Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab6 Kesempatan dalam Kesempitan


__ADS_3

,,,


Andra mendudukan dirinya si sofa panjang, bergabung dengan sang pemilik acara.


"Thanks sudah mau datang bro!" menyapa sahabatnya,


"Hmmm ..." jawabnya singkat.


Lagi - lagi Shila menghampirinya, ternyata besar juga nyalinya.


"Maukah kau minum dengan ku An?" tawarnya lembut, sambil menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol itu di tangannya.


Andra langsung menyambar dan meminumnya hingga tandas, Shila tersenyum penuh arti. Ia pikir minuman itu mampu membuatnya mabuk, tidak tau saja kalau sang tuan muda cukup kuat minum.


Shila terus mengisi gelas yang di pegang Andra, ia pun ikutan meminum hingga tak terasa tubuhnya memanas. Badannya mulai limbung, ternyata dia sudah banyak meneguk minuman haram itu.


Greepp,


Hampir saja tubuh Shila mendarat di lantai, jika saja Alex tak segera menangkapnya.


"Sudah tau kemampuan minumnya begitu buruk, masih saja mengajak orang lain minum." Alex memandangi wajah yang cukup cantik itu, yang kini sudah berada dalam pelukannya, pipinya sudah memerah.


"Bawa pergi sana," titah Reza,


"Kemana?? Aku gak tau rumahnya,"


"Terserah, bawa ke hotel aja,"


"Aku gak suka memanfaatkan kesempatan," sahut Alex.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu, Kendalikan dirimu,"


"Baiklah aku pergi dulu," Alex menggendong gadis yang setengah sadar itu pergi,


,,,


"Ohh shiiittt!!! apa tanganmu tidak bisa diam. Jika kau terus seperti ini aku tak akan bisa menahan diri lagi!" bentak Alex, Karena gadis dalam gendongannya tidak bisa diam terus meraba dada bidangnya.


Akhirnya Alex memutuskan membawa Shila hotel yang ada di klub itu, dalam perjalanan pun tangannya masih belum juga puas bergerak, Alex semakin tak karuan dibuatnya.


Bahkan sekarang bibir gadis itu mulai menjelajah cekuk leher nya.


"Sialan!!! apa yang kau lakukan?" sedikit membanting gadis itu ke kasur, karena terkejut akan his*pan di lehernya. "Apa maksudmu? apa kau siap menanggung nya berani menggodaku." ucap nya mendekati wajah Shila, menelusuri wajah itu dengan jarinya. Sampai sentuhan berakhir di bibir yang begitu menggoda, dengan lipstik yang sudah berantakan justru terlihat lebih seksi di mata Alex.

__ADS_1


Tak terasa benda kenyal itu sudah menempel, sentuhan lembut kini berubah menjadi lum*tan yang semakin menuntut. Cukup lama mereka saling mengecap, hingga keduanya kesulitan bernafas. Kening keduanya saling menempel, mencoba menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Gairah semakin menggebu, menginginkan sesuatu yang lebih.


Tapi kemudian Alex tersadar, berdiri dari Kungkungan nya yang sempat mengunci gadis itu.


"Aku tak bisa melanjutkannya, tidurlah!" dia berusaha menahan hasratnya yang kian membesar. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh yang setengah t***janng, akibat ulah tangannya yang bergerilya sewaktu ciuman panas itu berlangsung, kemudian menatap nya dalam, entah kenapa dia tak tega memanfaatkan gadis yang mabuk itu.


Pada akhirnya ia memilih mendinginkan tubuhnya di bawah guyuran shower, iya berusaha menenangkan junior nya.


Sabarlah nanti aku carikan makanan lezat yang lain, kesalnya frustasi karena sang junior tak kunjung tertidur. "Shiiittt..!! terpaksa buka pabrik sabun"


...


Di bawah pesta itu masih berlangsung cukup meriah,


"Kak Reza rencana mau kuliah dimana??" tanya Rani.


"Mungkin Inggris,"


"Apa kakak juga akan mengambil jurusan kedokteran, seperti orang tua kakak?"


"Sebenarnya mereka tak memaksaku untuk itu, tapi aku sendiri yang tertarik. Aku selalu penasaran sejak kecil ketika ayah menceritakan dunia kedokteran padaku." Jawab Reza, ya dia merupakan anak pemilik rumah sakit terbesar di kotanya.


Dion kesal saat melihat ekspresi Rani, dia memandang penuh kekaguman pada temannya.


"Haiii.... ayo pulang sudah terlalu malam untukmu " Dion berusaha mengalihkan perhatian gadis kecil nya itu.


"Sebentar lagi kak,"


Dion kesal dibuatnya, lalu mulai meneguk minuman yang di depannya. Melihat Rani dan Reza begitu akrab, entah kenapa hatinya seakan tak rela.


Dia pun pergi meninggalkan mereka berdua yang asyik mengobrol,


"Apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Dion yang kini sudah berpindah tempat duduk, menghampiri sepupunya itu.


Mereka adalah saudara sepupu, Daddy nya Andra merupakan kakak ibunya Dion. Maka dari itu Dion bisa datang ke pesta itu, karena ia pun mengenal sahabat sepupunya itu sedari sekolah menengah pertama. Saat ia berkunjung ke rumah pamannya, tak sengaja bertemu mereka.


Bukannya menjawab, Andra malah kembali menikmati minuman nya, Karena tak juga mendapat jawaban Dion pun membuka suara lagi.


"Aku dengar aunty sedang tidak sehat,"


Andra mengangkat kepalanya, "Hmmm.. ya aku tau."


"Lalu apa lagi yang kau tunggu, apa kau tidak ingin melihatnya??"

__ADS_1


"Pulanglah sebentar, aunty pasti senang. Apa lagi yang kau cari di luaran sana." Andra berusaha membujuk sepupunya, dia tau apa penyebab sepupunya seperti itu. Tapi ia pikir sudah cukup selama ini menghukum ibunya seperti itu.


"Lebih baik kamu pikirkan saja itu gadis kecilmu," ucap Andra dengan pandangan mengarah pada Rani dan Reza yang terlihat semakin akrab, "Kalau kau tidak ingin keduluan orang lain lebih baik cari cara untuk menyampaikan perasaan mu." kini Andra tertawa melihat sepupunya yang terlihat kalang kabut.


Dion meletakan gelas ditangannya dengan kasar," Shiiittt.. awas saja kau Reza!" berjalan menghampiri keduanya.


"Ayo pulang!" serunya, menarik kasar pergelangan tangan Rani.


"Tunggu kak," Rani berusaha menahan tangannya, namun tenaganya tak sebanding.


Akhirnya ia pasrah mengikuti kemana lelaki itu membawanya. "Aku pulang dulu kak," teriak Rani yang tak enak pada Reza,


Kini keduanya sudah berada di lift, tangan mereka masih bergandengan, tepatnya Dion yang seakan enggan melepaskan tangan Rani.


"Kak Dion kenapa si narik-narik segala, sakit tahu." ia menggerutu, karena Dion terlalu erat memegang tangannya.


"Kak..." baru saja Rani akan kembali bersuara ia sudah mendapat tatapan tajam dari sebelah nya. Dan wajah yang tak bersahabat, beda dari biasanya.


Sampai mereka di parkiran, Dion masih setia memegang tangan nya. Di bukanya kursi penumpang, "Masuklah!"


Di perjalanan mereka masih sama-sama diam, Rani belum berani bersuara setelah melihat raut wajah Dion yang tak bersahabat tadi.


"Aku tak suka melihat mu dekat-dekat dengan nya!" tiba-tiba Dion bersuara tanpa menolehkan pandangannya, matanya menatap lurus ke depan.


"Ehhh .. Apa kak?" Rani masih bingung, apa maksud Dion tadi dia tidak suka melihatku dekat dengan kak Reza.


Dion berhenti dan menepikan mobilnya, memandang gadis di sebelahnya. "Aku tidak tahu kenapa, aku tidak suka melihat mu terlalu akrab dengan Reza, dan laki-laki lainnya juga," ucap Dion menjelaskan perkataan nya tadi.


Rani masih mencerna apa yang baru saja didengarnya itu. "apa artinya kak Dion cemburu," sungguh ia ingin melompat seketika. Tak percaya apa benar perasaannya selama ini tak hanya sepihak.


"Hehh.. kenapa kau diam saja, apa kamu mengerti apa yang aku katakan?"


Rani menganggukkan kepalanya, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Pletakk...


"Kenapa senyum-senyum sendiri,"


Anehnya gadis itu yang biasanya mengaduh kesakitan, bila terkena sentilan di keningnya. Kini justru semakin tersenyum lebar, baginya sentilan itu bagai ciuman yang mendarat di keningnya. Aneh bukan?? Memang terkadang cinta mampu membuat orang bertingkah aneh.


 


Like, komen & share ya guys

__ADS_1


xiexie


__ADS_2