
°°°
Ternyata waktu yang ada di rekaman cctv itu yang mengganjal. Ada perbedaan waktu yang cukup lama saat Sabil baru memasuki lift hingga keluar. Tidak mungkin butuh waktu selama itu untuk sampai di lantai bawah.
"Apa mungkin Sabil berhenti disalah satu lantai sebelum akhirnya ia kembali turun Dad?"
"Daddy juga berpikir demikian nak, coba kau cek satu-satu lantai rumah sakit ini."
Andra mulai bergerak memeriksa cctv di setiap lantai. Tidak ada yang mencurigakan, tapi ada satu lantai yang cctv nya tak menyala. Mungkin rusak atau sengaja dirusak.
"Dad di lantai 15 cctv nya tidak menyala, kemungkinan Sabil berhenti disitu." Andra sangat berharap akan ada petunjuk lainnya.
"Coba kau cari tau sejak kapan cctv disana rusak. Aku akan mengangkat telepon dari mommy mu dulu." Sang istri sudah menelepon sejak tadi tapi Dad Ray belum berani mengangkatnya.
"Jangan katakan pada mommy jika Sabil menghilang Dad." Pinta Andra.
"Tenang saja, Daddy tidak mungkin membahayakan nyawa mommy."
Andra mulai mencari tau tentang cctv yang ada di lantai 15, bertanya pada pihak keamanan. Ternyata cctv itu baru rusak beberapa hari yang lalu. Itu semakin memperkuat dugaan Andra jika ada orang yang sudah menyiapkan ini semua. Kemudian Andra kembali menemui Daddy nya.
Sedangkan Dad Ray sedang sibuk memikirkan alasan yang tepat agar istrinya tidak khawatir. Ia terpaksa berbohong dan mengatakan jika Andra sudah bersama Sabil saat ini.
"Tenang sayang, sebentar lagi aku akan kembali. Sabil sudah aman bersama Andra." Bohong dad Ray pada sang istri.
"Kau tidak sedang berbohong kan Dad?"
"Tidak istriku, untuk apa aku berbohong."
Dad Ray yang melihat Andra kembali pun segera menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, agar Andra tak bersuara. Sang putra pun mengerti ia duduk dan hanya diam saja.
"Syukurlah Dad, aku sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu pada Sabil. Kalau begitu kau cepatlah kembali dad."
"Iya sebentar lagi aku akan kembali." Akhirnya dad Ray memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Bagaimana nak?"
"Seperti dugaan kita Dad, ada yang sengaja merusaknya. Tapi apa motifnya dan apa yang membuat Sabil menangis. Aku rasa kita harus menemukan Sabila dulu Dad, untuk mengetahui apa yang terjadi."
"Baiklah, Dad akan bertanya pada anak buah Daddy." Dad Ray menelpon salah satu orang suruhannya.
"Benarkah kalian sudah menemukannya? Kerja bagus, terus ikuti dan awasi jangan sampai kehilangan jejak. Lindungi juga nona kalian, jangan sampai terjadi hal buruk." Ujar dad Ray pada orang suruhannya di sambungan telepon.
"Bagaimana dad, apa mereka menemukan Sabila istriku." Langsung bertanya saat dad Ray selesai menelpon. Andra menatap penuh harap, saat tadi mendengar pembicaraan daddy-nya ia sudah sangat senang.
"Sabarlah nak, kau tidak perlu khawatir. Mereka sudah menemukan lokasi Sabil saat ini. Ternyata dari tadi Sabil hanya menaiki mobil yang dari kemarin kalian naiki saat pergi dan mobil itu hanya berputar-putar tidak jelas di jalanan."
"Sepertinya Sabil memang sedang memikirkan sesuatu nak. Cepat kau susul dia dan tanyakan apa yang membuatnya menangis. Berusahalah untuk menyelesaikan masalah dengan tenang, jangan memakai emosi." Dad Ray berusaha memberikan pengertian agar putranya tetap tenang nanti saat bertemu istrinya.
"Aku mengerti Dad, aku akan segera menyusulnya." Tak membuang waktu lagi, Andra bergegas menyusul Sabil. Dari informasi yang dad Ray terima tadi mobil yang ditumpangi Sabil masih terus bergerak, maka ia meminta search lokasi saat ini pada orang suruhan daddy-nya.
"Berhati-hatilah nak."
Dad Ray juga sedikit lega saat mendengar jika Sabil baik-baik saja. Wanita itu sudah memiliki separuh jiwa putranya. Tidak bisa ia bayangkan jika terjadi sesuatu pada Sabil, mungkin putranya itu akan sangat terpukul. Terlepas dari apa penyebab Sabil menangis, itu bisa ia cari tau nanti. Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga Adiguna, maka bersiap-siaplah menanggung akibat yang tidak akan bisa kalian bayangkan.
Di dalam mobil, Sabil terus saja menangis. Ingatannya bersama sang ibu saat masih hidup terus saja berputar di kepalanya. Ibunya nya itu wanita yang begitu baik dan ramah pada semua orang.
Flashback Sabil kecil
"Ibu aku cantik tidak memakai baju ini?" Sabil kecil berlari kearah ibunya.
"Hati-hati nak, jangan berlarian." Bu Arum yang sedang membuat kue begitu takut saat melihat putri kecilnya berlarian di dapur yang agak licin.
"Lihatlah Bu, apa kecantikan ku sudah seperti ibu." Tanyanya lagi dengan begitu cerewet.
"Tentu, putri ibu sangat cantik memakai baju apapun." Bu Arum mencolek hidung putrinya tapi karena ia sedang membuat kue tangannya itu kotor penuh tepung. Alhasil hidung putrinya pun ikut kotor.
"Aaa... ibu hidungku jadi kotor terkena tepung. Nanti aku tidak cantik lagi." Cemberut dan menggembungkan pipinya.
__ADS_1
Kekesalan putrinya itu justru membuat Bu Arum semakin gemas ingin mencubit pipinya.
"Cup,cup, putri ibu semakin cantik jika sedang marah." Terkekeh pelan.
"Baiklah karena ibu sudah bilang aku cantik maka aku akan memaafkan kesalahan yang ibu buat tadi." Sambil berkacak pinggang.
Ocehan Sabil kecil selalu mewarnai hari-hari Bu Arum dan pak Mul, mereka sangat bahagia saat Tuhan memberikan kepercayaan pada mereka untuk memiliki seorang putri. Ya hampir 8 tahun mereka menantikan kehadiran seorang buah hati dalam pernikahan itu. Maka dari itu Bu Arum dan pak Mul begitu menyayangi dan memanjakan sabil.
Untunglah Sabil tidak tumbuh menjadi anak yang manja saat tumbuh dewasa karena terlalu dimanja oleh orang tuanya, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mandiri. Membuat pak Mul bangga.
"Ibu, jika aku besar nanti aku ingin menjadi perempuan yang secantik ibu." Kata Sabil kecil yang sedang merebahkan tubuhnya diantara ayah dan ibunya.
"Tentu nak, kau akan menjadi gadis yang sangat cantik bahkan lebih cantik dari ibu," ujar ibu Arum.
"Putrinya ayah sudah pasti cantik." Pak Mul pun ikut menjawab, membuat senyum Sabil mengembang.
"Aku juga ingin mendapatkan suami seperti ayah yang sangat sayang pada ibu dan sayang keluarga." Ucapan Sabil sudah seperti wanita dewasa.
"Hai... kau bahkan masih menggunakan pampers nak, bagaimana kau sudah bisa memikirkan suami." Ibu Arum gemas dan memeluk tubuh putrinya dari samping.
"Biarkan saja." Menjulurkan lidahnya pada sang ibu. "Iya kan Yah??" Lalu mencari pembelaan pada sang ayah.
"Iya sayang... kau pasti akan mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari ayah jika sudah besar nanti." Pak Mul pun memeluk kedua wanita yang paling ia sayangi.
Canda tawa disertai ocehan Sabil kecil berlangsung hingga larut malam saat itu. Hidup mereka sangat bahagia meski tak bergelimang harta. Kebersamaan dan kasih sayang mampu membuat hidup mereka begitu berwarna dan penuh cinta.
Flashback Sabil kecil off
°°°
Xiexie
#kawalsampaiakhir
__ADS_1
Stay tune selalu agar tidak ketinggalan ceritanya.
Salam sayang dari Sabila...