
°°°
Sabil terduduk di bangku di depan sebuah ruang ganti. Ia masih waspada, karena tadi tatapan para gadis terlihat sangat menyeramkan. Bagaimana tidak, jika Andra sang idola para siswi di sana menggandeng tangan perempuan tanpa ragu. Ia bahkan tak melepaskannya hingga sampai depan ruang ganti, mungkin jika boleh masuk ia akan membawa Sabil masuk ke dalam ruang khusus laki-laki itu.
Sabil bahkan tak berani mengangkat kepalanya saat berjalan tadi. Mungkin bagi Andra, ia tak akan perduli. Tapi bagaimana Sabil?? Ia bahkan ragu mulai sekarang hidupnya akan bisa tenang.
Di dalam ruang yang terdapat banyak loker, terdapat beberapa pria sedang berganti pakaian yang tadi basah penuh keringat.
Andra bergegas, ia takut membuat Sabil menunggu lama. Gerak gerik nya tak luput dari ke dua sahabatnya. Mereka sedari tadi memperhatikannya, bagaimana tadi Andra tak melepaskan genggaman tangannya pada Sabil saat berjalan. Dan kini mereka terus menatap Andra yang sedang berganti pakaian.
"Apa yang kalian lihat!" Seru Andra.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada kami." Alex bersuara, ia sudah tak tahan ingin bertanya. Ia sudah tercengang melihat sikap Andra pada adik kelasnya tadi.
"Tidak!"
"Iiisshh kau ini," ujar Alex kecewa.
"Za, cepat kau saja yang bertanya." Ia berharap temannya mau membantu.
"Hahaha... kau kan sudah lihat." Bukannya menjawab Reza malah tertawa. Ia sebenarnya juga cukup kaget, tidak menyangka Andra akan bergerak secepat itu dalam hubungan. Tapi ia maklum saja mungkin memang cara pria yang tak pernah berpacaran begitu.
"Kenapa malah tertawa, apa kau tidak penasaran dengan mereka?"
"Tidak." peffttt... Reza tak lagi bisa menahan tawanya. "Hahahaha..."
Alex kesal karena terus ditertawakan oleh Reza. Padahal jiwa kepo nya sudah membludak sedari tadi. Ia pun bertanya pada sang empunya.
"Apa kamu sudah mengakhiri status jomblo mu?"
Andra tak menjawab, ia sudah selesai berganti pakaian. Sudah kembali rapi dan bersih, ia berbalik menghampiri temannya.
"Bukankah sudah jelas." Dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Si*lan... awas kau, aku rasa hidup ku sekarang tak akan mudah." Gerutu Alex. Ia amat kesal melihat Andra yang memamerkan kebahagiaan nya.
Sabil masih patuh menunggu, ia juga heran kenapa begitu patuh pada kakak kelasnya itu.
Andra keluar dari ruang ganti dan langsung menghampiri Sabil. Tampak Sabil yang terlihat melamun, Cantik pikir nya. Sampai tak menyadari Andra sudah ada di dekatnya.
"Ayoo..." Ujar Andra.
Suaranya berhasil mengagetkan Sabil yang asyik melamun.
__ADS_1
"Seperti nya aku pulang sendiri saja kak, permisi..." Setelah berpikir sebentar ia rasa tak akan baik bila teman teman nya melihatnya pulang bersama Andra.
Setelah berbicara seperti itu, Sabil segera berdiri dan hendak pergi.
"Bukankah aku bilang itu bukan tawaran tapi perintah. Ayo!"
Sekarang Andra yang berjalan mendahului Sabil.
Bingung? Tentu, itu yang Sabil rasakan. Kenapa pria itu begitu memaksa. Mau tak mau ia berjalan mengikuti Andra di belakangnya, tapi ia agak sedikit menjaga jarak dari nya.
Andra tersenyum tanpa menoleh, begitu merasa gadis itu mengikuti nya.
Jarak ruang ganti dan parkiran tak begitu jauh, kini mereka sudah sampai di dekat mobil sport berwarna biru. Sabil bersyukur, karena di parkiran sedang tak begitu ramai.
"Bagaimana dengan sepeda ku kak?" Tanya Sabil, ia masih berharap tak perlu satu mobil lagi dengan kakak kelasnya.
"Nanti akan ada yang mengantarnya ke tempat mu." Jawab nya mudah, kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Sabil.
"Tapi itu akan merepotkan, aku masih bisa mengendarainya sendiri." Ujar Sabil lagi, terus membuat alasan.
"Naiklah."
"Tapi kak..."
Sabil masih kekeh dengan pikirannya.
"Ke parkiran dan antarkan sepeda Sabila ke rumah nya!"
Tut,Tut....
Tanpa menunggu jawaban dari sebrang sana ia sudah memutuskan panggilan telepon nya.
"Ayo masuk, sebentar lagi parkiran ini semakin ramai." Ujar Andra.
"Iy..iya.. kak."
Semoga tidak ada yang melihat.
Sabil hanya diam tak berani bersuara di dalam mobil. Lagi pula ia tak begitu dekat dengan Andra, jadi tidak tau mau bicara apa.
Andra juga fokus memperhatikan jalanan yang sudah mulai ramai, mungkin sebentar lagi mulai macet. Ia juga tidak tau kenapa ingin mengantarkan Sabil saat ini, tapi ia senang berada di dekat gadis itu.
"Kenapa kau tidak ke perpustakaan hari ini?" Tanya Andra tanpa menoleh, ia masih menatap jalanan di depannya.
__ADS_1
"Hahh... " Apa aku tidak salah dengar? berarti kak Andra menunggu ku di perpustakaan.
"Kenapa tidak ke perpustakaan?" Andra mengulangi pertanyaannya.
"Tidak kak, hari ini aku menemani Rani di kelas."
"Aku juga melihat nya tadi." Ujar Andra lirih, tak begitu terdengar oleh Sabil.
"Kenapa kak?"
"Tidak!"
Sabil menaikkan alisnya, Apa tadi aku salah dengar.
"Bagaimana kabar mom Rahmi?" Ya Sabil merindukan sosok ibu barunya. Jika biasanya tiba-tiba wanita itu datang ke toko ayahnya, dan akan mengajak Sabil menemani nya mengobrol. Tapi beberapa hari ini ia tak datang, hanya para pegawainya yang datang setiap hari untuk membeli kue.
"Mommy sedang tidak sehat beberapa hari ini, kesehatan nya menurun. Dan harus di rawat di rumah sakit."
"Apa? Sakit apa? Apakah parah? Maaf aku tidak tahu Mom Rahmi sakit." Wajah Sabil berubah sendu, bagaimana bisa ia tak tau orang yang sudah baik padanya dan sudah di anggap ibu olehnya, malah ia tidak tau jika sedang sakit.
"Tidak apa-apa, memang keadaan fisiknya amat lemah sekarang. Mommy sudah sering keluar masuk rumah sakit. Dan itu mungkin karena aku..." Terdengar nada yang menyedihkan saat Andra mengatakan bahwa, keadaan mommy nya saat ini akibat ulahnya.
"Tidak kak, Mom Rahmi sangat menyayangi kak Andra. Meski beliau tak pernah menceritakan apa masalah sebenarnya antara kakak dan mom. Tapi aku tau, terdapat penyesalan yang amat besar dalam tatapan matanya. Dan kerinduan yang besar setiap ia menceritakan kakak."
"Aku harap kak Andra bisa memaafkan mom Rahmi sepenuhnya,lalu menyayangi dan menemaninya seterusnya."
Andra menarik sudut bibirnya, ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Sabil.
"Baiklah." Ujarnya, menengok sebentar seraya mengusap kepala Sabil.
"Apa kau ingin melihat nya?"
"Ehh.. Apa boleh?" Tanya Sabil agak ragu.
"Tentu, mommy pasti senang melihat anak gadisnya datang."
"Baik aku mau, nanti aku akan minta ijin dulu pada ayah." Ujar Sabil tersenyum senang.
Mereka sudah sampai di depan toko kue pak Mul. Andra menepikan mobilnya.
"Aku masuk dulu kak, nanti setelah mendapat ijin aku segera kembali." Senyum nya terus menghiasi wajah manis nya.
Andra melihat nya gemas, ingin sekali ia mencubit gemas pipi yang terdapat lesungnya itu. Iya mencubit... Yakin? Iya memang apa lagi.
__ADS_1
°°°
Xiexie 😍