
°°°
Di dalam kamar.
Malam semakin larut namun belum ada tanda-tanda Andra mengantuk. Sudah beberapa kali ia coba memejamkan matanya, bukannya tertidur malah matanya kian terbuka lebar.
Mencoba mencari posisi yang nyaman, menggulingkan tubuhnya kesamping, tapi belum juga bisa tertidur. Akhirnya ia bangun, berjalan menuju balkon kamarnya.
Tampak hening karena memang hampir tengah malam, tak ada aktivitas apapun terlihat dihalaman mungkin para pekerja juga sudah dalam mimpi indahnya.
Andra menghela nafasnya panjang,
"Sabila..." ia bergumam, ya nama itu yang sedari tadi membuatnya tak bisa memejamkan matanya.
Entah apa yang ada dipikiran nya, matanya menerawang jauh. Memandang cahaya yang tampak berkedip-kedip di langit malam.
Udara dingin semakin menusuk, Andra mulai merasakan dinginnya angin malam, menerpa tubuhnya yang memang kebiasaan tidurnya tak memakai atasan. Lengan yang begitu kokoh, perut yang membentuk kotakan manja, itu terpampang nyata di tengah dinginnya malam. Untunglah tak ada para pelayan yang lewat, atau mereka tak bisa berpaling dari pemandangan indah bagi kaum hawa itu. Ia kembali ke kamarnya, berniat memaksakan matanya agar terpejam. Atau besok ia akan terlambat ke sekolah.
,,,
Pagi kian menyingsing, matahari mulai melakukan tugasnya.
Andra yang merasakan cahaya yang mulai masuk melalui celah kecil pun terbangun. Namun pagi ini terasa begitu berat, matanya seakan lengket tak mau bisa di buka.
Ia duduk dan bersandar pada tepi ranjangnya,
kemudian mengerjapkan matanya berulang kali. Baru tertidur Beberapa jam membuatnya merasa masih mengantuk. Ya semalam setelah masuk ke kamar nya ia tak langsung bisa tertidur, entah jam berapa mulai tertidur.
Andra bangun menuju kamar mandi, membasuh wajahnya agar sedikit segar sebelum melakukan ritual mandinya.
Ia berdiri di depan cermin membasuh wajah tampannya, Apa yang salah denganku bahkan sekarang aku terus memikirkan gadis itu. Andra heran sendiri dengan dirinya.
Di bawah Mom Rahmi sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk putra dan suami tercinta nya.
"Anak tampan Mommy sudah turun," sapa Mom Rahmi melihat putra satu-satunya turun dari tangga, sudah rapi dengan seragam sekolah nya.
" Pagi Mom," Andra menghampiri Mom nya mencium pipi nya.
"Duduklah, kita tunggu Daddy sebentar lagi," Mom Rahmi tersenyum senang.
"Pagi Dad," sapa Andra yang melihat Daddy nya sudah turun.
"Pagi boy, pagi sayang... cup," Dad Ray membalas sapaan putranya namun tak lupa ia memberikan kecupan mesra pada sang istri.
Andra senang melihat pemandangan paginya, keluarga nya tampak seperti keluarga normal lainnya.
"Kenapa wajahmu terlihat lelah nak, apa tidurmu tidak nyenyak semalam?" tanya mom Rahmi yang melihat putranya tampak lesu.
"Andra hanya tidur terlalu malam Mom."
"Kenapa apa tak bisa tidur, apa badanmu tidak sehat?"
"Tidak Mom, hanya tidak mengantuk saja." jawab Andra lagi.
__ADS_1
"Baiklah sekarang makan yang banyak agar bersemangat lagi," ujar Mom Rahmi, seraya menyendokan beberapa menu makanan ke piring putranya.
"Hmmm... apa hanya putramu yang di urusi," sahut Daddy tiba-tiba, nadanya di buat seperti sedang merajuk.
"Tunggu sebentar sayang."
"Daddy ini apaan, kan sudah lama Mommy tak mengurusku, sebaiknya jangan mengganggu kami." Andra pun berpura-pura merajuk pada sang Daddy.
"Sudah, Kalian berduaan ini ayah dan anak tidak ada yang mau mengalah. Mommy pasti mengurus kalian semua," Mom Rahmi tampak heran melihat kelakuan dua kesayangannya.
Sarapan pagi itu di warnai dengan sedikit Senda gurau keluarga kecil Andra.
"Mom, Dad, Andra berangkat dulu."
"Hati-hati di jalan nak," sahut sang Mommy, sedangkan Daddy hanya menganggukkan kepalanya.
°°°
Disekolah,
"Lex, tunggu!" teriak seorang gadis, ia berusaha menyusul langkah lelaki yang di panggilnya tadi.
hah hah, nampak ia mengatur nafasnya setelah berlari cukup jauh tadi.
"Kamu kenapa si, menghindar terus?" tanya gadis itu sambil terengah-engah.
"Siapa yang menghindar," sahut Alex.
"Kamu mau cari siapa? Andra belum datang."
Tapi langkahnya terhenti, saat ada tangan yang mencekal lengannya.
"Tunggu, aku mencari mu, bisa kita bicara berdua?" tanya Shila.
" Ada apa bicara di sini saja," jawab Alex ketus.
" Yakin mau di omongin di sini?"
"Ya disini saja."
Sejujurnya Alex sangat malas berurusan lagi dengan gadis di depannya itu.
"Yakin?? Kalau aku mau ngomong tentang malam panjang kita berdua," ujar Shila dengan suara yang sengaja di buat agak keras.
Seketika para siswa/i yang sedang berlalu lalang pun melihat ke arah mereka.
"Gi laa kamu, ngapain ngomong kayak gituan," Alex langsung membungkam mulut Shila dengan tangannya.
"Bukannya kamu yang bilang di sini aja," Shila tersenyum menang.
Alex menarik tangan Shila segera, sebelum gadis itu mengatakan sesuatu yang tidak-tidak lagi.
"Sekarang ngomong disini!! cepat aku tidak punya banyak waktu." Tegas Alex saat sudah sampai lorong yang sepi.
__ADS_1
Shila hanya tersenyum dengan tingkah lelaki yang kini masih saja menggenggam tangannya.
Alex menolehkan kepalanya melihat sekeliling, takutnya ada lagi yang mendengar mereka berbicara.
Namun ia sadar gadis di depannya itu tak juga membuka suara nya.
"Kenapa kamu senyum senyum, cepat apa yang ingin kamu katakan!" geram Alex.
"Hahaha... ok ok.. tapi bisakah kau melepaskan tanganku," ujar Shila sambil mengangkat sebelah tangannya yang di genggaman Alex.
"Shiiittt... cepat," Alex melepaskan dengan kasar.
Gadis itu tersenyum, "Apa yang kau lakukan padaku malam itu?" tanya Shila pada intinya, karena merasa wajah lelaki di depannya mulai tak bersahabat.
"Tidak ada yang terjadi," jawab Alex acuh.
"Lalu kenapa saat aku terbangun sudah tidak memakai apapun?"
"Aku bilang tidak ada yang terjadi, apa kau dengar!!" Andra geram sendiri,
Sebenarnya ia sungguh tidak ingin berduaan dengan gadis itu, karena setiap ia berdekatan dengannya entah ada getaran apa dalam dirinya, yang membangkitkan suatu gejolak bagian bawah tubuhnya.
"Apa kau berusaha untuk kabur, kau mau mengelak, iya kan??"
"Untuk apa aku berbohong."
"Bagaimana kalau aku hamil, aku masih ingin bersekolah... hiks hiks..." Shila berakting menangis.
"Hai.. diamlah, bagaimana bisa hamil kalau aku saja tak melakukan apapun."
"Huaaaaa..." tangisnya di buat semakin keras.
Lagi-lagi Alex membungkam mulutnya dengan tangannya, "Diamlah!! nanti ada yang mendengarnya."
Shila sama sekali tak menghiraukan lelaki de depan nya. Ia semakin mengeras kan tangisannya. "Huaaaaa... kau jahat sekali tak mau bertanggung jawab."
Alex mengusap kasar wajahnya, "Shiiittt...!!!"
Cup
Shila membelalakkan matanya, merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Seketika ia diam, lalu ia mulai membalasnya, membuka sedikit mulut nya agar lidahnya leluasa mengabsen tiap rongga mulut nya.
Awalnya Alex hanya berniat menghentikan tangis gadis itu, tapi kini ia malah terbuai oleh ulahnya sendiri. Apalagi setelah ia mendapat balasan, yang tadinya hanya menempel kini menjadi lum***. Lumayan lama lidah mereka saling membelit, sampai Alex merasa gadis di depannya mulai kehabisan nafas barulah ia melepaskan tautan nya.
Hosh,hosh.
Mereka mengatur nafasnya, kening keduanya saling menempel. Alex berusaha meredam gejolak yang timbul akibat kegiatan barusan.
Alam bagian bawah tubuh nya sudah siap memberontak, siap menaburkan bibit-bibit unggulnya.
"Kau harus menjadi pacarku," seru Shila.
Alex tertegun sejenak.
__ADS_1
°°°
xiexie