
°°°
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah restoran mewah. Andra turun dan membukakan pintu untuk tuan putrinya.
Mereka tampak serasi, pria tampan dengan berjuta pesona berdampingan dengan wanita cantik dan lembut seperti Sabil.
Kedatangan mereka disambut oleh manager restoran langsung, ia sangat senang karena CEO Adiguna yang terkenal itu mendatangi tempatnya.
"Selamat malam tuan Andra dan nona... kami sudah menyiapkan tempat yang terbaik untuk anda... Silahkan..." Ujar si manager. Yang hanya dibalas anggukan oleh Andra, sedang Sabil sudah pasti ia tersenyum manis.
Sabil menautkan tangannya pada lengan Andra, mereka berjalan dengan sangat anggun dan berwibawa. Para karyawan yang bertugas ikut menyambut pun sampai tak mengedipkan matanya. Mereka berjalan mengikuti arahan manager tadi, bahkan karpet merah di gelar disana.
"Silahkan tuan dan nona, ini ruangannya. Selamat menikmati hidangan yang kami sajikan," ujar si manager yang hanya mengantarkan sampai di depan sebuah pintu yang bertuliskan VVIP di atasnya.
Pelayan membukakan pintu ruangan itu. Sabil membulatkan matanya, dekorasi yang begitu cantik dan romantis. Banyak lilin lilin menyala di sekeliling ruangan, bunga Lily pun menjadi penghias ruangan itu.
"Ayo..." Ajak Andra memasuki ruangan itu.
Sabil pun mengikuti langkah Andra, ia masih belum bisa berkata apa-apa. Ini sangat indah.
Andra menarik kursi untuk Sabil duduki, setelah itu ia duduk di kursinya sendiri.
"Apa kau suka?" Tanya Andra.
Gadis itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, lalu kembali mengagumi keindahan si sekitarnya. Keindahan dekorasi itu semakin lengkap ditambah pemandangan dari lampu-lampu kota yang terlihat dari kaca jendela.
"Kapan kakak menyiapkan ini semua?" Ucap Sabil dengan mata berbinar.
"Aku hanya menemukan idenya, selebihnya para pelayan disini yang membantu menyiapkan ini semua."
"Terimakasih kak..."
Tibalah para pelayan berjalan beriringan menbawa makanan lalu meletakkannya di atas meja.
"Ayo makan," ujar Andra setelah para pelayan keluar. Sabil mengangguk dan mulai mengangkat sendok kemudian memakan makanan yang tersaji di meja.
"Ini enak kak," ujar Sabil sambil.
Tak hanya tempatnya yang nyaman dan bersih tapi rasa masakannya juga sangat enak.
Mereka sangat menikmati makan malam itu sampai habis. Suasana romantis semakin tercipta tak kala terdengar bunyi suara musik biola. Sabil mencari-cari sumber suara itu, sampai-sampai Andra sudah berdiri didepannya pun ia tak sadar.
"Mari kita berdansa..." Ajak Andra seraya mengulurkan tangannya.
Sabil pun dengan senang hati menerima ajakannya pria tampan itu. Alunan musik yang begitu indah, mengiringi dua insan yang sedang berbunga-bunga. Mereka bergerak mengikuti irama.
Sabil meletakkan tangan kirinya di pundak Andra, sedang satu tangan mereka saling bertautan. Mata mereka pun saling mengunci, memancarkan rasa cintanya pada orang didepannya.
__ADS_1
"Masih ingatkah saat kita pertama bertemu dulu. Kau begitu polos saat itu," ujar Andra.
"Ya ... dan aku tidak berani menatap kak Andra."
"Kenapa... apa kau takut saat itu?"
"Kak Andra terkenal dengan sifatnya yang tidak ingin disentuh dan saat itu aku tidak sengaja menabrak kakak, aku takut kalau kak Andra marah saat itu."
Andra terkekeh mendengar penuturan wanita cantik di depannya.
"Kenapa harus takut... Hmmm..." tanya Andra lagi.
"Entahlah, aku hanya sudah sering mendengar gosip-gosip itu." Jawab Sabil seraya mengangkat bahunya.
"Kau itu menggemaskan...Tapi aku suka."
Pipi Sabil memerah seketika, dalam cahaya yang minim saja pipi merahnya masih terlihat jelas.
Gemas Andra lalu memberikan cubitan kecil di pipi gadis itu.
"Kak... Kau suka sekali meledekku." Cibir Sabil.
"Karena kau menggemaskan... Peffttt..."
Sabil kesal dan menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu dan melipat kedua tangannya.
Seketika Sabil menghentak kakinya lalu berbalik memunggungi Andra yang sedang tertawa.
Grep
Tiba-tiba Andra memeluknya dari belakang.
"Jangan marah lagi, maaf..." ujar Andra dengan lembut. Lalu ia membalikkan tubuh Sabil sehingga mereka kembali saling berhadapan.
"Apa kau tau, kau adalah wanita pertama yang membuatku melihat wajah perempuan disekitarku. Biasanya aku tak pernah peduli dengan apa yang ada disekitarku. Tapi kau berhasil menarik perhatianku. Kecantikan dan kelembutan hatimu membuatku luluh. Di dekatmu membuat diriku nyaman dan saat berjauhan membuatku rindu."
Sabil mendengarkan setiap kata yang Andra ucapan.
"Dulu aku tidak percaya cinta, tapi kini aku menyadari kalau aku sedang jatuh cinta. Aku mencintaimu Sabila. Menikahlah denganku..." Ujarnya seraya menekuk lututnya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku jasnya.
Sabil menutup mulutnya tak percaya, Apa ini mimpi?
"Maukah kau menikah dengan ku Sabila?, menjadi istriku dan mendampingi hidupku seumur hidup?" Ujar Andra.
"Kak...ini..."
"Maaf mungkin ini terlalu mendadak, tapi percayalah, sudah sejak lama aku mencintaimu dan ingin menjadikanmu istriku," ujar Andra meyakinkan.
__ADS_1
Tangan Andra menggantung memegang cincin, menunggu Sabil memberi jawaban. Ya ia juga sudah siap jika Sabil menolaknya, salahnya yang selama ini tak mengungkapkan isi hatinya.
Beberapa saat kemudian Sabil menganggukkan kepalanya, "Aku mau kak..."
Mata Andra berbinar, ia begitu senang mendengar jawaban yang keluar dari mulut Sabil.
"Benarkah?" Tanyanya.
Sabil kembali menganggukkan kepalanya, "Iya kak, aku mau menjadi istrimu." Sabil menjawabnya dengan malu-malu.
Tanpa menunggu lama, Andra meraih tangan Sabil dan memasangkan cincin yang bertahtakan berlian itu di jari manisnya. Lalu membubuhkan ciuman berulangkali disana.
Setelah puas menciumi tangan wanita yang sekarang berstatus calon istrinya, kemudian ia bangkit dan merengkuh tubuh Sabil ke pelukannya.
"Terimakasih Sabila ku..." Andra merasa menjadi lelaki yang paling bahagia saat ini. Bisa mengenal gadis seperti Sabil, mencintainya dan sebentar lagi menjadi suaminya.
"Kak... aku sesak." Suara Sabil tercekak karena Andra memeluknya dengan sangat erat.
"Maaf, maaf aku terlalu bahagia..." ujar Andra merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kak."
"Terimakasih Sabila..." ujar Andra, tidak henti-hentinya ia berterimakasih.
"Emmm... Sudah malam kak, sebaiknya kita pulang sekarang." Ujar Sabil yang merasa malu.
Andra mengerti lalu ia pun setuju, tapi sebelum itu ia juga mendaratkan ciuman di kening Sabila.
"Ayo... "
Mereka berjalan keluar dengan wajah bahagia, ke duanya sesekali saling menatap penuh kasih.
Di pintu keluar, tak lupa manager restoran itu berterimakasih.
"Aku akan katakan pada atasanmu atas kerja kerasmu hari ini, dan akan ada bonus untuk kau dan karyawanmu yang terlibat hari ini." Itu adalah sebagai tanda terima kasih Andra atas suksesnya rencana malam ini.
°°°
Xiexie
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian readers ku tersayang....
Ajak juga teman, pacar, saudara,dan tetangga kalian untuk mampir di novelku yaaa....
Aku tidak minta vote yang adanya seminggu sekali, cukup like dan komen nya saja.
Terimakasih...
__ADS_1