
°°°
Sabil beberapa kali melirik kearah pengunjung lain. Mereka tampak iri pada Sabil. Dimana dengan telaten, Andra membantu Sabil mengupas kan beberapa menu makanan yang sedang mereka santap.
Sabil tidak meminta Andra melakukan itu ya... Andra sendiri yang mau.
"Sudah kak, ini saja. Akan sulit menghabiskannya nanti." Ujar Sabil mencegah Andra mengupas lebih banyak makanan untuk dirinya.
Bagaimana tidak, Andra bahkan belum memasukkan sesuap nasi pun ke mulut nya. Malah sibuk mengurusi Sabil.
"Benar cukup."
"Iya kak, mari makan..." Bibir Sabil melengkung ke atas.
Piring piring yang penuh terisi makanan tadi, kini hanya tersisa cangkang cangkang keras dan tulang yang tidak bisa di makan. Andra dan Sabil puas memanjakan perut mereka. Rupanya masakan itu pas di lidah Sabil juga.
"Tunggu di sini, aku akan membayar dulu." Ujar Andra seraya bangkit dari duduknya.
Sabil mengangguk paham. Ia meminum lagi jeruk hangat yang tadi di pesannya, masih ada sisa sedikit memang.
Andra kembali menghampiri Sabil setelah membayar makanannya. Tak lupa ia juga memberi uang tips pada penjual, berharap mereka akan selalu berjualan disini dan semakin banyak pembelinya. Agar Andra masih tetap bisa menikmati masakan seafood yang enak seperti tadi.
"Ayo..."
"Hah... iya kak."
Sabil pun bangkit dan mengekor di belakang Andra menuju mobil.
Andra menyerahkan beberapa bungkus plastik yang tadi di bawanya pada Sabil.
"Ini untuk ayahmu."
__ADS_1
"Hah...Apa ini kak?"
"Seperti yang kita makan tadi." Jawab Andra.
Ia mulai menyalakan mesin mobil, mengikuti arahan tukang parkir yang ada di sana. Jalanan yang ramai, dan banyak mobil yang berjejer membuat seorang pengendara membutuhkan tukang parkir untuk membantu keluar masuk kendaraan nya. Ya walaupun kadang banyak di antara mereka yang hanya muncul jika kendaraan akan pergi saja.
Andra memberikan selembar uang berwarna hijau pada tukang parkir yang membantunya tadi. Sontak si kang parkir kegirangan, membulatkan matanya, tapi tak berubah menjadi hijau seperti kata pepatah.
"Terimakasih kak, tapi kapan kakak memesan ini semua?"
Sabil sebenarnya juga heran saat melihat Andra menenteng bungkusan tadi. Namun ia rasa bukan haknya untuk bertanya tanya.
Andra mengeluarkan suara tawanya, "Hahaha...Kau lucu sekali. Tadi saat memesan, aku memesan dua porsi dari setiap makanan yang kita makan itu."
"Iya kah? Maaf aku tidak memperhatikan tadi." Ujar Sabil seraya tersenyum namun sedikit memamerkan deretan giginya.
Gigi gingsulnya menambah kesan manis di wajahnya.
Sabil beberapa kali menguap, perut yang kenyang membuat nya mengantuk.
Sabil cukup terkejut, berarti lelaki itu sedari tadi melihat Sabil menguap.
"Iy..iya kak." Jawab Sabil sambil menahan rasa malunya.
"Tidur saja, nanti aku bangunkan jika sudah sampai."
"Tidak kak, sebentar lagi juga sampai." Sabil tersenyum.
Ahh mana mungkin aku tidur di mobil ini, bagaimana jika aku di bawa ke tempat yang tidak aku kenal dan sepi. Tidak...tidak... bukan itu maksudku, kak Andra bukan lelaki seperti itu. Tapi aku takut jika cara tidurku sembarangan, mau di taruh mana mukaku.
Sabil menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri.
__ADS_1
Andra melihat rupanya, ia ikut tersenyum melihat tingkah Sabil.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Sabil. Tampak lampu lampu toko sudah meredup, hanya sebagian saja yang masih menyala. Itu artinya sudah tidak ada aktivitas jual beli lagi di dalam sana. Memang saat ini sudah melewati jam nya ayah Sabil biasa menutup toko.
Sabil turun dari mobil itu. Dengan sigap Andra membantu Sabil membukakan pintu mobilnya.
"Terimakasih kak." Ujar Sabil setelah keluar dari mobil. Tak lupa ia juga sedikit membungkukkan badannya saat berterimakasih.
"Panggil namaku!"
"Hah...?" Sabil mendongakkan kepalanya, sekarang mata mereka saling bertemu.
"Panggil namaku Sabilaaa..." Ujarnya begitu lembut.
"Terimakasih kak Andra." Blushh... pipi Sabil merona.
"Bagus gadis baik." Kini Andra memberi usapan di pucuk kepala Sabil.
Semekin memerahlah pipi Sabil, untung saat ini lampu di sana tidak begitu terang jadi pipi merona Sabil tak begitu terlihat. Semoga saja.
"Masuklah, Ayahmu sudah menunggu." Ujar Andra. Bukan ia tidak mau berlama-lama dengan Sabil, tapi ia takut tidak bisa menahan diri lagi. ingin rasanya ia membawa gadis itu dalam pelukannya. Yakin peluk doank bang??
"Iya kak, aku masuk dulu. Kak Andra hati-hati pulang nya."
Sabil berbalik dan segera beranjak, ia sudah sampai di depan pintu namun belum juga mendengar suara mesin mobil itu menyala.
Apa kak Andra belum pergi, pikir nya.
Sabil segera membuka pintu dan masuk kedalam. Takut membuat Andra semakin lama menunggu. Dan benar saja setelah Sabil masuk, Andra baru menyalakan mobilnya.
°°°
__ADS_1
******Like******, like,like🙏🙏
Xiexie