
°°°
"Maaf kak, aku ketiduran." Sabil merasa tak enak sudah membuat Andra menggendongnya ke kamar. Pasti berat, pikirnya.
"Sampai kapan kau akan terus meminta maaf, minum teh hangat ini dan makan cemilannya sebelum kita pulang." Ujar Andra. Ia sama sekali tidak keberatan saat mengendong Sabil yang tertidur. Bukankah ia sudah mendapat imbalannya.
Sabil mengangguk dan mulai menyesap teh yang tersedia di meja.
,,,
Mereka keluar ruangan.
Sabil berjalan di belakang Andra dan menunduk, ia merasa malu karena sudah tertidur di kantor nya tadi.
Para karyawan yang melihat tuan mudanya lewat tentu langsung membungkuk hormat.
Sabil masih berperang dengan pikirannya sendiri. Sampai tak sadar di depannya ada sebuah tiang besar.
Untung saja Andra sadar gadis di belakang nya itu berjalan sambil melamun. Dengan sigap ia mengangkat dan meletakkan tangannya untuk melindungi dahi Sabil, agar tidak terbentur.
Apa jadinya jika kulit mulus gadisnya lecet sedikit saja. Tentu Andra tak rela.
Sabil pun terkejut, sebuah tiang tepat berada di depannya. Untung dahinya tak membentur tiang itu. Ia sadar ada sebuah tangan yang melindunginya. Lalu mengarahkan pandangannya pada si pemilik tangan.
"Apa yang kamu pikirkan Sabila?? Sampai hampir menabrak tiang sebesar ini."
Sabil hanya tersenyum malu karena ketahuan melamun. Memamerkan gigi kelincinya yang amat manis.
Andra gemas seketika, melupakan kemarahan nya pada sang gadis yang hampir menyakiti dirinya sendiri. Hidung kecil Sabil menjadi sasaran, cubitan kecil mendarat di sana.
Pemandangan itu tak luput dari mata para karyawan. Mereka melihat sosok lain dari diri pria yang dingin dan kaku. Perhatiannya pada gadis kecil itu membuat iri siapa saja yang melihat.
Pak Tantan yang melihat pun tersenyum, ia tau siapa Sabila dan sangat senang melihat kedekatan nya dengan tuan muda.
Andra menggandeng tangan Sabil, tak ingin gadis itu celaka sedikit pun. Sabil baru menyadari jika kini banyak mata yang memandang nya, ia semakin malu sekarang. Hanya menundukkan kepalanya untuk menutupi pipinya yang memerah.
Sekarang mereka sudah berada di lift, tapi bahkan Andra tak melepaskan genggaman tangannya. Sabil gugup, meski sudah sering sedekat ini dengan pria itu tetap saja jantung nya tak bisa di kontrol.
__ADS_1
Sabil perlahan menarik tangan nya, tapi semakin ia menarik, Andra justru semakin mengeratkan genggaman nya.
"Kak bisa lepaskan tanganku, aku janji tidak akan melamun lagi." Ujar Sabil seraya menunjukan dua jari nya.
Andra tak menjawab, ia justru menarik tangan Sabil sehingga tubuh nya semakin berdekatan.
"Kau tau, aku tidak akan membiarkan sedikit pun kamu terluka." Tatapan tajamnya mampu membuat Sabil menurut dan mengangguk pasrah.
Sabil menunduk tentu saja ia tidak bisa menatap wajah Andra dengan jarak sedekat itu. Jantung nya sudah seperti ingin melompat saat ini.
Sebuah jari mengangkat dagu Sabil.
"Lihat aku." Ujar Andra.
Sabil memberanikan diri menatap lelaki itu, pandangan mata mereka saling mengunci. Bagai sihir, seakan waktu berhenti berputar. Mereka saling pandang dengan tatapan penuh arti, ya ada rasa yang aneh pada saat mata mereka bertemu. Tanpa sadar wajah Andra mendekat, entah perintah dari mana kini mata Sabil pun sudah tertutup. Namun...
Ting
Pintu lift terbuka, membuat Andra hanya mengusap pipi merah merona Sabil.
Sontak Sabil merutuki kebodohan nya sendiri.
Kenapa tadi aku menutup mata, Sabil apa yang kau pikirkan... teriak Sabil dalam hati.
,,,
Langit telah berubah menjadi jingga saat ini.
Di mobil, mereka berdua sama-sama berdiam diri. Terasa sekali kecanggungan sedang melanda mereka. Untung saja jalanan tak terlalu ramai, sehingga waktu sampai toko kue ayah Sabil tidak terlalu lama.
Sabil dan pak Mul memang masih menempati rumah yang berada di belakangnya toko kue.
Mereka enggan untuk berpindah, bukan karena tak mampu tapi karena kenangan yang tak akan pernah tergantikan.
"Terimakasih kak, sudah menemani ku hari ini." Ujar Sabil setelah mobil berhenti tepat di depan toko kue yang semakin ramai bila sore menjelang.
Tak ada jawaban, Andra tersenyum hangat lalu mengusap kepala Sabil.
__ADS_1
"Masuklah, dan maaf karena membuat mu menunggu lama tadi."
"Iya kak." Sabil membalas tersenyum. Kemudian membuka pintu mobil dan segera keluar.
"Hati-hati kak," ujarnya lagi setelah turun.
Ia menunggu mobil itu melaju, melihat wajah tampan yang tak pernah membosankan itu sekali lagi.
Sabil memutar tubuhnya, dan berjalan masuk. Ia seakan tak peduli dengan banyaknya orang yang berada di toko sang ayah. Pikirannya entah kemana sekarang. Sampai Amel melihat Sabil yang sudah kembali pun heran.
Kenapa gadis itu. Pikir Amel. kemudian ia segera menghampiri Sabila.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hah.. kak Amel. Kenapa mengagetkan ku." Ujar Sabil.
"Kau yang melamun, dari tadi aku sudah memanggil mu."
"Hehehe... Maaf kak, aku tidak dengar." Sabil menyengir kuda.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Amel.
Seketika Sabil mengingat kembali kejadian di perusahaan Adiguna. Pipinya memerah membayangkan adegan itu.
"Heh... Malah senyum senyum sendiri."
Lagi-lagi Sabil tidak menjawab.
"Apa kau sakit, kenapa pipimu merah sekali?" Amel begitu khawatir lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Sabil.
Ehh tapi Sabil masih saja tersenyum sendiri.
Jatuh cinta memang terkadang tidak terduga, tidak bisa di raba hanya bisa di rasa, tidak terlihat dan tidak memihak. Namun terkadang bisa membuat orang tak bisa melihat, banyak yang rela mengorbankan segalanya demi cinta yang tidak tepat.
°°°
Xiexie
__ADS_1