
°°°
Enam bulan berlalu...
Sabila dan Rani yang saat ini sudah kelas tiga sekolah menengah atas pun semakin sibuk pada pelajaran nya.
Rani yang merasa kesepian, setelah di tinggal Dion yang kini sudah memasuki jenjang perkuliahan pun mencoba mencari kesibukan lain. Ia mulai tertarik pada kegiatan ekstra kurikuler yang baru di sekolah nya.
Sekarang terdapat grup teater di sekolah, mereka kerap menampilkan drama pendek yang cukup menghibur bila ada acara di sekolah.
Awalnya Rani hanya iseng, ia pun hanya di balik layar saja. Membantu menyiapkan keperluan para pemain yang pentas dalam drama, dan sesekali membantu bagian skenario dan sutradara bila sedang berlatih.
Namun lama kelamaan ia tertarik pada dunia akting, melihat bagaimana orang bisa mengekspresikan berbagai macam emosi. Itu sungguh menarik, ia seperti mendapatkan jati dirinya di sana. Dion pun awalnya tidak setuju, ia lebih mendukung bila Rani fokus pada pelajaran untuk menghadapi ujian akhir nanti.
Tapi Rani berkilah, ia berjanji tak akan mengganggu kegiatan belajar nya.
"Kak aku janji akan giat belajar, aku hanya akan ikut teater jika senggang." Ujar Rani saat sedang meyakinkan Dion.
Dion mau tak mau mengijinkan, ia berjanji akan mendukung apapun yang Rani lakukan. Asal Rani selalu jujur padanya saat akan mengambil keputusan apapun. Dari pada ia menemukan Rani melakukan nya sembunyi-sembunyi.
,,,
Sedangkan Sabil, tentu ia semakin giat belajar. Ia selalu ingin mempertahankan beasiswa nya. Bahkan ia bertekad, masuk universitas impiannya menggunakan jalur beasiswa.
Bukan ayahnya tidak mampu, bisnis kue toko "Arum bakery" yang kian melesat. Pastilah ayahnya mampu membiayai pendidikan Sabil.
Namun sekali lagi yang perlu di tegaskan. Pemikiran Sabila itu sederhana, tak mau merepotkan, tak mau menyusahkan. Bila ia mampu dan bisa mendapatkan beasiswa kenapa ia harus menyianyiakan kesempatan yang bagus itu.
Hari hari nya pun banyak di habiskan di perpustakaan. Tak hanya di sekolah, saat libur pun ia gunakan sebagian waktu nya untuk ke toko buku. Dan sebagian waktu nya lagi membatu ayahnya di toko seperti biasa.
__ADS_1
"Ayah Sabil pergi dulu." Pamitnya pada sang ayah.
"Baiklah berhati-hati lah nak."
"Iya ayah," seraya mencium punggung tangan ayahnya.
Sabil keluar dari toko yang amat ramai itu, karena sekarang adalah week end. Dan jangan khawatir, sekarang ayah Sabil sudah menambah karyawan untuk membantunya. Dan kak Amel sudah menjadi manager karena sifat telaten dan cekatan nya. Pak Mul amat percaya pada Amel.
Tapi jabatan itu tidak membuat Amel lupa diri, ia tetap saja membantu hal-hal kecil yang ada di toko. Ia selalu ringan tangan membantu bagian apa saja, karena memang sekarang toko itu sudah amat rapi dalam hal manajemen dan proporsional kerjanya.
Pak Mul juga melebarkan sayapnya. Ia mampu membeli dua ruko kosong di sebelahnya, dan di sulap menjadi satu dengan ruko lamanya.
Tin....tin....
Sabil yang baru saja mengambil sepeda nya tersentak karena bunyi klakson di jalan sebelahnya.
Tampan...
Tentu, seorang pria berahang tegas, hidung yang mancung, rambut yang tertata rapi, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Ia menoleh kearah Sabila yang diam memaku.
"Kak Andra..." Ujar Sabil.
"Naiklah, aku akan mengantarmu."
Sabil masih diam memaku. Sampai ia tak sadar, kini lelaki yang memakai kemeja yang di gulung hingga siku itu telah turun dan membukakan pintu untuknya.
"Ayo..." Ujar Andra lagi.
__ADS_1
Sabil menurut, kembali ia menginjak standard sepedanya yang tak jadi di pakainya.
°°°
Lalu bagaimana hubungan Sabila dan Andra. Hubungan mereka sudah sampai tahap apa sekarang?
Dimana Andra? Melanjutkan kuliah dimana dia? Apa di dalam negeri atau di luar negeri.
Dan bagaimana Dion yang harus selalu menjaga Rani namun sekarang terpisah jarak dan waktu.
Dion yang sibuk dengan kuliahnya di bisnis dan manajemen, dan juga urusan perusahaan stasiun televisi milik ayahnya. Bisakah ia membagi waktu untuk Rani?
Dan Rani juga sibuk pada dunia barunya.
Lalu Alex? Apa dia masih bersama dengan Shila, si pembuat tegang adik kecilnya.
Apa Alex juga berhasil dalam karier dan cita-citanya untuk menjadi pembalap?
Dan Reza, Mungkin hanya dia yang sudah jelas. Ia akan melanjutkan studinya di luar negeri. Inggris, University of Oxford, itulah tujuannya. Semoga ia berhasil menjadi dokter bedah yang hebat. Yang bisa mengukir senyum di wajah para pasien dan keluarganya, seperti cita-cita dan misi keluarga nya.
°°°
Di atas sepenggal kehidupan masa muda mereka yaa...
Sebentar lagi, mereka akan melalui fase apa ya?? Apakah pendewasaan atau hanya pengalaman hidup? Entahlah,, yang pasti akan mulai tercipta konflik-konflik yang ringan sebagai bumbu. Maklum author belum pandai menciptakan konflik yang dahsyat.
Stay tune yaa....
Xiexie
__ADS_1