Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab21 Kruuyuk Kruuyuk


__ADS_3

°°°


Setelah makan malam yang panjang dan mendebarkan menurut Sabil. Kini mereka duduk di sofa ruang keluarga.


Untunglah sang tuan muda sudah kembali ke kamarnya, kalau tidak Sabil pasti masih dilanda kegugupan.


Mom Rahmi tak berhenti mengajak Sabil mengobrol, jujur ia sangat nyaman, ia seperti menemukan sesosok ibu yang sudah lama tak ia rasakan.


"Sabil, kapan-kapan kau harus main lagi kemari. Mom senang sekali kau disini."


Sabil menganggukkan kepalanya, ya ia tak mungkin menolak di depannya.


Sesekali Sabil melirik pria paruh baya yang masih terlihat sangat gagah dan tampan di sebelah Mom Rahmi. Sabil pikir mungkin pria itu seumuran dengan ayahnya, namun dia terlihat lebih tampan, bersih dan rapi tak seperti ayahnya.


Mungkin uang memang dapat mempengaruhi segalanya.


Pria itu lebih banyak diam, sesekali tersenyum untuk menanggapi omongan istri nya. Matanya fokus pada layar televisi yang ada di ruangan itu. Nampak seperti siaran berita bisnis sekilas, Sabil pun tak begitu paham.


Ahh andai ibu masih ada pasti akan ada yang mengurus ayah dengan baik.


Namun bukan itu saja yang memenuhi pikiran Sabil, sejak ia melihat pria paruh baya yang minta di panggil Dad seperti kata mommy.


Ia seperti pernah melihatnya, wajah nya tak asing dalam pandangan Sabil.


Sabil merasa pernah melihat dan bertemu entah kapan itu. Apa mungkin? Tapi untuk apa kami bertemu.


"Nak, kau kenapa? Ayo minum lagi, minuman ini adalah resep buatan Mom sendiri. Ini baik untuk kesehatan, dan menghangatkan tubuh. Mom juga membuatkan Dad Ray setiap malam."


Sabil terhenyak, melupakan sejenak rasa penasaran nya. Ia meraih gelas yang ada di depannya, menyesap minuman itu perlahan.


Terasa hangat di tenggorokannya, aromanya pun harum khas rempah-rempah. Sabil menikmatinya, ia suka, perutnya pun menghangat perlahan.


"Ini enak Mom," Sabil mengecap rasa minuman itu.


"Benarkah? Kau suka?"


Mata Mom Rahmi berbinar, entahlah Sabil tak mengerti. Mungkin karena pujiannya.


Sabil kembali menyesapnya, sampai tak terasa ia sudah menghabiskan minuman nya.


"Mommy senang sekali ada yang menyukai minuman ini, selama ini Dad Ray selalu terpaksa meminumnya, jika Mom memberikan ini." Raut wajahnya berubah sendu, membuat pria di sampingnya merasa bersalah.


"Siapa bilang, Daddy juga menyukai nya sayang," ucapnya, membelai lembut pipi istrinya.


Membuat sang wanita pun merona, ia merasa malu.


"Dad, ada Sabil di sini." Ia risih, suaminya kadang tak tahu tempat.


Dad Ray tak peduli, ia bahkan meraih pinggang istri nya, membuat jarak mereka semakin merapat.


Sabil tentu tak masalah, ia justru senang jika melihat hubungan sepasang suami-istri terlihat mesra dan hangat. Sungguh membuat kesan yang amat harmonis, bagi yang melihatnya.


Ia tersenyum, berusaha menyampaikan pada Mom Rahmi. Kalau ia tak apa.

__ADS_1


"Mom, Dad, berhentilah bermesraan di depan orang lain." Suara berat nan serak terdengar dari arah tangga.


"Lanjutkan di kamar saja," sindirnya.


Namun sindiran itu tak membuat Dad Ray bergeming. Tangannya masih setia berada di pinggang istrinya.


"Sayang..." panggil sang istri.


Akhirnya Dad Ray melonggarkan pelukannya. Nyalinya sedikit menciut melihat tatapan tajam sang istri, bisa-bisa ia tidur di lantai malam ini.


"Mom, seperti nya ini sudah terlalu malam, Sabil sebaiknya pulang. Kasihan ayah pasti menunggu."


"Ohh iya Maafkan Mommy yang terlalu asyik mengobrol."


"Sebentar biar mom panggilkan pak Jojo."


Mom Rahmi hendak beranjak, mencari supir yang biasa mengantar kemanapun ia pergi.


"Biar aku saja yang mengantarnya Mom," ujar Andra yang tadi sudah duduk di sofa singgle di ujung meja.


Mom Rahmi cukup terkejut, namun kemudian ia tersenyum.


"Baiklah tapi kau harus memastikan anak gadis Mommy selamat sampai rumahnya."


"Tentu Mom."


Eh apa ini, kenapa tidak ada yang menanyakan pendapat nya. Sabil menjerit dalam hati.


Belum juga Sabil membayangkan, bagaimana ia bisa dalam satu mobil bersama lelaki itu.


Tapi sang lelaki sudah lebih dulu beranjak.


"Sabil... "


"Iya Mom, Sabil permisi dulu Mom, D.. Dad." Sungguh ia masih amat canggung menyebut panggilan Dad.


Tubuhnya terasa berat saat memikirkan betapa sesaknya dalam mobil nanti.


"Ayo Mom antar ke depan," ujar Mom Rahmi merangkul Sabil berjalan.


"Andra itu sebenarnya baik, ia hanya tak mudah berteman dengan orang baru."


Rupanya sedari tadi Mom Rahmi merasakan kegelisahan gadis di sampingnya.


Sabil hanya menaikan paksa sudut bibirnya.


Berusaha menetralkan kegugupan nya.


Andra sudah masuk duluan dalam mobilnya. Itu bukan mobil yang biasa ia gunakan ke sekolah tampaknya. Berapa banyak mobil yang mereka miliki.


Namun bukan itu yang lebih penting sekarang, Sabil menggelengkan kepalanya.


"Naiklah nak."

__ADS_1


"Baiklah Mom, terimakasih untuk makan malamnya." Sabil memeluk Mom Rahmi sebelum memasuki mobil.


"Jangan mengebut An, berhati-hati lah membawa anak gadis Mommy." Dengan nada yang sedikit mengancam.


"Baiklah Mom, Andra tau. Andra jalan dulu."


Mesin mobil mulai menyala, suaranya terdengar sedikit bising. Itu mobil sport, tentu saja bising. Tapi Sabil tak tau ada berbagai jenis mobil, baginya sama saja asal bisa sampai tujuan dengan selamat.


Sabil melambaikan tangannya sebelum mobil yang di naiknya mulai menjauh.


Ternyata suaranya berubah menjadi lebih halus.


Pikiran Sabil setelah mobil itu melaju stabil di jalanan.


Suasana hening menyelimuti perjalanan malam itu. Keduanya sama-sama tak ada yang mengeluarkan suara.


Sabil merasa perjalanan pulangnya jauh lebih lama, dibandingkan saat tadi siang ia berangkat.


Kruuyuk,,,


Ahh kenapa perutku ini. Sabil berharap lelaki di sampingnya tak mendengar bunyi perutnya. Ia menoleh sedikit, memastikan lelaki itu mendengar atau tidak. Ia sungguh malu jika sampai bunyi perutnya sampai terdengar sang idola sekolah nya.


Huhh...


Sabil bernafas lega, ia rasa lelaki itu tak bereaksi apapun, menandakan ia tak mendengar bunyi-bunyian tadi.


Mungkin suara mobil ini sedikit menolongku.


Pikirnya.


Andra menghentikan mobilnya, kemudian ia membuka pintu mobil itu lalu pergi begitu saja, tanpa bersuara sedikit pun pada Sabil.


Ehh apa aku di tinggalkan sendirian di jalan ini, kenapa ia pergi begitu saja? Apa yang harus aku lakukan?


Sabil ketakutan, pikiran nya sudah kemana saja.


Bagaimana? Apa dia keluar dan berjalan kaki? Tapi itu terlalu jauh dari rumah nya, dan berbahaya bagi gadis yang jalan kaki seorang diri di malam hari.


Gadis itu mencoba menenangkan pikirannya, mengatur nafasnya yang tersengal.


"Aku akan menunggu nya sebentar lagi." gumamnya.


Beberapa saat kemudian Andra kembali, dengan beberapa kantong makanan di tangannya.


"Ini, aku tidak tau kau suka makan apa. Jadi aku membelinya beberapa."


Mata Sabil membulat seketika, pipinya memerah menahan malu. Itu artinya tadi kak Andra mendengar suara perutku.


Ahhh rasanya Sabil ingin menyembunyikan wajahnya di bawah kursi mobil itu saja sekarang.


°°°


Xiexie

__ADS_1


__ADS_2