciuumaann itu.


"Ayo kita menikah..." Ujar Andra tanpa ragu.


Sabil terkejut dengan yang didengarnya barusan. Apa kak Andra sedang melamarku?


"Sabila..."


"Ehhh... ya kak."


"Kau mau menikah dengan ku?" Tanya Andra.


"Ak..aku..." Ucapan Sabil terhenti.


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Ini tidak layak disebut lamaran. Aku akan menjadikan mu wanita yang amat sangat bahagia saat menerima lamaran ku nanti. Aku akan menyiapkan semua." Andra meraih tangan Sabil dan menciumnya bertubi-tubi. Ia sangat bahagia saat ini.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir mungil Sabila.


"Masuklah... hmmm," ujar Andra, dengan berat hati ia melepaskan genggaman tangannya.


Gadis itu bangun dan mengambil foto ibunya yang ada di samping tempat tidur.


"Ibu... Sabil rindu, aku ingin bercerita." Ujar Sabil menatap foto ibunda tercinta.


Sabil menghela nafasnya, setelah puas mencurahkan isi hatinya pada sebuah foto. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang lelah. Ia menyiapkan air hangat di bathtub dan memberikan sedikit aromaterapi. Cukup lama ia berendam, merilekskan tubuh dan pikirannya dengan aroma yang ia pakai. Sampai ketukan di pintu kamar membuat ia menyudahi kegiatannya.


Tok, tok, tok


"Nak, keluarlah untuk makan malam." Rupanya pak Mul yang berniat memanggil anak gadisnya untuk makan malam bersama.


"Iya ayah, sebentar lagi aku keluar." Sabil menjawab dengan sedikit berteriak agar sang ayah mendengar suaranya. Lalu ia memakai baju santai nya dan segera keluar.


"Nak, duduklah..." ujar pak Mul yang sudah menunggu di meja makan.


Sabil tersenyum dan mendudukan tubuhnya di kursi di dekat sang ayah. Mereka menikmati makan malam nya dengan tenang, Sabil pun dengan telatene meladeni ayahnya.


"Bagaimana tadi di kantor nak Andra? Apa kau bertemu dengannya?" Tanya pak Mul tiba-tiba.

__ADS_1


Hampir saja Sabil tersedak bila mengingat kejadian di kantor. Lalu ia menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan sang ayah.


"Ketemu yah. Tadi juga kak Andra yang mengantarku pulang," jawab Sabil.


"Kenapa kau tidak mengajaknya masuk nak."


"Tadi kak Andra buru-buru. Mendadak ada panggilan penting di ponsel nya, jadi dia langsung pergi." Ujar Sabil tapi ia berbohong, yang terjadi tadi Andra sangat ingin masuk untuk berbicara pada ayahnya. Tapi Sabil menolak, ia beralasan akan memberitahu ayahnya terlebih dahulu.


"Ohh ya sudah, dia pasti sibuk sekali karena harus mengurus perusahaan sebesar itu sendiri."


Huuufff


Sabil menghela nafasnya lega, pak Mul tak bertanya lebih jauh padanya.


Selesai menyantap makan malam, seperti biasa tugas Sabil ialah mencuci piring. Sebenarnya ia sudah mencoba menawarkan pada ayahnya, kalau ia yang akan memasak tapi pak Mul menolak. Bagi pak Mul, bisa membuatkan makanan untuk putrinya adalah sesuatu yang bisa membuatnya senang.


Sabil seperti sudah mahir sekali dalam mencuci piring. Ahhh... akhirnya selesai.


Lalu ia mengelap tangannya yang basah.


Ia keluar dari dapur kemudian mencari keberadaan ayahnya.


"Ayahh..." panggil Sabil sedikit berteriak agar sang ayah mendengar nya..


Dilihatnya sang ayah sedang duduk termenung di depan rumah. Sabil lalu masuk kedalam kamarnya untuk mengambil selimut. Ia keluar dengan membawa selimut itu di tangannya lalu memakainya pada sang ayah yang hanya menggunakan baju berlenang pendek, padahal diluar sedang dingin-dinginnya.


Pak Mul yang kaget pun mendongak, lalu tersenyum pada putrinya.


"Ayah sedang apa, diluar sngat dingin," ujar Sabil yang kini telah duduk di sebelah ayahnya di bangku taman.


"Ayah sedang melihat bulan itu nak," pak Mul menunjuk ke atas, terlihat bulan yang amat terang di langit malam itu.


Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Sinar bulan di langit mengingatkan mereka pada wanita yang amat penting dalam kehidupan ini. Seorang istri yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun dan seorang ibu yang begitu baik.


°°°


Xiexie


Terimakasih atas dukungan kalian.

__ADS_1


__ADS_2