
°°°
Dad Ray harus menata perkataannya agar istrinya tidak curiga. Paling susah jika berbohong pada sang istri, dengan mudah dia akan tau jika suaminya sedang berbohong.
"Dad cepat ceritakan." Mom Rahmi mengguncang lengan sang suami.
"Tenang saja sayang, Sabil aman. Dia bersama Andra saat ini, mereka berada di apartemen."
Pyarr...
Tanpa sengaja suster Jane menjatuhkan botol obat yang sedang ia pegang.
"Maaf tuan, Nyonya. Saya akan mengambil yang baru." Suster Jane buru-buru keluar dari sana, takut tuan Ray curiga.
"Tidak apa-apa sus," jawab nyonya Rahmi.
Dad Ray menangkap gelagat aneh dari suster itu. Dilihat dari wajahnya seperti menahan kesal.
"Dad, kenapa melamun. Cepat ceritakan lagi kenapa Sabil pergi tanpa pamit kemarin." Mom Rahmi sangat takut jika ada masalah yang tak ia ketahui.
"Tidak apa-apa sayang. Sabil hanya kelelahan makanya ia kembali ke apartemen." Pikiran dad Ray masih pada reaksi suster Jane tadi.
"Tidak ada yang ditutupi dariku kan Dad." Mom Rahmi menatap intens suaminya.
"Tidak, kau tidak perlu banyak pikiran." Mengusap pucuk kepala sang istri.
,,,
Di ruangannya suster Jane mengamuk, membanting semua yang ada di meja kerjanya. Bagaimana mungkin rencana yang sudah ia susun dengan matang tidak berjalan sesuai keinginannya. Kenapa begitu sulit memisahkan sepasang suami istri itu.
"Aaa... brengseek." Berteriak tidak jelas.
"Aku tidak akan menyerah, aku akan membuat Andra datang padaku. Hahaha..."
Dia menyusun rencana lagi, apa dia sudah gilaa. Berani berhadapan dengan keluarga Adiguna. Semoga Tuhan segera menyadarkannya.
,,,
Andra dan Sabil sudah sampai di apartemen, tempat mereka tinggal kemarin. Andra mengantarkan istrinya hingga dia masuk kedalam. Ia mengalah, meski ia sangat ingin selalu di samping istrinya dan terus memeluknya. Andra harus memberi Sabil waktu untuk meyakinkan hatinya dan memaafkannya.
"Aku akan pergi, kau jaga diri. Jika butuh apa-apa panggil pelayan saja. Aku sudah menyiapkan pelayan untuk menemanimu, please jangan menolak. Aku tidak akan tenang bila kau hanya sendiri. Tenang saja pelayan itu akan aku suruh untuk tidak mengganggumu. Dia hanya akan bergerak jika kau menyuruhnya."
__ADS_1
Mau menolak juga tidak bisa, Sabil hanya mengangguk saja. Jika tak di iyakan pasti suaminya itu takkan pergi dari sana.
Andra mengecup kening sang istri sebelum pergi. Ia akan kembali ke rumah sakit untuk menyelidiki masalah hari ini. Tidak akan tenang bila pelakunya belum tertangkap.
Sabil masuk ke dalam apartemen setelah perpisahan tadi. Seperti yang dikatakan Andra tadi, didalam sudah ada satu pelayan yang duduk di kursi dapur. Pelayan itu bangun saat melihat Sabil datang, kemudian membungkukkan tubuhnya. Tanpa suara dan sapaan, benar-benar patuh pada atasannya yang bilang jangan mengganggu Sabil.
Sabil pun hanya tersenyum simpul lalu segera masuk ke kamar. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, memejamkan matanya dan memikirkan semua yang tadi Andra katakan.
Aku bisa melihat jika kak Andra benar-benar sangat mencintaiku, saat menatapnya tidak ada kebohongan dimatanya. Tapi aku hanya ingin tenang untuk sementara waktu. Pikirnya.
Drrtt, drrtt
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, apa mungkin Andra. Tidak mungkin karena tadi Sabil bilang untuk tidak mengganggunya sekalipun lewat ponsel. Sabil duduk dan mengambil ponsel di tasnya. Ternyata ayah Mul yang menelepon, tidak tau apakah ia harus bercerita pada ayahnya atau tidak.
"Ya ayah..."
"Apa kabarmu nak?"
"Kabarku baik-baik saja. Apa ayah sehat?" tanya Sabil seraya menitikkan air matanya, ia ingin bercerita tapi takut membuat ayahnya jadi kepikiran.
"Ayah juga baik nak, ada apa, apa terjadi sesuatu."
Pak Mul yang mendengar putrinya terisak pun menaruh curiga. Padahal Sabil sudah menutup mulutnya agar tak terdengar oleh sang ayah tapi ayah Mul begitu peka.
"Ayah... hiks hiks." Akhirnya Sabil menumpahkan lagi tangisnya.
"Tenangkan dirimu dulu lalu ceritakan pada ayah, apa yang terjadi."
Pak Mul sebenarnya sudah merasa tidak enak dari kemarin. Sebagai ayah ia dapat merasakan ada yang tidak beres dengan putrinya, meski jauh tapi ia dapat merasakannya.
"Ayah... Kak Andra... hiks." Sabil bingung mau bercerita, takut ayahnya membenci Andra dan keluarganya.
"Iya nak, kenapa dengan nak Andra?"
"Dia... hiks... hiks."
"Minumlah air putih dulu, lalu ceritakan pelan-pelan ada masalah apa. Siapa tau ayah bisa membantu mu nak."
Pak Mul berusaha menenangkan putrinya yang terus menangis.
"Ayah sebenarnya... sebenarnya kak Andra adalah anak laki-laki yang dulu diselamatkan oleh ibu."
__ADS_1
Diam tidak ada sahutan dari sang ayah, pikiran Sabil makin kacau. Takut terjadi sesuatu pada ayahnya.
"Hallo ayah, apa ayah marah."
"Tidak nak, untuk apa ayah marah."
Jawaban ayah Mul membuat Sabil tertegun, tak menyangka reaksi ayahnya akan setenang itu. Tidak seperti dirinya.
"Apa kau menangis karena itu??"
"Apa ayah benar-benar tidak marah?" Sabil masih tidak percaya.
"Untuk apa nak, marah pun tidak bisa mengembalikan ibumu ke dunia ini. Semuanya sudah takdir dari Tuhan, ibumu terlalu baik makanya Tuhan lebih menyayanginya."
"Tapi kak Andra tidak pernah mengatakan itu padaku Yah, aku kecewa karena mengetahuinya dari orang lain."
"Dia hanya belum siap nak, suatu saat nanti nak Andra pasti jujur padamu. Dan pada saat itu terjadi apa yang akan kau lakukan? Bukankah sama kau tau sekarang ataupun besok. Semuanya sudah berlalu, tidak bisa diulang. Bukan salah nak Andra ataupun ibunya. Ibumu sudah bahagia disisi Tuhan, tak perlu lagi mempermasalahkan hal yang tidak perlu."
Ayah Mul sungguh sosok ayah yang wajib dikagumi, kesabaran dan ketabahan hatinya seluas samudera. Sabil malu pada dirinya sendiri, ayah saja yang kehilangan istri tercintanya bisa selapang itu tapi Sabil malah hampir menyalahkan orang yang tidak bersalah.
"Apa ayah sudah tau sebelumnya??" tanya Sabil memastikan.
"Ayah tau sejak pertama ibu Rahmi mulai datang setiap hari ke toko. Ayah masih ingat wajahnya dan raut wajahnya yang menampilkan rasa bersalah yang besar saat melihat mu semakin membuat ayah yakin jika dia adalah wanita itu."
"Lalu apa ayah tidak marah?" Sabil makin penasaran.
"Untuk apa, dia juga tak sengaja. Bukan dia yang menyetir mobilnya waktu itu dan semua itu pilihan ibumu sendiri. Tapi ayah juga bangga pada ibumu sejak kejadian itu ibu Rahmi berubah menjadi orang yang lebih baik."
"Dan nak Andra sama sekali tidak bersalah, dia juga korban keegoisan orang tuanya. Masa kecilnya sudah menderita ditambah kebenciannya terhadap sang ibu."
Sabil memahami semuanya saat ini, suaminya tak bersalah mungkin apa yang dirasakan nya saat ini hanya terlalu kecewa atas waktu yang selama ini ia lewati, kesepian tanpa seorang ibu. Lalu dimana Andra saat itu. Tapi kini ia tau jika suaminya juga sedang terluka saat itu. Anak mana yang tidak hancur bila melihat orang tuanya mengkhianati pasangannya.
"Nak dengarkan ayah, saat ini bukan waktunya kau marah dan kesal pada suamimu. Ini adalah ujian dalam pernikahanmu, jika kalian bisa melewatinya maka rasa cinta kalian akan semakin kuat. Ayah tidak tau siapa yang memberitahu mu soal itu tapi ayah rasa orang itu punya maksud tertentu. Kau harus selalu waspada, genggaman tangan suamimu. Sebagai istri kau harus selalu berada di samping suamimu, menghadapi semuanya bersama-sama."
Sabil memikirkan semuanya baik-baik, dia bahkan tidak terpikirkan jika orang yang memberitahu nya punya maksud lain dan memanfaatkan keadaan. Sabil jadi ingat setiap kali bertemu suster Jane, ia selalu merasa ada sesuatu.
°°°
Xiexie
#Kawalsampaiakhir
__ADS_1
Sebentar lagi ok. Sabar ya guys.
Salam sayang dari Sabila dan Andra.