Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab46 Pujian


__ADS_3

°°°


"Biar bibi saja yang memanggil nyonya dan yang lain nona," ujar Bi Nah.


"Baiklah terimakasih bi." Sabil kembali menyiapkan makanan dan peralatan lainnya di meja makan.


"Apa kau yang memasak ini semua nak?" Tanya mom Rahmi saat sudah sampai di bawah, dengan di bantu bi Nah.


"Iya Mom, semoga mom dan yang lain menyukai nya."


"Tentu nak, bahkan harumnya saja sudah membuat mom lapar." Puji mom Rahmi.


"Bi Nah bisa tolong cepat panggilkan suamiku dan putraku. Aku sudah tidak sabar memakan ini semua." Lanjutnya lagi.


"Baik Nyonya." Bi Nah tersenyum melihat wajah nyonya nya kembali bahagia, seperti mendapatkan semangat baru di hidupnya.


Lalu ia segera naik ke atas memanggil tuan dan tuan mudanya.


Di dalam kamar.


Wajah serius tampak muka kedua lelaki di dalam sebuah ruangan. Satu lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya dan satu lagi tentu lelaki tampan yang digandrungi para gadis jaman sekarang.


"Sepertinya Dad akan mempercepat penyerahan jabatan CEO padamu, agar Daddy bisa fokus pada Mommy mu. Daddy akan membantu mengelola beberapa cabang yang ada di luar negeri."


"Dad tidak tau sampai kapan mommy mu bisa bertahan, belum ada jantung yang cocok untuknya. Sekarang yang ingin aku lakukan adalah selalu membuat istriku tersenyum. Dad tidak tau apa bisa Dad bertahan jika tiba-tiba Mom mu pergi meninggalkan kita."


Baru kali ini Andra melihat sang Daddy lemah dan tak berdaya seperti itu. Jika biasanya hanya ada ketegasan dalam nada bicaranya, sekarang hanya ada kepasrahan di dalam ucapannya. Tidak banyak yang Andra bisa lakukan, saat ini hanya tuhan sang pemilik dunia yang mampu mengubah segalanya.


"Daddy tidak usah khawatir ,dan Dad bisa berbagi apapun padaku. Aku putramu, jadi jangan menanggung semuanya sendiri." Jika menyangkut sang istri memang Dad Ray selalu turun tangan sendiri.


"Daddy tau nak, terimakasih. Dad bangga padamu, selama tak ada aku disini kau sudah menjalankan tugasmu dengan benar. Jika nanti ada yang tidak kau mengerti kau harus banyak bicara dengan pak Tantan," Ujar Dad Ray lagi.


"Iya Dad."

__ADS_1


"Mungkin kali ini kami akan lama di sini, karena mommy mu selalu berkata merindukan gadis itu. Dan dad akan segera mempersiapkan penyerahan jabatan untukmu. Kau harus bersiap siap."


"Baik Dad."


Berat mungkin, tapi harus Andra terima hanya ia satu satunya harapan keluarga.


Tok, tok, tok


"Permisi Tuan, tuan muda. Makan malam sudah siap, nyonya sudah menunggu di bawah." Bi Nah berbicara di depan pintu.


"Ayo kita turun," ajak Dad Ray. Dan Andra mengangguk lalu berdiri mengikuti Daddy nya.


Klek..


Bi Nah menundukkan kepalanya melihat sang majikan membuka pintu. Menyingkir dan memberi jalan terlebih dahulu untuk atasannya.


"Sayang, ayo cepat aku sudah lapar," ujar mom Rahmi ketika melihat suami dan putranya sudah sampai di bawah.


"Iya, maaf karena membuat mu menunggu...Cup" Dad Ray memberi kecupan di dahi istri nya.


"Iya iya mari makan. Lihatlah Dad ini semua Sabil yang memasak nya." ujar Mom Rahmi, membuat Sabil merasa malu, ia khawatir masakannya tidak sesuai harapan nya.


"Benarkah? Aku ingin mencobanya."


Dad Ray memasukkan makanan sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Hening...


Mereka menunggu apa yang akan di katakan Dad Ray. Bahkan Sabil sampai menahan nafasnya karena gugup.


"Ini enak... ya ini enak," ujar Dad Ray sambil terus mengunyah.


Sabil sudah bernafas lega sekarang.


Sedangkan Andra tersenyum melihat kegugupan Sabil, membuat wajah gadis itu terlihat lucu.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam yang Sabil buat sampai habis tak tersisa. Gadis itu senang masakan nya bisa di terima oleh penghuni rumah itu.


Malam pun semakin larut, Andra segera pamit mengantar Sabila pulang.


"Terimakasih sayang, sudah menemani Mommy malam ini dan terimakasih masakannya yang enak tadi."


"Mommy tidak perlu sungkan, kapanpun mom mau aku akan memasak untukmu," ujar Sabil.


"Ayo..." ajak Andra.


Sabil mengangguk lalu berpamitan sekali lagi.


"Aku pulang dulu mom, mom harus berjanji akan kembali sehat ok..." Sabil menunjukkan jari kelingkingnya dan menautkan pada jari kelingking mom Rahmi.


Mom tersenyum, "Baiklah gadis cantik..." dan tangan satunya mengusap kepalanya Sabil.


"Hati-hati di jalan, pastikan Sabila sampai rumah dengan selamat." Ujar mom Rahmi pada Andra.


"Iya mom. Kami pergi dulu."


Mereka pun meninggalkan rumah itu. Andra akan mengantarkan Sabila lalu kembali ke apartemen nya.


"Masakan mu sungguh enak tadi," puji Andra.


"Kak... berhentilah memujiku. Kau sudah mengatakannya berulang kali, katakan yang lain agar aku tau kekurangan ku dan bisa memperbaiki masakan ku." Bukan Sabil tidak suka di puji, tapi jika terlalu banyak pujian ia takut merasa tinggi hati.


"Hahaha... kau tidak punya kekurangan, bahkan sudah banyak kelebihan. Jika di tambah lagi pasti akan banyak yang mengantri menjadi pacarmu."


"Kak... bukan aku tapi masakan ku," Sabil geram.


"Hahahaha... maaf cantik, tapi sungguh masakan mu sudah sangat enak." Andra mengusap kepala Sabil.


Sabil hanya melirik malas.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2